30.5 C
Jakarta

Inkubator Technopreneurship Cetak Lulusan Mandiri

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Penguatan technopreneurship dinilai menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Suranto saat ditemui usai jumpa pers rencana pelantikan guru besar, Senin (19/1/2026), di RM Dapur Solo Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Prof. Suranto menegaskan bahwa hingga kini lulusan SMK maupun pendidikan vokasi masih menghadapi tantangan besar, yakni belum mampu secara signifikan menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Karena itu, pembelajaran melalui inkubator bisnis berbasis technopreneurship menjadi langkah penting untuk membekali lulusan dengan mental dan keterampilan wirausaha sejak dini.

“Wirausaha saat ini harus berbasis teknologi dan selaras dengan era digitalisasi. Ini diharapkan menjadi trigger lompatan agar lulusan SMK dan vokasi ke depan bisa mandiri, bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri,” ujarnya.

Ia menekankan, penguatan mental kewirausahaan menjadi fondasi utama. Dengan bekal tersebut, lulusan tidak hanya bergantung pada ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan untuk berinovasi sesuai potensi yang dimiliki.

Lebih lanjut, Prof. Suranto menyinggung rilis Bank Dunia 2025 yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua di dunia. Kondisi ini, menurutnya, harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen bangsa.

“Sebagai anak bangsa, kita perlu bersinergi sesuai profesi masing-masing. Bagaimana kemiskinan ditekan dan kesejahteraan ditingkatkan dengan cara-cara yang positif,” tegasnya.

Dalam implementasinya, inkubator bisnis yang dikembangkan mengusung model berlapis dan terintegrasi. Model berlapis dilakukan melalui pembelajaran di kelas atau bangku kuliah, sementara model terintegrasi dilanjutkan setelah lulus secara bertahap sesuai skenario yang diterapkan.

Inkubator tersebut juga menerapkan empat tahapan utama, yakni doing, empowering, facilitating, dan evaluating. Peserta didik diarahkan untuk berkarya sesuai bakat dan potensinya, kemudian diberdayakan, difasilitasi sesuai kebutuhan, serta dievaluasi secara terukur sebelum dan sesudah proses inkubasi.

“Dengan skema ini, kita ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga tangguh secara mental dan siap menjadi technopreneur,” pungkas Prof. Suranto. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!