PURWOREJO, MENARA62.COM — Silaturahmi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kayuputih di bawah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rawamangun, Jakarta, ke PCM Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menjadi momentum bertukar strategi dalam mengembangkan dakwah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Kunjungan yang berlangsung Ahad-Senin (4-5/10/2026) itu tidak sekadar menjadi pertemuan antarpimpinan Muhammadiyah. Rombongan juga melihat langsung pengelolaan sejumlah AUM sekaligus berbagi pengalaman tentang pengembangan ranting, pembinaan jamaah, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan organisasi.
Rombongan PRM Kayuputih-PCM Rawamangun mengunjungi SD Muhammadiyah Kutoarjo, RS PKU Muhammadiyah Kutoarjo, Masjid Darussalam, serta Gedung Dakwah Muhammadiyah Kutoarjo.
Kegiatan tersebut turut melibatkan PCM Kutoarjo, PCA Kutoarjo, Keluarga Sekawan Kutoarjo, SD Muhammadiyah Kutoarjo, SMP Muhammadiyah Kutoarjo, dan RS PKU Muhammadiyah Kutoarjo.
Ketua PCM Kutoarjo, H. Moh. Mansur, S.Pd.I., mengatakan pertemuan tersebut bermula dari hubungan personal salah satu pengurus PRM Kayuputih-PCM Rawamangun yang memiliki rumah di Kutoarjo.
“Program ini tidak sengaja kami programkan, tetapi karena ada silaturahmi di salah satu pengurus PRM Kayu Putih Rawamangun Jakarta Timur yang kebetulan rumahnya di Kutoarjo. Sehingga silaturahmi sekaligus berkunjung ke Amal Usaha Muhammadiyah Kutoarjo,” ujar Mansur.
Menurut dia, hubungan personal tersebut kemudian berkembang menjadi kesempatan untuk mempertemukan dua lingkungan Muhammadiyah dari daerah berbeda.
Belajar dari Perjuangan Akar Rumput
Wakil Ketua PRM Kayuputih sekaligus Wakil Ketua PCM Rawamangun Jakarta, Zasirullah Salim, mengaku mendapat kesan mendalam dari kunjungan tersebut.
Ia melihat terdapat kesamaan dalam perjalanan Muhammadiyah di berbagai daerah, yakni perjuangan yang dimulai dari akar rumput dan berkembang melalui ketekunan para kader serta tokohnya.
“Kami melihat hampir sama terlihatnya Muhammadiyah di mana pun. Akar rumput itu berjuang secara gigih untuk mencapai tujuan bersama,” kata Zasirullah.
Menurut dia, perkembangan Muhammadiyah Kutoarjo menjadi inspirasi bagi PRM Kayuputih dan PCM Rawamangun. Berbagai sekolah, rumah sakit, masjid, dan layanan masyarakat yang kini berdiri merupakan hasil perjuangan panjang.
“Hal yang paling menonjol menurut saya ialah bagaimana perjuangannya itu berawal dari yang sangat sederhana sehingga melahirkan sebuah karya kemanusiaan di bidang layanan masyarakat, baik sekolah ataupun rumah sakit,” ujarnya.
Zasirullah menilai keteladanan para tokoh Muhammadiyah di Kutoarjo penting untuk diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Keikhlasan berkorban para tokoh Muhammadiyah di sini sungguh sangat inspiratif bagi kita kembangkan di tempat kami,” katanya.
Wakaf dan Legacy Tokoh Jadi Kekuatan
Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga melihat sejumlah warisan perjuangan tokoh Muhammadiyah yang masih memberikan manfaat bagi masyarakat.
Zasirullah secara khusus menyebut almarhum H. Suryadi sebagai salah satu tokoh yang meninggalkan legacy bagi Persyarikatan dan masyarakat.
“Kami sampaikan rasa syukur karena almarhum Bapak H. Suryadi dengan meninggalkan sebuah legacy yang demikian bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Zasirullah, warisan tersebut tidak hanya berbentuk aset, tetapi juga semangat membangun amal usaha dan kepedulian sosial.
