26.8 C
Jakarta

Bukan Sekadar Sopan Santun

Menantikan Deklarasi Partai Gema Bangsa

Baca Juga:

Kita sering mendengar nasihat bahwa politik itu harus santun. Bahwa dalam bernegara, menjaga etiket dan tata krama adalah segalanya. Namun, mari kita jujur sejenak: Apa gunanya tutur kata yang halus jika digunakan untuk menutupi kebijakan yang kasar terhadap rakyat? Apa artinya jabat tangan yang erat di depan kamera, jika di belakangnya mereka sepakat untuk merampas ruang hidup warga?

Debat politik hari ini seringkali terasa seperti pertunjukan teater yang membosankan. Para aktornya saling melempar senyum, menggunakan istilah-istilah tinggi yang sulit dipahami, dan menghindari topik yang benar-benar sensitif. Mereka sibuk memoles citra, sementara akar masalah bangsa ini dibiarkan membusuk.

Partai Gema Bangsa hadir bukan untuk menambah deretan politisi yang pandai bersandiwara.

Bagi kami, politik bukan soal siapa yang paling sopan di depan podium. Politik adalah tentang keberanian untuk membongkar akar masalah. Kita tidak butuh “kosmetik politik” yang hanya mempercantik wajah bangsa di luar, tapi membiarkan tubuhnya sakit di dalam. Kita butuh “pembedahan struktural”.

Jika akar masalahnya adalah pemusatan kekuasaan yang berlebihan di Jakarta, maka kita harus berani membongkarnya, meski itu tidak “sopan” bagi mereka yang sudah nyaman di sana. Jika masalahnya adalah sistem yang memanjakan segelintir elite sementara keluarga-keluarga di desa harus berjuang sendiri, maka kita harus berani mengatakannya dengan lantang.

Banyak yang bertanya: “Kenapa Gema Bangsa begitu vokal?” Jawabannya sederhana: Karena kejujuran seringkali terdengar kasar di telinga mereka yang terbiasa hidup dalam kebohongan.

Kami memilih untuk tidak “sopan” dalam menuntut hak-hak rakyat yang terabaikan. Kami memilih untuk tidak “santun” ketika melihat lingkungan kita dirusak demi keuntungan jangka pendek. Debat yang kita butuhkan hari ini bukan soal siapa yang paling pandai menjaga perasaan lawan bicara, tapi siapa yang paling berani berdiri di samping rakyat dan bertanya: “Untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?”

Kekuasaan tidak akan pernah diberikan secara sukarela melalui diplomasi meja makan yang tenang. Kekuasaan harus ditarik kembali ke bawah melalui keberanian untuk bicara apa adanya.

Hari ini, kita belajar bahwa menjadi baik tidak selalu berarti menjadi pendiam. Terkadang, mencintai bangsa ini berarti kita harus berani mengguncangnya agar ia bangun dari tidur panjangnya.

 

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!