Oleh : Ace Somantri
BANDUNG, MENARA62.COM – Aturan demi aturan di turunkan secara bertahap, sejak Adam alaihi salam dan Hawa hidup di dunia alam semesta bukan tanpa aturan. Mustahil hidup dan kehidupan mahluk di alam semesta tidak ada aturan. Sudah pasti segala sesuatu yang hidup sekalipun hewan melata ada aturannya. Hanya saja, skema aturannya antara hewan dan manusia berbeda. Perbedaannya terletak pada aplikasi nalar akal sehat yang ada pada manusia. Sementara hewan hanya insting semata. Pun begitu bagi manusia hari ini sebagai generasi manusia berikutnya dengan berbagai perkembangan yang sudah banyak perubahan isi dari alam semesta, baik darat, laut dan udara. Kata kunci dari perubahan secara sainstific dilakukan oleh manusia itu sendiri, seperti nabi Nuh alaihi salam mempelopori pembuatan teknologi transportasi laut yaitu mahakarya sebuah perahu sangat besar.
Tata aturan manusia semua sudah ada ketika dunia alam semesta diciptakan, hanya sejauh mana manusia mengelaborasi isi alam semesta menjadi rumusan aturan yang dapat digunakan sebagai kerangka acuan untuk gerak laju dalam sebuah aktifitas. Apalagi manusia hari ini, aturan demi aturan sangat rinci dan detail, baik yang diturunkan dari Sang Maha Kuasa dalam bentuk wahyu-Nya dan juga segala bentuk tindak-tanduk perilaku rosulullah yang secara langsung ditransfer pada manusia kala itu. Catatan dari para sahabat yang pernah bersama melihat, mendengar dan berbuat secara bersama-sama melakukan sesuatu dalam segala hal ihwal hidup dan kehidupan sehari-hari, baik yang dijalankan langsung dioerbuat maupun menghindarinya untuk diperbuat.
Tidak ada alasan manusia hari ini untuk terus menerus berbuat salah, apalagi banyak merugikan bangsa dan negara, termasuk satu paket mendzolimi pada sesama, sangat keterlaluan. Memang di dunia ini dalam sejarah perjalanan manusia, di antara manusia yang ada selalu muncul dua kutub, baik kutub yang berbuat kebaikan dan kebenaran, maupun kutub keburukan. Hal tersebut terus berlangsung selama alam semesta ini tetap ada. Sangat mustahil manusia dicipta untuk berbuat buruk dan kejahatan, tidak ada ajaran yang menegaskan. Yang ada manusia dicipta untuk mengabdi dan menghamba ke Sang Maha Kuasa dengan cara dan berupaya berbuat kebaikan dan kebenaran sesuai ketentuan syariat yang berlaku. Hal itu secara faktual bukan untuk kepentingan Allah azza wazala, melainkan kebermanfaatan hanya untuk manusia itu sendiri. Semakin manusia berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain, maka semakin menambah nilai manfaat untuk dirinya.
Fakta sosial hari ini, bangsa dan negara Indonesia boleh dikatakan hampir seluruh warganya beragama. Yang berkeyakinan Islam sebagai agama yang benar mendominasi rakyat Indonesia, selain Islam bervariasi jumlah penganutnya. Semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran menurut keyakinannya masing-masing, terlebih umat Islam sangat lengkap dan sempurna ajarannya. Sudah menjadi rahasia umum para pejabat negara di berbagai kementerian dan lembaga negara, hampir semua lini mengalami turbulensi akibat perilaku koruptif yang sangat akut dan mengerikan. Masih beredar dan viral prilaku korupsi dan kejahatan terhadap negara, bahkan menjadi kejadian luar biasa ketika institusi penegak hukum Indonesia dari sekian punggawa utamanya penegak keadilan justru mengadili dan menghukum dirinya sendiri dengan bertabur bintang di pundak. Baik bintang pangkat dan jabatan, juga bintang mahaputra menempel dalam pakaian kebesaran. Namun, itu hanya hiasan belaka nan hina.
Duaaar, hakim agung yang seharusnya mengagungkan keadilan bagi bangsa dan negara, justru tertangkap tangan yang memilukan bagi institusi penegak keadilan agung. pPadahal seharusnya institusi agung tempat menghakimi para pencari keadilan, hari ini seorang hakim agung terperangkap dan masuk ke dalam jaringnya yang dibuat sendiri. Apakah ini kebetulan atau sebuah peringatan yang diperlihatkan oleh Sang Maha Kuasa Allah azza wazala, sebagai sampling dari sekian perilaku hakim? bisa jadi bukan hanya dia yang berbuat, melainkan tidak menutup kemungkinan banyak hakim-hakim agung lainnya, hanya saja tidak terungkap dan tidak terjaring. Hal itu sangat mungkin sekali, karena institusi Polri sebagai penegak hukum, pengayom dan pelayan masyarakat pun sempat terjadi kiamat hingga meluluhlantahkan korps satuan yang dibanggakan negara.
Ambyar, para BigBoss penegak hukum berperilaku nista dan hina.Taburan bintang jabatan dan pangkat menghiasi baju kebesaran hanya menjadi tanda kepongahan raga, jiwa bersih menjadi kotor seketika tanpa ada rasa iba pada negara dan bangsa. Justru telah di buat malu yang memilukan korps satuannya luluh-lantah hancur berkeping-keping hingga tak tersisa. Dimanapun engkau berada, selama masih hidup dan ingat pada ajaran Agama segeralah bertaubat pada Maha Pencipta. Pintu maaf selalu terbuka, sujudmu akan diterima kala Tuhanmu Ridlo. Wallahu ‘alam.
Bandung. September 2022