30 C
Jakarta

KHGT Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Baca Juga:

Oleh: Pujiono
Mahasiswa S3 PAI UMS/Pengasuh PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi

BOYOLALI, MENARA62.COM – Di era modern, hampir seluruh dunia menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pukul 00.00, sementara perubahan bulan dan tahun berlangsung secara administratif, tanpa menunggu matahari “terlihat” sebagai penanda langsung. Kesepakatan global itulah yang menjadikan kalender syamsiah kokoh dan seragam, menjadi fondasi peradaban modern di bidang ekonomi, pendidikan, politik, hingga teknologi.

Di sisi lain, umat Islam memiliki sistem kalender sendiri, yakni kalender qamariah yang berbasis peredaran bulan. Seluruh ibadah utama dalam Islam berpijak pada kalender ini, mulai dari Muharam, Safar, Rabiulawal, Ramadhan, Syawal, hingga Dzulhijjah. Puasa Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, bahkan wukuf di Arafah, semuanya ditentukan berdasarkan penanggalan hijriah.

Namun realitas menunjukkan, umat Islam yang jumlahnya lebih dari satu miliar jiwa belum sepenuhnya memiliki kesatuan global dalam penetapan awal bulan hijriah. Perbedaan metode dan kriteria kerap memunculkan disparitas waktu pelaksanaan ibadah di berbagai negara.

Di sinilah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) menemukan relevansinya. KHGT tidak sekadar proyek teknis astronomi, melainkan ikhtiar peradaban menuju kesatuan waktu umat Islam sedunia. Jika dunia mampu sepakat bahwa pukul 00.01 adalah hari berikutnya tanpa menunggu matahari tampak secara kasatmata, maka umat Islam pun sejatinya dapat membangun konsensus berbasis ilmu falak modern, hisab astronomis presisi, dan ijtihad kolektif.

Kalender bukan sekadar sistem penanggalan. Ia adalah simbol kedaulatan peradaban. Sejarah mencatat, ketika Khalifah Umar bin Khattab menetapkan kalender hijriah dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal, keputusan tersebut bukan hanya administratif, melainkan deklarasi identitas dan kemandirian umat.

Semangat yang sama tercermin dalam gagasan KHGT. Upaya menghadirkan kalender Islam yang tunggal dan terintegrasi patut diapresiasi sebagai langkah membangun identitas global umat dalam bingkai ilmu pengetahuan dan persatuan. Ulama, cendekiawan, dan ilmuwan falak telah berikhtiar merumuskan sistem yang dapat diterima lintas negara dan otoritas keagamaan.

Gagasan ini bukan bentuk penolakan terhadap kalender Masehi yang tetap digunakan dalam kehidupan sosial global. Namun sebagai umat yang ibadahnya berbasis qamariah, sudah semestinya umat Islam lebih peduli, bangga, dan akrab dengan kalender hijriah.

KHGT memang bukan tanpa tantangan. Dialog, kajian, dan penyempurnaan masih diperlukan. Namun peradaban besar selalu dimulai dari keberanian menyatukan visi. Fenomena bulan bersifat global, bukan lokal. Bulan tidak mengenal batas negara. Maka logikanya, kalender Islam pun idealnya bersifat internasional.

Momentum ini menjadi panggilan kebangkitan kesadaran waktu umat Islam. KHGT adalah babak baru peradaban kalender Islam—sebuah langkah menuju kesatuan global yang patut disambut dengan harapan dan dukungan penuh. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!