30 C
Jakarta

Board of Peace adalah bentuk Nekolim Baru

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin menyatakan, Board of Peace bikinan Donald Trump adalah bentuk Neo Kolonialisme dan Imperialisme (Nekolim) baru.

Nekolim, meminjam istilah Bung Karno, merupakan bentuk penjajahan dan penguasaan atas suatu negara oleh negara lain. Menurut literatur, imperialisme adalah kecenderungan memperluas kekuasaan, pengaruh, dan kendalinya atas negara lain, baik secara langsung (teritorial/militer) maupun tidak langsung (ekonomi/politik) demi keuntungan sendiri. Sedangkan kolonialisme adalah praktik penguasaan wilayah dan rakyat oleh negara yang lebih kuat untuk mengendalikan sumber daya, memperluas kekuasaan politik, dan memenangkan persaingan ekonomi.

Kedua pengertian tadi tepat untuk dikenakan pada prakarsa Board of Peace Donald Trump di Gaza. Menurut Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini, Board of Peace (Dewan Perdamaian) bukan untuk perdamaian kawasan apalagi dunia, tapi justeru akan mendorong ketakamanan dan ketakstabilan Kawasan Timur Tengah dan Dunia Islam. Hal itu antara lain disebabkan adanya standar ganda dan pembiaran ketakadilan.

Donald Trump dan Amerika bungkam terhadap agresi dan tindak kekerasan Israel yang masih berlangsung atas Wilayah Palestina, dan Trump menyiapkan serangan skala besar terhadap Iran. Adalah naif dan ironis berdalih ingin membangun kembali Gaza akibat ulah Israel tapi tidak melibatkan Tokoh Gaza/Palestina, sementara PM Israel Netanyahu dilibatkan.

Jelas prakarsa ini untuk jangka panjang akan menguntung Israel dan merupakan ekspansi atau penjajahan terselubung secara diam-diam atas Palestina. Begitu pula, Presiden AS Donald Trump tidak memenuhi syarat sebagai pencipta perdamaian (peace maker), tapi pengganggu perdamaian (trouble maker) seperti ulahnya terhadap Venezuela dan Green Land.

Maka prakarsa Board of Peace adalah kamuflase dan mengandung agenda tersembunyi (hidden agenda). Terhadap keangkuhan dan kesombongan ini, Global People’s Power akan meningkat, apalagi banyak negara cinta damai dan keadilan menolak bergabung. Di dalam Negeri Amerika Serikat sendiri, penolakan terhadap Trump sudah bermunculan. Bahkan, sejumlah anggota senat dan Kongres AS, baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, mengingatkan Donald Trump bahwa manuvernya bisa mengarah pada pemakzulan. Jika ini terjadi maka nasib Board of Peace akan tenggelam ditelan gelombang, dan negara-negara pendukungnya akan gigit jari.

Saatnya para pemimpin negara-negara Islam yang terlanjur bergabung pada Board of Peace Donald Trump untuk berpikir ulang dan bertanya pada hati nurani masing-masing. Hati nurani akan membisikkan kebenaran, hati zulmani membisikkan keburukan dan kejahatan.

“Nurani bangsa tergores, kala 17 triliun Rupiah terbuang percuma ke luar di tengah kemiskinan dan penderitaan rakyat” ujar mantan Ketua Umum MUI itu.

Ia menyerukan para ulama dan zuama beristiqamah sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan berpegang teguh pada Amanat Konstitusi “mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus segala bentu penjajahan dari muka bumi).

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!