24 C
Jakarta

Keragaman dan Kesetaraan Ras Dalam Perspektif Islam

Baca Juga:

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*

 

NEW YORK, MENARA62.COM – Kemarin, Rabu 21 Januari saya kembali menjadi pembicara di PBB New York dalam sebuah Konferensi internasional tentang keragaman dan kesetaraan ras (Diversity and Racial Equality). Acara ini diinisiasi oleh Religions for Peace, sebuah organisasi non Pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang hubungan antar agama dan perdamaian. Acara ini sendiri diadakan sebagai bagian dari peringatan Hari Martin Luther (Martin Luther Day), pejuang kesetaran ras dan HAM di Amerika Serikat.

 

Pemilihan tema itu sangat menarik dan releven dengan dunia kita masa kini. Apalagi dalam konteks pemerintahan Donald Trump yang berbagai kebijakannya, khususnya di bidang imigrasi dinila kebijakan yang secara terbuka rasis. Bahkan secara umum rasisme di negara yang dikenal Master of Democracy dan Land of Dreams ini masih menjadi wajahnya yang paling nyata. Saya bahkan pernah menyebutnya sebagai “original sin” atau dosa asal/turunan Amerika.

 

Sadar atau tidak, saat ini dunia kita adalah dunia global. Dunia yang bersifat paradoksikal. Di satu sisi dengan globalisasi, dunia semakin terasa menyempit sekaligus saling terkoneksi (interconnected). Namun di sisi lain dunia global itu juga diperhadapkan dengan keterbukaan dan inklusifitas, menjadikannya semakin beragam. Keragaman kebangsaan, ras dan etnisitas, budaya dan juga agama.

 

Keragaman dalam dunia yang terbuka ini memerlukan response dan sikap yang benar dan bijak. Menyikapi keragaman secara salah dan ugal-ugalan bisa saja menyebabkan gesekan-gesekan sosial yang tidak diharapkan. Gesekan-gesekan sosial ini bisa terjadi dalam bidang ekonomi, politik, bahkan lebih runyam ketika menyebabkan konfik bersenjata (armed conflict).

 

Keragaman Dalam Pandangan Islam

 

Islam menempatkan keragaman manusia (human diversity) tidak saja sebagai fenomena sosial. Tapi lebih dari itu keragaman dalam berbagai bentuknya justeru dipandang sebagai bagian penting dari keimanan. Dengan kata lan, menerima keragaman adalah bentuk keimanan.

 

Berikut saya sampaikan beberapa dasar penting dalam Islam dalam menyikapi keragaman dalam kehidupan manusia.

 

Pertama, keragaman diyakini sebagai sunnatullah (ketentuan Allah) dalam ciptaanNya. “Dan sekiranya Allah berkehendak niscaya Dia menjadikan kalian semua dalam satu umat” (Al-Maidah: 48). Menolak keragaman dimaknai sebagai penolakan kepada ketetapan Allah dalam ciptaanNya.

 

Kedua, keragaman itu merupakan salah satu bentuk ayatollah (tanda kebesaran Allah SWT). “Dan di antara tanda-tandaNya adalah penciptaan langit dan bumi dan perbedaan bahasa dan warna kalian” (Ar-Rum: 22). Menolak keragaman juga dimaknai sebagai penolakan kepada salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

 

Ketiga, Islam mengajarkan bahwa semua manusia, tanpa kecuali, diciptakan dari sumber penciptaan yang sama. “Dan Alah menciptakan kalian dari tanah” (Fathir: 11). Dan Karenanya secara mendasar manusia berasal dari ciptaan yang sama.

 

Keempat, Islam mengakui universalitas kekeluargaan manusia yang tunggal satu sisi. Namun pada sisi lain merangkul keragaman manusia. “Wahai manusia Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku..” (Al-Hujurat: 13). Menolak keragaman berarti menolak kekekuagaan kemanusiaan yang satu dan ragam.

 

Kelima, konsep Tauhid dalam Islam mengajarkan “Satu Tuhan-Satu Kemanusiaan”. Keimanan kepada Tuhan yang satu (One God) sekaligus mengajarkan kemanusiaan yang satu (One Humanity). Kemanusiaan yang satu ini diekspresikan dalam Al-Quran dengan “nafs wahidah” (An-Nisa: 1).

 

Keenam, ketauladanan Rasulullah dalam menyikapi keragaman tidak dapat tersangkal oleh siapapun. Beliau tidak saja merangkul keragaman itu. Tapi memperjuangkan dan membela kesetaraan. Satu contoh populer dalam sejarah adalah pembelaan beliau terhadap Bilal yang diperlakukan secara rasis oleh sahabat lain, Abu Dzar, dengan panggilan “anak dari seorang Ibu yang hitam”. Rasulullah mengingatkan Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, anda adalah orang yang masih memiliki kejahilan”.

 

Mungkin yang paling fenomenal adalah khutbah wada’ (final sermon) di padang Arafah di mana beliau mendeklarasikan hal yang hanya beberapa abad kemudian dideklarasian oleh PBB sebagai “Declaration of Human Rights”. Beliau menegaskan: “Tuhan kalian satu. Ayah kalian satu. Semua kalian adalah keturunan Adam dan Adam tercipta dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas non Arab atau sebaliknya. Dan tidak ada kelebihan orang putih di atas orang hitam dan sebaliknya. Kelebiha itu hanya dengan ketakwaan di antara kalian”.

