BANDUNG, MENARA62.COM — Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mendorong umat Islam tetap kokoh memegang prinsip agama sekaligus terbuka terhadap perubahan zaman.
Menurut Dadang, agama tidak cukup hanya dipertahankan dalam ruang normatif. Agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Dadang saat meluncurkan buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Senin (5/10/2026).
Buku yang diterbitkan Suara Muhammadiyah tersebut merupakan refleksi Dadang selama puluhan tahun berkecimpung di Persyarikatan Muhammadiyah, sekaligus sebagai akademisi yang menekuni bidang sosiologi agama.
Dadang mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu memunculkan pertanyaan mengenai masa depan agama. Pertanyaan tersebut muncul sejak era positivisme, revolusi industri, perkembangan teknologi informasi, hingga kemunculan kecerdasan buatan atau AI.
Tiga Sikap Menghadapi Modernisasi
Dalam menghadapi modernisasi, sains, dan teknologi, Dadang melihat setidaknya terdapat tiga kelompok dengan respons berbeda.
Pertama, kelompok yang menolak modernisasi dan memilih mempertahankan kehidupan dalam ortodoksi. Kelompok ini cenderung menarik diri dari perkembangan zaman dan tidak beradaptasi dengan perubahan.
Kedua, kelompok yang larut dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga semakin menjauh dari agama. Menurut Dadang, fenomena agnostisisme dan ateisme menjadi salah satu contohnya.
Ketiga, kelompok yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Kelompok ini tetap kokoh dalam prinsip agama, tetapi terbuka terhadap perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan kehidupan.
“Ortodoksi dalam ibadah, tetapi kuat dan maju dalam muamalah. Teknologi, AI, dan berbagai kecanggihan zaman dimanfaatkan untuk kemajuan agama. Islam berkemajuan relevan dengan posisi ini,” ujar Dadang.
Ia menilai posisi tersebut sejalan dengan karakter Muhammadiyah yang tetap berpegang pada prinsip keagamaan, sekaligus mendorong kemajuan dalam kehidupan sosial.
Menurut Dadang, gagasan dalam bukunya tidak terlepas dari pengalaman panjangnya sebagai warga Muhammadiyah dan pengajar. Ia aktif di Muhammadiyah sejak dekade 1980-an, mulai dari tingkat ranting hingga dipercaya menjadi bagian dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Muhammadiyah Didorong Terus Hadirkan Pencerahan
Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Menurut Herry, buku tersebut mengajak pembaca merenungkan kembali posisi agama, Islam, dan Muhammadiyah dalam menghadapi masa depan yang ditandai perkembangan teknologi digital yang semakin masif.
Herry mengatakan Muhammadiyah memiliki peran penting untuk terus menghadirkan pencerahan, pembaruan, dan kemajuan di tengah perubahan masyarakat.
Hal itu, kata dia, juga tercermin dalam buku karya Dadang Kahmad yang membahas sejumlah persoalan strategis, mulai dari lingkungan dan pendidikan hingga tantangan teknologi digital.
Peluncuran buku tersebut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad beserta keluarga, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, serta Rektor Uhamka Jakarta Gunawan Suryoputro.
Hadir pula Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan beserta jajaran pleno PWM Jawa Barat, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, dan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Berung Tatang Zakaria.
Dari kalangan akademisi dan perguruan tinggi, hadir anggota Dewan Pendidikan Nasional Tiar Anwar Bachtiar, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muchlas Rowi, Rektor UAD Muchlas, Rektor UMMI Reny Sukmawani, Rektor UM Kuningan, serta Ketua STIKes Muhammadiyah Ciamis.
Sejumlah pimpinan perguruan tinggi dan akademisi UIN Sunan Gunung Djati Bandung juga turut hadir, di antaranya Ketua Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mahmud, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar, Direktur Pascasarjana Ahmad Sarbini, serta Dekan Fakultas Ushuluddin Wahyudin Darmalaksana.
Kehadiran pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah Jawa Barat serta pimpinan majelis dan lembaga PWM Jawa Barat turut memperkuat pesan utama peluncuran buku tersebut: agama tidak harus berjarak dengan kemajuan teknologi, tetapi perlu menjadi kompas agar kemajuan tetap berpijak pada nilai dan prinsip. (*)
