SOLO, MENARA62.COM – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Yudisium PPG Calon Guru dan Tertentu di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (31/1).
Dekan FKIP Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Pd. menjelaskan UMS meluluskan sebanyak 10.855 mahasiswa PPG. Jumlah tersebut terdiri atas 281 calon guru dan 10.574 calon guru tertentu. Jumlah tersebut membuat total lulusan PPG UMS sepanjang 2007-2025 mencapai lebih dari 130 ribu lulusan.
“Kami telah membantu pemerintah untuk menerbitkan lebih dari 130 ribu sertifikat profesi guru, sejak 2007 hingga 2025, dan tersebar di seluruh Nusantara,” jelas Anam.
FKIP UMS, kata Anam, terus mendukung pengembangan dan pembinaan alumni PPG UMS. Hal ini terwujud melalui pendirian Balai Pengembangan Profesi Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertujuan untuk memberikan pelatihan, workshop, dan kegiatan akademik lainnya.
Program beasiswa S2 juga menjadi salah satu dukungan untuk membina alumni PPG UMS. Anam berkata beasiswa tersebut rencananya akan menggunakan skema rekognisi pembelajaran lampau (RPL). “Skema RPL memungkinkan masa studi lebih singkat menjadi hanya satu tahun,” imbuh dia.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya, mengajak lulusan PPG UMS untuk memanfaatkan potensi diri untuk kemaslahatan umat dan keselamatan peserta didik melalui pendidikan.
Harun mendorong para calon guru untuk terus mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama belajar guru di UMS. Harun juga meminta para calon guru untuk senantiasa mengamalkan hakikat pendidikan. Yaitu memartabatkan murid, memartabatkan kehidupan, dan transendensi.
“Sebaik-baik guru adalah yang memberikan manfaat bagi para pelajar melalui pendidikan,” tutur Harun dalam sambutannya.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengajak lulusan PPG UMS untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri. Menurutnya, tantangan yang dihadapi guru saat ini semakin berkembang.
“Anak-anak kita hari ini mungkin lebih cepat belajar dibanding guru-gurunya. Kalau guru-gurunya kalah langkah, maka muridnya merasa enggak mendapat apa-apa dari sekolah,” kata Fajar.
Seorang guru tidak terbatas pada operator kurikulum. Seorang guru harus menjadi inspirator, fasilitator, dan arsitek pembelajaran. Untuk mewujudkan hal tersebut, Fajar mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kemampuan metodologi dan pedagogik deep learning bagi para guru.
Paradigma pembelajaran di dalam kelas harus digeser. Guru harus mendorong para murid untuk melatih nalar kritis dan aktif mengajukan pertanyaan. Hal ini akan menunjukkan kualitas berpikir seorang anak.
“Saya pikir inilah tantangan bagi bapak ibu guru semua, mengembangkan kompetensi agar lebih kontekstual dan menghadirkan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” tandas Fajar. (*)
