SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kuliah Umum Stadium General bertema “Persiapan Menghadapi Dunia Kerja Di Era Digital” bersama Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Seminar Ahmad Syafii Maarif lantai 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Jumat (30/1), dan diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas.
Dalam paparannya, Yassierli menyoroti tantangan ketenagakerjaan nasional yang masih dihadapkan pada persoalan pengangguran dan keterbatasan lapangan kerja. Ia menegaskan bahwa sebagai negara besar, Indonesia memiliki potensi besar, namun transformasi ketenagakerjaan memerlukan proses dan kesiapan sumber daya manusia.
“Indonesia ini negara besar, dan perubahan ketenagakerjaan itu tidak bisa instan, semua butuh waktu dan proses,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini tengah mengalami perubahan besar yang didorong oleh tiga faktor global utama, yakni disrupsi kecerdasan buatan dan digitalisasi, transisi hijau dan keberlanjutan, serta perubahan demografi dan pergeseran care economy.
“Tiga global drivers ini mengubah secara mendasar lanskap dunia kerja yang kita kenal selama ini,” katanya.
Menurutnya, perubahan tersebut berdampak langsung pada empat sektor utama, yakni ekonomi digital dan kreatif, ekonomi hijau, biru, sirkular dan berkelanjutan, ekonomi berkelanjutan, serta ekonomi berbasis perawatan dan manusia.
“Arah pertumbuhan pekerjaan ke depan akan banyak bertumpu pada sektor-sektor ini,” ungkapnya.
Yassierli menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya mengikuti arus perubahan, tetapi harus memiliki keunikan dan keunggulan personal. Ia mendorong mahasiswa UMS untuk berani tampil berbeda.
“Pesan saya, adik-adik harus be unique, be different, and be a champion di bidang masing-masing,” tegasnya.
Ia juga memaparkan data mengenai cepatnya perubahan jenis pekerjaan akibat perkembangan teknologi. Berdasarkan data LinkedIn, sekitar 80 persen pekerjaan yang saat ini tumbuh belum ada 20 tahun lalu, dan 10 persen pekerja sekarang memiliki jabatan yang belum dikenal pada tahun 2000.
“Dunia kerja terus berubah, dan data ini menunjukkan betapa cepat perubahan itu terjadi,” jelasnya.
Dalam konteks ekonomi digital, Yassierli menyebut pertumbuhan pesat ekonomi platform digital seperti e-commerce, media daring, perjalanan online, transportasi, dan layanan pesan antar makanan sepanjang 2015 – 2023.
Ia menambahkan bahwa Indonesia secara konsisten menunjukkan sektor e-commerce terbesar dibandingkan negara-negara tetangga.
“Ekonomi platform digital tumbuh sangat cepat, dan Indonesia menjadi salah satu pemain terbesar di kawasan,” ujarnya.
Terkait tren ketenagakerjaan, ia menyoroti menguatnya gig dan freelance economy, meningkatnya pekerja jarak jauh lintas negara, serta pola kerja kontrak dan fleksibel. Ia juga menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi keterampilan esensial bagi tenaga kerja masa depan.
“Sebanyak 69 persen pemimpin di Indonesia menyatakan tidak akan merekrut seseorang tanpa keterampilan AI,” kata Yassierli.
Ia menambahkan bahwa dunia kerja kini lebih menekankan keterampilan dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan formal.
“Sekarang zamannya skills, not schools, yang dilihat adalah apa yang bisa Anda kerjakan,” tuturnya.
Menutup paparannya, Yassierli mengajak mahasiswa untuk meninggalkan pola pikir tetap dan beralih ke growth mindset agar mampu beradaptasi dengan perubahan. Ia mengingatkan bahwa lebih dari 50 persen keterampilan akan berubah di masa depan dan sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi hilang atau terotomasi pada 2030.
“Growth mindset adalah kunci agar kita bisa bertahan dan menciptakan peluang baru di tengah perubahan,” pungkasnya. (*)