 

Ketujuh, konsep komunitas atau kebangsaan yang satu (ummah wahidah) dalam Islam melampaui semua batas-batas kemanusiaan, termasuk batas rasial. Semua yang menjadi bagian dari umat ini memiliki posisi yang setara dalam agama. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa” (Al-Hujurat: 13).

 

Keragaman Agama Dalam Pandangan Islam

 

Islam tidak mengajarkan jika semua manusia akan menerima agama ini. Islam bahkan mengajarkan keragaman agama sebagai bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah) dalam kehidupan, sebagai ujian dan jalan bagi manusia untuk berkompetisi dalam kebaikan. Islam dengan tegas mengajarkan bahwa merupakan hak tunggal Allah untuk menentukan siapa yang menerima hidayah dan siapa yang tetap dalam kesesatan.

 

Dalam menyikapi keragaman agama Islam mengajarkan beberapa pegangan penting.

 

Pertama, Islam mengajarkan bahwa agama itu satu. Yaitu meyakini Tuhan yang Satu dan berserah diri secara totalitàs kepadaNya. Itulah esensi dasar Islam. “Rasulullah mengimani apa yang diturunkan kepadanya, juga orang-orang beriman..semua mengimani Allah,

MalaikatNya, Kitab-kitabNya, dan Rasul-RasulNya. (Mereka berkata): kami tidak membeda-bedakan di antara mereka” (Al-Baqarah: 286). Karenanya Islam merangkul semua nabi/rasul dan Kitab suci.

 

Kedua, sebagaimana agama lain, termasuk agama Kristen, Islam diyakini sebagai agama misi (missionary). Tapi misi Islam bukan mengkonversi orang lain. Melainkan menyampaikan secara terbuka dan lurus tetang apa itu Islam. Selebihnya, menerima atau menolak Islam itu adalah kebebasan masing-masing manusia. Al-Quran menyampaikan: “siapa yang berkehendak hendaklah beriman. Dan siapa yang berkehendak kafir juga silahkan”.

 

Ketiga, Iman dan keyakinan dalam pandangan Islam adalah “kesadaran batin” yang tidak mungkin dipaksakan. Karenanya harus terbangun berdasarkan “kebebasan” (freedom). Untuk itu Islam dengan tegas melarang paksaan beragama. (al-Baqarah: 226).

 

Keempat, Islam mengakui dan menghormati eksistensi agama-agama lain. Mengakui dan menghormati bukan berarti membenarkan dan meyakini. Tapi memberikan ruang pada orang lain untuk meyakini dan mengikuti agama masing-masing. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Al-Kafirun: 5).

 

Kelima, konsep kesalehan dalam Islam bersifat Universal. Karenanya pada setiap Komunitas ada kesalehan pada aspek kehidupan sosial. Walaupun secara Akidah dan ritual masing-masing agama meyakini kebenaran mutlak, namun secara sosial kesalehan tidak didominasi oleh Komunitas tertentu. “Wahai manusia…sesungguhnya yang termulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa”.

 

Keenam, konsep ketuhanan dalam Islam adalah ketuhanan yang bersifat inklusif dan universal. Karenanya Tuhan dalam Islam tidak pernah dibatasi oleh batasan ras, etnis dan lain-lain. Tuhan itu adalah Tuhan semesta alam (Rabbul alamin) dan Tuhan manusia (Rabbu an-naas). Sehingga tidak harus merasa Tuhan hanya milik sendiri dan bukan bagi orang lain.

 

Ketujuh, Islam memandang semua manusia tanpa kecuali dengan pandangan positif (positive view). Bahwa semua manusia terlahir dalam keadaan baik, suci atau fitrah. (ar-Rum: 30). Yang membedakan kemudian adalah pilihan hidup. Ada yang tetap sejalan dengan Fitrah, dan ada pula yang keluar dari fitrah manusia.

 

Rasisme itu kejahatan (evil).

 

Berdasarkan semua hal yang disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa rasisme dan kebencian kepada orang lain karena beda agama adalah kejahatan (evil). Kita tersadarkan oleh sejarah manusia yang penuh dengan tendensi dan prilaku rasis, yang menyebabkan terjadinya berbagai keburukan (evil). Sekali lagi, salah satunya yang saat ini nampak di hadapan mata kita adalah perlakukan kepada Komunitas Imigran non-White di bawah pemerintahan Donald Trump.

 

Bahkan dalam Al-Quran disebutkan bahwa dosa dan penentangan Iblis kepada perintah Tuhan pertama kali dalam sejarah adalah rasisme. Iblis menolak perintah Allah untuk sujud penghormatan (sujuud ikraam) kepada Adam karena sikap dan karakter rasisnya yang merasa lebih hebat karena penciptaannya dari api. Sementara Adam diciptakan dari tanah (al-A’raf: 12).

 

Demikian ringkasan presentasi yang saya sampaikan kemarin di Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. Semoga membawa manfaat dan keberkahan, serta menjadi jalan hidayah dan kebaikan untuk semua. Amin!

 

New York City, 21 Januari 2026

 

*Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!