KLATEN, MENARA62.COM – Sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai akademik. Bagi siswa, sekolah juga menjadi ruang untuk belajar menghargai sesama, mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Pesan itu mengemuka dalam Seminar dan Motivasi Siswa yang digelar SMAN 1 Wedi, Kabupaten Klaten. Kegiatan tersebut mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari anti-bullying, anti-kekerasan, kesehatan mental, hingga motivasi meraih kesuksesan.
Seminar berlangsung pukul 08.00–12.00 dan diikuti para siswa serta perwakilan guru Bimbingan dan Konseling (BK). Kegiatan dimoderatori Dyah dari tim Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Direktur Sekolah Vokasi UMS Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., IPU hadir sebagai narasumber. Dengan pengalaman di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, Suranto mengemas materi secara komunikatif dan reflektif agar mudah diterima para siswa.
Tidak hanya melalui paparan materi, seminar juga diselingi sulap edukasi. Cara tersebut membuat suasana kegiatan lebih cair sekaligus membantu menyampaikan pesan-pesan motivasi dengan pendekatan yang dekat dengan dunia remaja.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah bahaya bullying dan kekerasan. Para siswa diajak memahami bahwa perundungan bukan sekadar candaan.
Ejekan mengenai fisik atau kondisi seseorang, pengucilan, kekerasan, hingga perundungan melalui media sosial dapat meninggalkan dampak psikologis bagi korban.
Karena itu, siswa didorong tidak hanya menjadi pihak yang menghindari bullying, tetapi juga ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat.
Keberanian untuk menghentikan perundungan, peduli terhadap teman, serta menghormati perbedaan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak.
Pesan lain yang ditekankan dalam seminar adalah pentingnya kesehatan mental. Para siswa diajak memahami bahwa rasa lelah, kecewa, takut, maupun kegagalan merupakan bagian dari proses kehidupan.
Yang terpenting, siswa mampu mengenali perasaan, mencari dukungan ketika menghadapi persoalan, dan tidak memendam masalah seorang diri.
Dalam konteks tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menciptakan lingkungan ramah anak.
Para siswa juga diajak tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Setiap individu memiliki potensi, tantangan, waktu, dan jalan sukses yang berbeda.
Seminar tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk membangun motivasi dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Pendidikan, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan itu, pada akhirnya tidak hanya diukur dari tingginya nilai yang tercantum di rapor. Pendidikan juga tercermin dari kemampuan seseorang memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain dengan baik.
Guru pendamping menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum bagi siswa SMAN 1 Wedi untuk tumbuh sebagai generasi yang mampu berprestasi tanpa merendahkan orang lain, kuat tanpa melakukan kekerasan, serta sukses tanpa kehilangan empati.
Melalui kegiatan tersebut, SMAN 1 Wedi menegaskan komitmennya membangun generasi yang cerdas secara akademik sekaligus memiliki karakter, ketahanan mental, kepedulian sosial, dan integritas.
Pesan yang dibawa pun sederhana: berani bermimpi, berani berproses, berani menjadi diri sendiri, serta berani menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying dan kekerasan.
Sebab, masa depan yang hebat membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki prestasi, tetapi juga karakter dan kepedulian terhadap sesama. (*)
