25.1 C
Jakarta

Jarak yang Menyakiti

Menantikan Deklarasi Partai Gema Bangsa 17 Januari 2026

Baca Juga:

Pernahkah Anda membayangkan sebuah peta yang terbentang di atas meja kayu mahal di sebuah kantor di ibu kota? Di atas peta itu, sebuah garis ditarik, sebuah koordinat ditandai, dan sebuah kebijakan disahkan dengan sekali ketuk palu. Namun, bagi orang-orang yang hidup di dalam koordinat tersebut, ketukan palu itu bisa berarti segalanya: sawah yang berubah menjadi beton, hutan yang tidak lagi boleh dimasuki, atau aturan pasar yang membuat dagangan mereka tak lagi laku.

Masalah terbesar bangsa ini bukan hanya soal kekurangan sumber daya, tapi soal jarak.

Ada jarak yang terlalu lebar antara mereka yang membuat aturan dengan kita yang menanggung akibatnya. Keputusan-keputusan besar tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita mengelola air, dan bagaimana kita menyekolahkan anak, seringkali diputuskan di ruang-ruang kedap suara yang berpendingin udara, ribuan kilometer jauhnya dari debu jalanan dan aroma tanah yang kita hirup setiap hari.

Bayangkan seorang nelayan di pesisir yang lebih paham bahasa ombak daripada bahasa undang-undang, namun ia dipaksa mengikuti aturan yang dibuat oleh orang-orang yang mungkin belum pernah sekalipun mencium bau amis laut. Atau seorang petani yang tahu persis kapan tanahnya butuh istirahat, namun harus tunduk pada instruksi pusat yang hanya peduli pada angka target produksi di atas kertas.

Jarak ini menyakitkan. Ia menciptakan kebijakan yang “buta warna”—tidak mampu melihat perbedaan kebutuhan antara satu desa dengan desa lainnya. Ia menciptakan rasa frustrasi, karena suara kita seringkali hanya dianggap sebagai statistik, bukan sebagai manusia yang memiliki kearifan dan pengalaman.

Partai Gema Bangsa berdiri di atas keyakinan bahwa politik harus pulang.

Kami tidak percaya pada kepemimpinan yang hanya memerintah dari jauh. Kami percaya pada Desentralisasi Politik yang sejati. Ini bukan sekadar memindahkan kantor, tapi memindahkan kedaulatan. Kekuasaan harus dikembalikan kepada mereka yang paling terdampak oleh keputusan tersebut. Jika masalahnya ada di tingkat RT, solusinya harus bisa diputuskan di sana. Jika potensinya ada di komunitas desa, maka kendali ekonominya harus ada di tangan warga desa itu sendiri.

Kita harus berani memangkas jarak ini. Bukan dengan sekadar bersikap sopan dan menunggu diberi peran, tapi dengan merebut kembali hak untuk menentukan nasib kita sendiri.

Sudah saatnya keputusan tentang hidup Anda, dibuat di depan pintu rumah Anda, bukan di balik menara gading yang tak tersentuh. Karena hanya mereka yang merasakan panasnya matahari dan dinginnya hujan yang benar-benar tahu apa yang dibutuhkan oleh tanah ini.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!