30 C
Jakarta

Bertemu dengan Peserta Prima-Visi, Menteri Brian Tegaskan Transformasi Pendidikan Vokasi Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menerima kunjungan peserta Program Inspirasi Manajemen Visioner (Prima-Visi) dalam rangka penyampaian laporan Prima-Visi sebagai bagian dari penguatan kapasitas kepemimpinan pimpinan politeknik. Pertemuan ini berlangsung di gedung Kemdiktisaintek, Rabu (4/2).

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Brian menegaskan transformasi pendidikan vokasi harus menghasilkan dampak nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Mendiktisaintek juga menyoroti penguatan Teaching Factory (TeFa) sebagai ekosistem pembelajaran berbasis produksi yang sehat secara bisnis. Menteri Brian menilai bahwa TeFa harus menjadi mesin ekonomi nyata yang memungkinkan mahasiswa belajar melalui praktik langsung sekaligus mendukung keberlanjutan institusi.

“Kita harus mencari hal ikonik yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Teaching Factory saya pikir sesuatu yang harus diperkuat oleh politeknik. Tentunya harus sehat secara bisnis, teknologi, dan memberikan dampak ekonomi,” jelas Menteri Brian.

Direktur Politeknik Negeri Indramayu sekaligus ketua delegasi peserta Prima-Visi, Rofan Aziz memaparkan hasil pembelajaran dan praktik strategis yang diperoleh peserta selama mengikuti program. Paparan menyoroti pentingnya kepemimpinan visioner dalam mendorong transformasi pendidikan vokasi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global dengan mengacu praktik baik internasional.

Disampaikan pula peran strategis kemitraan sebagai penggerak inovasi, pengembangan talenta, dan dampak ekonomi. Melalui pendekatan model kemitraan 5C (Co-Design, Co-Location, Co-Funding, Co-Creation, dan Co-Prosper) peserta mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, regulator, dan pendanaan untuk membangun ekosistem pendidikan vokasi yang berkelanjutan.

Transformasi juga diarahkan melalui penguatan pusat riset terapan, kemandirian unit riset, serta pembelajaran berbasis industri. Selain itu, peserta Prima-Visi menyoroti perlunya rekayasa kebijakan dan harmonisasi regulasi guna mempercepat transformasi menuju Polytechnic University.

“Transformasi Polytechnic University bukan hanya transformasi nama, tetapi memang membutuhkan beberapa otonomi fungsional, kemitraan industri yang sejajar dari riset terapan yang berdampak bukan hanya sekedar penyesuaian kurikulum,” Jelas Rofan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Khairul Munadi menegaskan bahwa kementerian mendorong penguatan kementerian tidak berhenti sebagai program sesaat tetapi dapat terlembagakan secara sistematis dan berkelanjutan. Selain itu, Dirjen Khairul juga menyebutkan penguatan kepemimpinan perguruan tinggi merupakan investasi yang memiliki dampak strategis dan berlipat.

“Dalam konteks transformasi pendidikan tinggi, kepemimpinan memegang peran yang sangat krusial. Dengan kepemimpinan yang kuat, keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui kolaborasi dan inovasi. Sebaliknya, sumber daya yang melimpah tanpa kepemimpinan yang baik justru berpotensi tidak termanfaatkan secara optimal,” ujar Dirjen Khairul.

Dalam pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Direktur Sumber Daya, Sri Suning, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Benny Bandanadjaja, serta 27 perwakilan pimpinan politeknik di Indonesia yang menjadi peserta Prima-Visi.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!