Daging Sapi vs Daging Kambing: Mana yang Lebih Berbahaya bagi Kesehatan?

Perdebatan mengenai mana yang lebih sehat antara daging sapi dan daging kambing sering kali muncul, terutama saat perayaan hari besar keagamaan ketika konsumsi daging meningkat tajam. Banyak orang cenderung menghindari daging kambing karena dianggap sebagai pemicu utama tekanan darah tinggi dan kolesterol, sementara daging sapi sering dianggap lebih “aman”. Namun, apakah anggapan masyarakat ini sesuai dengan fakta medis yang ada, ataukah selama ini kita salah dalam menilai profil nutrisi kedua jenis daging merah tersebut?

Secara medis, anggapan bahwa daging kambing lebih berbahaya daripada daging sapi sebenarnya adalah sebuah mitos yang perlu diluruskan. Jika kita menilik kandungan nutrisinya, daging kambing justru memiliki kadar lemak total dan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan daging sapi. Dalam setiap 100 gram daging kambing, terdapat sekitar 143 kalori dan 3 gram lemak. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan daging sapi yang mengandung sekitar 250 kalori dan lemak yang bisa mencapai 15 gram untuk porsi yang sama.

Selain rendah lemak, daging kambing juga memiliki kandungan zat besi yang cukup tinggi serta rendah natrium. Hal ini menjadikannya pilihan yang sebenarnya cukup baik bagi sistem kardiovaskular jika dikonsumsi dalam batas wajar. Tekanan darah tinggi yang sering dikaitkan dengan makan daging kambing biasanya bukan disebabkan oleh dagingnya itu sendiri, melainkan oleh teknik pengolahannya. Penggunaan garam yang berlebihan dan tambahan santan kental dalam masakan seperti gulai atau tongseng itulah yang memicu lonjakan tekanan darah.

Di sisi lain, daging sapi memang memiliki tekstur yang lebih empuk dan digemari banyak orang, namun kandungan lemak jenuhnya perlu diwaspadai. Lemak jenuh pada daging sapi, terutama pada bagian yang memiliki banyak serat lemak atau lemak putih, dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan penyumbatan pembuluh darah.

Namun, bukan berarti daging sapi tidak memiliki manfaat sama sekali bagi tubuh kita. Daging sapi merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat baik untuk pertumbuhan otot dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak. Daging sapi juga kaya akan vitamin B12 yang esensial bagi fungsi otak serta zinc yang membantu menjaga sistem kekebalan tubuh. Kunci utamanya terletak pada pemilihan bagian daging, di mana bagian has dalam atau tenderloin memiliki kandungan lemak yang jauh lebih sedikit dibandingkan bagian perut atau iga.

Bahaya kesehatan dari kedua jenis daging ini sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh cara kita mengolahnya daripada jenis hewannya. Membakar daging hingga gosong dapat menghasilkan senyawa karsinogenik yang memicu kanker. Selain itu, menggoreng daging dengan minyak jenuh atau merendamnya dalam kuah penuh lemak akan melipatgandakan risiko kesehatan. Oleh karena itu, cara memasak yang paling disarankan secara medis adalah dengan merebus, mengukus, atau memanggang dengan sedikit minyak zaitun.

Untuk menjaga kesehatan saat mengonsumsi daging merah, ada beberapa tips praktis yang bisa diterapkan. Pastikan Anda selalu menyertakan sayuran hijau sebagai pendamping makan daging untuk membantu proses pencernaan karena seratnya yang tinggi. Batasi porsi konsumsi daging merah maksimal 2 hingga 3 kali dalam seminggu dengan porsi sekitar 70-90 gram sekali makan. Selain itu, minumlah air putih yang cukup dan hindari minuman manis setelah mengonsumsi hidangan daging yang berat.

Kesimpulannya, daging kambing tidaklah lebih berbahaya daripada daging sapi, bahkan secara statistik memiliki kandungan lemak yang lebih sehat. Bahaya yang sebenarnya muncul dari porsi yang berlebihan dan cara pengolahan yang salah dengan tambahan banyak garam serta santan. Dengan memilih potongan daging yang tepat dan cara memasak yang sehat, keduanya dapat menjadi sumber nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh tanpa harus memicu masalah kesehatan yang serius.