Ia menyebut almarhum H. Suryadi turut memberikan perhatian terhadap pembangunan Islamic Center Al Madani Muhammadiyah Kayuputih.
“Pembangunan Islamic Center Al Madani Muhammadiyah Kayu Putih turut mendapatkan perhatian beliau, turut menyumbangkan hartanya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya wakaf, kepedulian tokoh, dan kontribusi warga Muhammadiyah dalam menjaga keberlanjutan Persyarikatan.
Dalam diskusi, semangat “BONEK” atau “Bondho Nekat” juga mengemuka. Istilah tersebut dimaknai sebagai keberanian untuk memulai gerakan dengan niat, tekad, dan keyakinan, terutama dalam membangun sarana dakwah dan pelayanan masyarakat.
Pengajian Jadi Denyut Kehidupan Ranting
Salah satu poin penting dalam pertemuan tersebut adalah penguatan pengajian sebagai indikator kehidupan ranting dan cabang Muhammadiyah.
Struktur organisasi dinilai tidak cukup tanpa aktivitas dakwah yang menyentuh langsung jamaah dan masyarakat.
“Ranting dan Cabang Muhammadiyah dianggap hidup kalau ada pengajiannya,” menjadi salah satu gagasan yang mengemuka.
Pengajian dipandang sebagai ruang menanamkan nilai keagamaan sekaligus membangun kedekatan antara pimpinan, anggota, kader, dan masyarakat.
Dari aktivitas tersebut diharapkan tumbuh kader, jamaah, kepedulian sosial, dan gerakan pemberdayaan masyarakat.
Lima Strategi PRM Kayuputih
Dalam forum tersebut, Zasirullah juga memaparkan pengalaman PRM Kayuputih dalam mengembangkan ranting.
PRM Kayuputih pernah meraih Juara II Ranting Muhammadiyah Award 2018 dan Juara I Ranting Muhammadiyah Award 2019.
Menurut Zasirullah, terdapat sejumlah strategi yang dikembangkan secara konsisten.
Pertama, membangun hubungan personal dengan tokoh berpengaruh di lingkungan sekitar. Komunikasi dengan masyarakat dinilai penting agar gerakan dakwah dapat tumbuh secara inklusif.
Kedua, menjaga kepercayaan masyarakat. Amanah yang diberikan kepada Muhammadiyah, termasuk wakaf, harus dikelola secara baik, transparan, dan terukur.
Ketiga, memperkuat sinergi dengan organisasi otonom Muhammadiyah, terutama ’Aisyiyah dan Angkatan Muda Muhammadiyah.
Keempat, memperluas kerja sama dengan ranting dan lembaga lain.
“Kerja sama dan kolaborasi adalah sebuah jalan yang niscaya bagi kemajuan sebuah gerakan. Dengan bekerja sama, jalan kita semakin sempurna,” ujarnya.
Kelima, memperkuat sumber daya manusia dakwah melalui pembinaan guru, ustaz, ustazah, dan imam masjid.
PRM Kayuputih juga berencana mengembangkan pelatihan manajemen dakwah digital untuk menjangkau dan mengelola potensi generasi muda.
Sinergi Persyarikatan dan Amal Usaha
Pertemuan tersebut turut membahas pentingnya hubungan antara Persyarikatan dan AUM.
PRM Kayuputih, misalnya, telah membangun kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) dan LPCR PWM DKI.
Semangat yang dibangun adalah kemajuan AUM harus berjalan seiring dengan penguatan Persyarikatan.
“Bersama Persyarikatan, amal usaha maju,” menjadi salah satu gagasan yang mengemuka.
Pengalaman PCM Rawamangun juga menunjukkan pengembangan AUM dilakukan melalui berbagai sektor, terutama pendidikan dan layanan masyarakat.
PCM Rawamangun berdiri sejak 1964 dan resmi disahkan melalui surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 25 Mei 1974. Saat ini PCM Rawamangun memiliki sembilan ranting.
