BOYOLALI, MENARA62.COM — Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMU) Manafi’ul ‘Ulum Sambi menggelar Kajian dan Sosialisasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) di Aula Masjid At-Taqwa, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan Mudir Ponpes, Ustaz Pujiono, sebagai narasumber utama yang dikenal aktif mengkaji isu falak dan kalender Islam kontemporer.
Acara diikuti seluruh civitas akademika PonpesMU serta para guru dari TK Aisyiyah PK Sambi, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Sambi, SMP Muhammadiyah 14, dan SMA Muhammadiyah PK Boyolali. Hadir pula Kepala TK Aisyiyah PK Sambi Mulyati, Kepala SMP Muhammadiyah 14 Ahmad Yasin, Kepala SMA Muhammadiyah PK Boyolali Ari Rosmawati, serta guru SD Muhammadiyah PK Sambi.
Kehadiran lintas jenjang pendidikan tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam memahami dan menyikapi wacana penyatuan kalender Islam secara ilmiah dan dalam koridor persyarikatan.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri PonpesMU, Sultan Agil Muzaki. Lantunan qiraah yang khidmat menguatkan suasana religius, sekaligus menegaskan bahwa pembahasan KHGT berangkat dari semangat kembali kepada tuntunan syariat.
Dalam pemaparannya, Ustaz Pujiono menjelaskan bahwa KHGT merupakan ikhtiar ijtihad kontemporer untuk mewujudkan kesatuan penanggalan Hijriah secara global. Menurutnya, umat Islam memerlukan sistem kalender yang unifikatif, berbasis ilmiah, dan dapat diterapkan secara internasional, sebagaimana kalender Masehi yang digunakan secara luas di dunia.
“Kalender Hijriah bukan sekadar penanda ibadah, tetapi simbol peradaban. Ketika umat Islam bersatu dalam sistem waktu, maka kesatuan itu akan berdampak pada ukhuwah dan tata kelola ibadah yang lebih teratur,” ujarnya.
Ia juga memaparkan dasar-dasar astronomis dalam perhitungan kalender, seperti konsep ijtimak (konjungsi) dan kriteria visibilitas hilal. Pendekatan hisab hakiki kontemporer, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan zaman modern.
Menurut Ustaz Pujiono, pemahaman ilmu falak perlu terus disosialisasikan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah agar generasi muda tidak hanya melek sains, tetapi juga kokoh dalam manhaj tarjih.
Sesi kajian berlangsung interaktif. Para guru dan peserta aktif menyimak penjelasan mengenai konsep KHGT, potensi perbedaan dengan metode rukyat lokal, serta implikasinya terhadap penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan literasi kalender Islam di lingkungan pendidikan Muhammadiyah kawasan Sambi dan sekitarnya. Dengan sosialisasi berkelanjutan, civitas akademika diharapkan tidak hanya menjadi pengguna kalender, tetapi juga memahami filosofi, landasan syar’i, serta argumentasi ilmiahnya.
Kajian ditutup dengan Shalat Zuhur berjamaah dan doa bersama, memohon petunjuk serta persatuan umat Islam dalam mengelola waktu sebagai bagian dari amanah peradaban. (*)
