27.1 C
Jakarta

Brainlyt Mahasiswa UMS Raih Perak GYIIF 2026

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Capaian tersebut ditorehkan Tim Brainlyt, yang sukses menyabet medali perak dalam Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) 2026 kategori Engineering and Technology.

GYIIF adalah kompetisi internasional riset dan inovasi untuk pelajar dan mahasiswa. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Association. Gelaran tahun ini digelar di Institut Pertanian Bogor University pada 15-18 Januari 2026.

Ketua tim, Hafidh Erli Nurdin Pratama, menjelaskan timnya menggagas inovasi bernama “Brainlyt”. Brainlyt adalah aplikasi yang terintegrasi dengan smartwatch dan dirancang untuk membantu deteksi dini risiko stroke berulang pada pasien pascastroke. Aplikasi ini mengadopsi konsep anamnesis medis menjadi model deteksi otomatis.

“Fungsinya adalah memantau tanda-tanda vital pasien dan memberikan notifikasi real-time kepada keluarga serta rumah sakit mengenai kondisi pasien dan langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan,” ujar Hafidh, Rabu (21/1).

Hafidh menuturkan gagasan Brainlyt berangkat dari keprihatinan atas kondisi masyarakat yang kurang memahami pertolongan pertama saat terjadi serangan stroke. Hal ini menyebabkan penanganan medis seringkali terlambat hingga terjadi hal fatal.

“Padahal stroke memiliki golden period penanganan yang krusial. Oleh karenanya, kami menciptakan konsep deteksi dini dan notifikasi bantuan darurat ini,” imbuh mahasiswa semester 5 itu.

Hafidh kemudian mengajak lima mahasiswa UMS lainnya, yakni Arya Veda Setyanindito dari Prodi Pendidikan Teknik Informatika, Muhammad Cesarico Herlambang dari Prodi Fisioterapi, Dhiyaul Haq Athaullah dari Prodi Teknik Informatika, Nabil Okta Ramadhan dari Prodi Bisnis Digital, dan Urip Pamungkas Jati Dharma dari Prodi Fisioterapi, untuk merancang Brainlyt. Tim tersebut berada di bawah bimbingan dosen Fisioterapi UMS, Arif Pristianto, S.ST.Ftr., M.Fis.

Inovasi bertajuk “Brainlyt: A Smart Brain AI System for Early Detection and Emergency Routing in Stroke Care” mulai dikembangkan sejak Oktober 2025. Sebelum melaju ke GYIIF, Brainlyt telah diikutkan dalam berbagai kompetisi lainnya, seperti Aldeation, yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan Prototype for Humanity, yang diselenggarakan oleh Dubai Future Foundation.

Pengembangan Brainlyt, kata Hafidh, menemui sejumlah tantangan. Tahapan uji coba skala kecil membutuhkan responden riil, yakni pasien dengan kondisi pascastroke. Tujuannya untuk memastikan akurasi alat dalam mendeteksi kondisi kesehatan pasien.

“Kami ingin alat yang kami buat tidak hanya sekedar alat yang jadi, melainkan melalui proses akademik yang kuat dan relevan serta diyakini keakuratannya di dunia akademisi,” jelas mahasiswa asal Brebes, Jawa Tengah, itu.

Hafidh menjelaskan aplikasi Brainlyt sedang dalam proses ajuan ke platform Google Playstore. Rencananya, Hafidh dan timnya akan mengembangkan fitur tambahan pada Brainlyt, mengikuti kompetisi internasional lainnya, serta menyelesaikan publikasi artikel ilmiah berbasis research and development sesuai dengan tahapan akademik.

Disinggung mengenai pengembangan skala industri alias hilirisasi, Hafidh berujar, “Saat ini kami sedang dalam proses pematangan rencana bisnis untuk komersialisasi produk,” jawabnya.

Dosen pembimbing, Arif Pristianto, S.ST.Ftr., M.Fis., mendukung sekaligus mengapresiasi komitmen Tim Brainlyt dalam menghasilkan aplikasi yang bermanfaat bagi pasien pascastroke. Inovasi Brainlyt, ungkapnya, menunjukkan kreatifitas mahasiswa dan kolaborasi lintas disiplin ilmu.

“Semoga (Brainlyt) tidak hanya berhenti di ajang ini (GYIIF), namun juga inovasi dapat dikembangkan dan diajukan dalam ajang kompetisi selanjutnya serta hilirisasi sampai dapat digunakan oleh masyarakat,” harap Arif optimis. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!