30 C
Jakarta

Ceramah Tarawih di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta, Encep Moh Ilham Tekankan Tadarus Al-Qur’an Bukan Sekadar Tilawah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta pada Kamis (26/2/2026) malam. Dalam rangkaian Salat Tarawih Ramadan 1447 H, ceramah disampaikan oleh Encep Moh Ilham, anggota Majelis Tarjih PDM Surakarta sekaligus Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kementerian Agama Kota Surakarta.

Dalam tausiyahnya, Encep menegaskan pentingnya memahami Al-Qur’an secara komprehensif melalui tadarus, bukan sekadar membaca atau mengetahui arti kata demi kata.

Tilawah dan Tadarus, Apa Bedanya?

Encep menjelaskan bahwa tilawah dan tadarus memiliki makna yang berbeda. Tilawah adalah membaca Al-Qur’an dengan memperhatikan tajwid serta keindahan bacaan. Sementara itu, tadarus merupakan proses pembelajaran yang lebih mendalam, mencakup pemahaman makna, tafsir, hingga implementasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Tilawah itu penting, tetapi tadarus lebih dari sekadar membaca. Tadarus mengajak kita memahami struktur kalimat, konteks ayat, hingga bagaimana ayat tersebut diamalkan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia juga menjelaskan bahwa pengajar dalam proses tadarus disebut mudaris, yakni pendidik yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Hal ini berbeda dengan ustaz yang secara khusus mendalami ilmu-ilmu keislaman.

Pemahaman Al-Qur’an Menentukan Sikap Beribadah

Dalam ceramahnya, Encep mencontohkan penafsiran Surah Al-Kautsar. Menurutnya, pemahaman yang tepat terhadap ayat akan berimplikasi langsung pada sikap dan praktik ibadah, seperti kewajiban salat dan berkurban sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah.

Ia mengingatkan bahwa penafsiran yang keliru dapat berakibat pada sikap enggan beribadah karena salah memahami konteks nikmat yang telah diberikan Allah Swt.

“Jangan sampai kita membaca Al-Qur’an seperti kera mengupas kelapa, hanya tahu kulitnya, tetapi tidak memahami isinya,” tegasnya, disambut anggukan jamaah.

Tiga Golongan Sikap terhadap Al-Qur’an

Mengutip Surah Fatir ayat 32, Encep memaparkan tiga kategori umat Islam dalam menyikapi Al-Qur’an.

Pertama, zalimun nafsi, yakni orang yang mengetahui hukum Al-Qur’an tetapi menganiaya dirinya sendiri dengan tidak mengamalkannya atau bahkan mencari celah hukum untuk kepentingan pribadi.

Kedua, muttasidun, yaitu golongan pertengahan yang menjalankan kewajiban secara minimalis tanpa dorongan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Contohnya, berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga tanpa menjaga hati, atau bersedekah dari barang yang sudah tidak layak.

Ketiga, sā‘iqūn bil-khairāt, yakni mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Golongan ini bersemangat mengamalkan Al-Qur’an secara sungguh-sungguh, sebagaimana para sahabat Nabi yang rela berkorban harta dan jiwa demi tegaknya Islam.

“Ramadan adalah momentum untuk naik kelas, dari sekadar menjalankan kewajiban menjadi orang yang berlomba dalam kebaikan,” tandasnya.

Ramadan, Momentum Memperbaiki Hubungan dengan Al-Qur’an

Menurut Encep, bulan Ramadan seharusnya menjadi titik tolak peningkatan kualitas diri dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an. Tadarus tidak cukup dilakukan secara rutin tanpa penghayatan.

Ia berharap jamaah dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang nyata, sumber motivasi beramal, serta landasan membangun ketakwaan.

“Pemahaman yang benar akan melahirkan amal yang benar. Sikap kita terhadap Al-Qur’an sangat menentukan kualitas keimanan dan perbuatan kita,” pungkasnya.

Ceramah tarawih tersebut ditutup dengan ajakan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam memperdalam pemahaman Al-Qur’an selama Ramadan, sehingga tidak hanya memperoleh pahala bacaan, tetapi juga keberkahan dari pengamalan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!