Di bidang pendidikan, PCM Rawamangun mengembangkan sejumlah sekolah, antara lain SMP Muhammadiyah 31 Jakarta, SD Muhammadiyah 24, SMA Muhammadiyah 11 Jakarta, Sekolah Muhammadiyah Cariu di Bogor, serta Tahfidz Centre Muhammadiyah Cipinang.
Selain pendidikan, dikembangkan pula layanan Antar Jemput Siswa Muhammadiyah (AJISMA), layanan haji dan umrah, SM Corner Jakarta, hingga sejumlah aset produktif.
Pengelolaan organisasi juga didukung sentralisasi keuangan dan digitalisasi administrasi melalui sistem payroll terintegrasi.
Kutoarjo Terinspirasi
Mansur mengatakan pertemuan tersebut memberikan energi positif bagi Muhammadiyah Kutoarjo.
Menurut dia, pengalaman PRM Kayuputih dan PCM Rawamangun dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan dakwah dan AUM di Kutoarjo.
“Dalam sharing berbagi tentang perjuangan untuk membesarkan Amal Usaha Muhammadiyah di Kutoarjo maupun di PRM Kayu Putih Rawamangun Jakarta Timur, banyak hal yang kita bahas,” kata Mansur.
Ia menekankan pentingnya semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
“Muhammadiyah adalah suatu gerakan untuk fastabiqul khairat. Perlu perjuangan yang tangguh, perlu keikhlasan untuk membersamai amal usaha di masing-masing,” ujarnya.
Mansur berharap silaturahmi tersebut mendorong Muhammadiyah Kutoarjo untuk terus melakukan inovasi dan memperkuat gerakan Islam berkemajuan.
Empat Kunci Kepemimpinan Muhammadiyah
Dalam diskusi yang berlangsung di Aula Rapat SD Muhammadiyah Kutoarjo, turut dibahas dinamika perjalanan dakwah Muhammadiyah di wilayah tersebut.
PDM Purworejo menekankan empat karakter yang penting bagi pimpinan Muhammadiyah, yakni integritas, kapasitas, kemampuan berkolaborasi, dan keikhlasan.
Integritas diperlukan agar pimpinan konsisten menjaga amanah. Kapasitas dibutuhkan untuk mengelola organisasi dan mengambil keputusan. Kemampuan kolaborasi diperlukan karena Muhammadiyah memiliki banyak unsur, mulai dari pimpinan, kader, organisasi otonom, AUM hingga masyarakat.
Sementara keikhlasan menjadi landasan agar perjuangan Persyarikatan tidak semata berorientasi pada kepentingan pribadi.
“Harus punya integritas, harus punya kapasitas, harus bisa kolaborasi, harus ada keikhlasan. Suksesnya, kuncinya ada pada keikhlasan ini,” pesan yang disampaikan dalam forum tersebut.
Silaturahmi Buka Jalan Kolaborasi
Zasirullah berharap hubungan antara Muhammadiyah Kayuputih-Rawangmangun dan Muhammadiyah Kutoarjo tidak berhenti pada kunjungan tersebut.
“Semoga silaturahim kerja sama antar-ranting dan cabang Muhammadiyah Rawamangun akan berlanjut lagi dengan Muhammadiyah Kutoarjo, PDM-nya dan PCM-nya,” katanya.
Pertemuan dua hari itu memperlihatkan bahwa Muhammadiyah di berbagai daerah memiliki pengalaman yang beragam, tetapi menghadapi tujuan yang sama: menghidupkan dakwah, mengembangkan amal usaha, menumbuhkan kader, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Dari Kayuputih dan Rawamangun Jakarta hingga Kutoarjo Purworejo, silaturahmi menjadi ruang untuk saling belajar dan memperkuat jejaring Persyarikatan.
Lebih dari sekadar kunjungan, pertemuan tersebut membuka peluang kolaborasi dalam dakwah, pendidikan, sosial, kepemudaan, pembinaan masjid, pengembangan sumber daya manusia, dan pengelolaan amal usaha Muhammadiyah. (AMM/*)

