SOLO, MENARA62.COM — Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta, H Ahmad Sukidi, menegaskan pentingnya persiapan spiritual dan keyakinan penuh dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 H. Pesan tersebut disampaikan dalam ceramah Ramadan perdana di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta, Selasa (17/2/2026).
Dalam pengajian yang berlangsung khidmat itu, Ahmad Sukidi mengawali ceramah dengan doa serta ajakan untuk senantiasa memohon rahmat, hidayah, dan pertolongan Allah SWT, serta memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum peningkatan iman dan takwa.
“Puasa harus dijalankan dengan penuh keyakinan dan keikhlasan. Tidak boleh ada keraguan dalam melaksanakan ibadah yang telah diwajibkan Allah SWT,” tegasnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, puasa Ramadan dan salat tarawih serta witir merupakan bentuk pengabdian total seorang hamba kepada Tuhannya. Ia menilai, keraguan dalam beribadah justru dapat mengurangi nilai spiritual puasa itu sendiri.
KHGT sebagai Pedoman Resmi
Dalam ceramahnya, Ahmad Sukidi juga menyinggung penetapan awal Ramadan yang mengacu pada Kalender Hijrah Global Tunggal (KHGT). Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah telah menetapkan KHGT sebagai pedoman resmi dalam menentukan awal Ramadan dan hari besar Islam lainnya.
Masjid Balai Muhammadiyah di kawasan Keprabon, Surakarta, disebutnya sebagai “titik nol” gerakan dakwah Muhammadiyah saat ini. Dari tempat itulah, semangat pembaruan dan penguatan ibadah terus digelorakan kepada warga persyarikatan.
“Dengan KHGT, ibadah menjadi lebih terorganisasi dan serasi. Warga Muhammadiyah diharapkan mengikuti ketetapan ini demi persatuan dan ketertiban dalam beribadah,” ujarnya.
Dakwah Kreatif Sentuh Generasi Muda
Tak hanya menekankan aspek fikih dan ketentuan ibadah, Ahmad Sukidi juga menyoroti pentingnya dakwah kreatif untuk menjangkau generasi muda. Ia mendorong pemanfaatan media digital, termasuk platform seperti TikTok, sebagai sarana penyebaran pesan keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Anak muda harus disentuh dengan pendekatan yang sesuai dunia mereka. Dakwah digital menjadi keniscayaan,” katanya.
Ia menegaskan, puasa bukan sekadar kewajiban formal, melainkan cerminan keimanan. Orang yang mengaku beriman namun enggan berpuasa, menurutnya, perlu kembali merenungkan kualitas keimanannya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa hidup adalah pilihan antara beriman atau mengabaikan iman, yang akan menentukan nasib di akhirat kelak. Karena itu, istiqamah dan ikhlas menjadi kunci agar puasa diterima dan membawa keberkahan.
Ceramah ditutup dengan ajakan kepada seluruh jamaah untuk melaksanakan salat tarawih dengan penuh kesungguhan, menjadikan Ramadan sebagai sarana memperkuat iman, memperdalam takwa, dan meneguhkan komitmen dakwah di tengah masyarakat. (*)
