SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Kuliah Umum dalam rangka Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun Akademik 2024–2025 bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., yang berlangsung di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS pada Sabtu, (31/1).
Dalam paparannya, Fajar menegaskan bahwa dunia pendidikan Indonesia saat ini masih dihadapkan pada persoalan ketimpangan yang membutuhkan keberpihakan kebijakan dari pemerintah.
“Pendidikan hari ini memerlukan kebijakan negara yang mampu mengatasi ketimpangan di dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan struktural, khususnya yang berkaitan dengan regulasi dan perundang-undangan di bidang pendidikan.
“Kami di kementerian pendidikan berusaha bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan struktural di Indonesia, terutama pada regulasi undang-undang bidang pendidikan,” kata Fajar.
Menurutnya, pembenahan regulasi tersebut memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang selama ini masih menghadapi ketidakpastian.
“Upaya ini kami lakukan untuk kemudian mennyejahterakan guru-guru kita, terutama guru honorer,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fajar menyampaikan bahwa pemerintah tengah melakukan restrukturisasi tata kelola guru sebagai bagian dari agenda besar reformasi pendidikan nasional.
“Kami di pemerintahan Indonesia melakukan restrukturisasi tata kelola guru, dan kami ingin mengupayakan tata kelola guru yang lebih adil,” tuturnya.
Restrukturisasi tersebut, lanjut Fajar, diarahkan untuk mengatasi persoalan ketimpangan distribusi guru di berbagai daerah.
“Salah satu fokus utama kami adalah mengatasi ketimpangan distribusi guru,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga menyinggung hasil riset Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan bahwa program sertifikasi guru selama ini belum sepenuhnya sejalan dengan peningkatan mutu pendidikan.
“Hasil riset BI menunjukkan bahwa program sertifikasi guru belum sejalan dengan mutu dan kemajuan pendidikan di Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa sertifikasi tetap menjadi instrumen penting dalam peningkatan kualitas pendidik.
“Ke depan, semua guru, ASN, dan tenaga kependidikan harus ikut sertifikasi,” tegasnya.
Fajar menekankan bahwa harapan terbesar dari seluruh kebijakan pendidikan adalah terpenuhinya hak anak-anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu.
“Di seluruh daerah negeri ini, semua anak menginginkan guru-guru terbaik demi mutu pendidikan bangsa,” katanya.
Ia juga berharap agar kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada peserta didik, tetapi juga pada kehidupan para guru.
“Harapannya, semua anak merasakan guru-guru terbaik dan para guru mendapatkan kesejahteraan bagi kehidupannya,” tambahnya.
Menutup kuliah umum, Fajar menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta yudisium PPG.
“Saya ucapkan selamat bagi bapak ibu yang hari ini disertifikasi guru melalui PPG,” ucapnya.
Ia juga memberikan pesan khusus kepada para guru untuk menjaga ruang pendidikan tetap aman bagi anak-anak.
“Pesan terakhir saya, mari selalu menjaga anak-anak kita dari kekerasan seksual, karena mereka adalah masa depan kita dan juga masa depan bangsa,” pungkasnya. (*)
