SOLO, MENARA62.COM – Pemberdayaan ekonomi perempuan pencari nafkah utama dan penyandang disabilitas netra terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital. Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah melalui Lembaga Bantuan Hukum Majelis Hukum dan HAM menggelar Expo and Closing Pelatihan Pemasaran Digital Inklusif di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di depan Loji Gandrung, Solo, Ahad (11/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum bagi peserta pelatihan untuk memperkenalkan produk usaha, memperluas jaringan pemasaran, sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan yang ditawarkan penyandang disabilitas netra.
Acara tersebut dimeriahkan dengan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta layanan pijat terapi oleh terapis tunanetra. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat melihat secara langsung potensi, keterampilan, dan kemandirian ekonomi kelompok yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan akses.
Ketua LBH Majelis Hukum dan HAM PWA Jawa Tengah, Dr. Siti Kasiyati, S.Ag., M.Ag., C.M., mengatakan, pelatihan pemasaran digital merupakan bagian dari rangkaian program pemberdayaan yang berangkat dari pendampingan hukum terhadap perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), korban kekerasan lainnya, serta penyandang disabilitas.
“Program ini berawal dari penanganan kasus-kasus yang dialami penyandang disabilitas dan perempuan korban KDRT. Setelah penanganan hukum, kami melakukan pemulihan psikososial serta pemulihan mental dan spiritual,” ujarnya.
Menurut Siti, pendampingan tersebut tidak berhenti pada aspek hukum dan pemulihan psikologis. Aisyiyah juga mendorong penyintas agar mampu membangun kemandirian ekonomi melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Tahapan program dilanjutkan dengan pemberdayaan ekonomi melalui sekolah wirausaha difabel, pelatihan keterampilan, hingga dukungan permodalan melalui program BPMT yang didukung Baznas.
Namun, kemampuan menghasilkan produk dan menjalankan usaha perlu diimbangi dengan keterampilan memasarkan produk. Karena itu, LBH Majelis Hukum dan HAM PWA Jawa Tengah bekerja sama dengan Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) serta CDEMCI Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk menyelenggarakan pelatihan pemasaran digital.
Pelatihan tersebut berlangsung dalam enam hingga tujuh kali pertemuan dan diikuti peserta yang telah memiliki produk usaha serta siap mengembangkan pemasaran secara digital.
“Setelah mendapatkan dukungan pemberdayaan ekonomi, kami merasa mereka juga membutuhkan keterampilan pemasaran. Karena itu, kami bekerja sama dengan AIBI dan CDEMCI untuk menyelenggarakan pelatihan digital marketing,” kata Siti.
Luncurkan Netrasa untuk Perluas Akses Layanan Pijat
Salah satu hasil yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah Netrasa, layanan pemesanan pijat terapi yang ditujukan untuk memudahkan masyarakat mengakses jasa terapis tunanetra.
Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat memesan jasa pijat secara langsung melalui aplikasi Netrasa. Inisiatif ini diharapkan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para terapis tunanetra sekaligus mempermudah masyarakat memperoleh layanan mereka.
Peluncuran Netrasa menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi digital untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan keterampilan yang dimiliki penyandang disabilitas netra.
Siti menjelaskan, program pemberdayaan yang dijalankan PWA Jawa Tengah melibatkan komunitas disabilitas netra, komunitas difabel Aisyiyah, serta perempuan pencari nafkah utama.
Secara keseluruhan, kegiatan pemberdayaan ini menjangkau sekitar 75 orang dari komunitas netra dan difabel Aisyiyah. Adapun pelatihan pemasaran digital secara khusus diikuti 46 penyandang disabilitas netra dan 29 perempuan pencari nafkah utama.
Para peserta perempuan tersebut merupakan pelaku usaha yang telah memiliki produk dan dinilai siap mengembangkan usahanya melalui strategi pemasaran yang lebih luas.
Melalui kolaborasi lintas lembaga, Aisyiyah berharap pendampingan yang diberikan dapat membangun ekosistem pemberdayaan yang menyeluruh, mulai dari bantuan hukum, pemulihan psikososial dan spiritual, penguatan ekonomi, hingga perluasan akses pasar.
Influencer Solo Apresiasi Pemberdayaan UMKM dan Tunanetra
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari influencer asal Solo, Bagus Sapto Nugroho. Ia menilai expo ini sebagai kegiatan inspiratif karena mempertemukan masyarakat dengan pelaku UMKM dan penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan serta usaha mereka.
Menurut Bagus, bazar UMKM dalam kegiatan CFD menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat secara langsung.
“Acara hari ini benar-benar keren dan inspiratif karena bisa bertemu dengan teman-teman tunanetra yang ternyata diberdayakan, dilatih keterampilannya, dan ada beberapa produk UMKM dari Solo Raya yang dipasarkan serta dikenalkan kepada warga sekitar CFD,” ungkap Bagus.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak pelaku UMKM dan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan untuk berkembang dan mandiri secara ekonomi.
“Semoga tetap berjalan terus untuk memberikan pemberdayaan kepada teman-teman UMKM dan juga teman-teman tunanetra,” katanya.
Melalui expo, bazar UMKM, layanan pijat terapi, dan pengenalan Netrasa, PWA Jawa Tengah berupaya menunjukkan bahwa pemberdayaan kelompok rentan tidak cukup dilakukan melalui bantuan semata. Akses terhadap keterampilan, teknologi, permodalan, dan pasar juga menjadi bagian penting agar perempuan pencari nafkah utama serta penyandang disabilitas dapat membangun usaha yang berkelanjutan. (*)
