29.1 C
Jakarta

UMS Dorong Riset Aplikatif Dukung UMKM

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktitbang) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, menegaskan pentingnya riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dalam sambutannya pada pengukuhan lima Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (20/1/2026), di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang menekankan bahwa pengembangan akademik di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya berorientasi pada capaian publikasi internasional, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, sekitar 99 persen struktur industri nasional ditopang oleh UMKM, sehingga riset sederhana, murah, dan aplikatif justru memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.

“Jangan dikira riset yang bagus itu harus rumit dan muluk-muluk. Riset teknologi sederhana yang membantu UMKM jauh lebih berdampak bagi bangsa,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar konsep teknologi tepat guna yang pernah berkembang di masa lalu dapat dihidupkan kembali. Kampus, kata Bambang, harus hadir sebagai pusat solusi dengan membina industri-industri kecil melalui inovasi teknologi yang terjangkau dan mudah diterapkan.

Pada aspek akademik, Bambang menyampaikan kebanggaannya atas capaian UMS yang saat ini tercatat sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah dengan jumlah guru besar terbanyak di antara 164 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Dengan sekitar 70 guru besar—termasuk yang telah wafat—UMS dinilai memiliki modal kuat dalam meningkatkan kualitas akreditasi dan reputasi akademik.

Ia juga menyoroti regenerasi akademik yang berjalan baik di UMS, ditandai dengan munculnya banyak profesor muda, khususnya di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Teknik. “Ini menunjukkan kesinambungan keilmuan yang sehat dan menjanjikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang menekankan pentingnya konektivitas antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam dalam visi akademik UMS. Ia mencontohkan kajian tafsir kontekstual yang mampu menjawab persoalan aktual seperti demokrasi dan Pancasila, tanpa terjebak pada pemahaman agama yang kaku dan tekstual.

“Agama perlu dipahami secara kontekstual dengan pendekatan sejarah dan sosiologi, agar benar-benar menjadi solusi bagi persoalan sosial,” katanya.

Selain isu riset dan keilmuan, Bambang juga menyinggung tantangan kesehatan masyarakat, khususnya meningkatnya kasus stroke akibat pola makan tidak sehat. Ia menilai edukasi kesehatan berbasis riset perguruan tinggi menjadi bagian penting dari kontribusi akademik bagi kesejahteraan masyarakat.

Pengukuhan lima guru besar ini, menurut Bambang, menjadi penanda bahwa UMS tidak hanya unggul dalam jumlah dan kualitas akademisi, tetapi juga memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan riset dan pendidikan yang relevan, kontekstual, dan berdampak nyata bagi umat dan bangsa. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!