SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Darul Arqam Pimpinan yang digelar pada Rabu-Sabtu, (7-10/1) sebagai upaya peneguhan ideologi, komitmen bermuhammadiyah, serta penguatan tata kelola amal usaha yang berlandaskan nilai tauhid. Kegiatan yang dilaksanakan di MTs Muhammadiyah Program Khusus Bayat, Klaten dihadiri unsur Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang, hingga Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, mencerminkan semangat One Muhammadiyah yang utuh.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran lengkap unsur persyarikatan menjadi bukti nyata terwujudnya One Muhammadiyah. Ia menyampaikan bahwa Darul Arqam tidak sekadar agenda seremonial, tetapi sarana membumikan ideologi Muhammadiyah agar dekat dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Sejak dulu saya mengusulkan agar Darul Arqam tidak dilakukan di hotel, tetapi dekat dengan AUM. Ini bagian dari peneguhan komitmen bermuhammadiyah dan ber-‘Aisyiyah. AUM yang sering dikunjungi pimpinan itu akan menjadi rejo, menjadi magnet kebaikan dan kemajuan,” ujarnya saat Pembukaan Darul Arqam Pimpinan UMS, Rabu (7/1).
Harun juga mengaitkan suasana rejo tersebut dengan capaian UMS saat ini. Hingga malam sebelumnya, jumlah pendaftar mahasiswa baru UMS telah mendekati 3.000 orang, dengan lebih dari 500 di antaranya telah melakukan registrasi. Menurutnya, hal ini menjadi indikator kepercayaan publik yang terus menguat.
Lebih lanjut, ia menekankan empat pesan reflektif memasuki awal tahun 2026. Pertama, pentingnya evaluasi dan refleksi menyeluruh, baik secara personal maupun kelembagaan. Kedua, penguatan kolaborasi lintas jenjang dan struktur Muhammadiyah, mulai dari pusat hingga ranting, termasuk sinergi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Ketiga, meluruskan niat dalam bekerja di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang memiliki karakter ideologis berbeda dengan perguruan tinggi lain. Keempat, menanamkan keikhlasan agar seluruh aktivitas pendidikan, pengelolaan, dan pengabdian tetap bernilai ibadah dan dakwah.
“Tata kelola UMS harus mengikuti sosiologi Muhammadiyah. Dana yang tidak terserap bukan hilang, tetapi disimpan sebagai energi untuk pengembangan ke depan. Saat ini UMS tengah mengelola energi besar untuk penyelesaian berbagai pembangunan strategis, yang seluruhnya bersumber dari tuition fee dan prinsip efisiensi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMS), Drs. K.H. Marpuji Ali, M.Si., dalam sambutannya mengajak seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan UMS untuk menjadikan Darul Arqam sebagai momentum peningkatan kualitas diri dan institusi. Ia merujuk pada makna Surat Fathir ayat 32 tentang tiga golongan manusia, yakni yang zalim, muqtashid, dan sabiqun bil khairat.
“Kalau UMS ingin lebih maju, maka kita tidak cukup hanya adil atau muqtashid, tetapi harus sabiqun bil khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Orang yang ihsan akan selalu merasa diawasi Allah di mana pun berada,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kemajuan UMS sangat ditentukan oleh perilaku warganya. Ketika nilai ihsan menjadi orientasi bersama, maka laju kemajuan UMS tidak akan mudah terhambat. Marpuji Ali turut mengapresiasi capaian UMS di bidang penelitian yang dinilai sebagai salah satu yang terdepan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa penyelenggaraan Darul Arqam dan Darul Arqam di lingkungan UMS memiliki posisi strategis dalam menjaga ruh ideologi Persyarikatan. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan organisasi berbasis sistem, namun digerakkan oleh nilai.
“Tanpa nilai, sistem akan kering dan birokrasi kampus menjadi mesin tanpa jiwa. Nilai itu adalah Islam, Islam yang berkemajuan,” tegas Haedar.
Ia menekankan bahwa Risalah Islam Berkemajuan harus diterjemahkan secara konkret dalam keunggulan akademik dan pelayanan UMS. Prinsip One Muhammadiyah, One UMS tidak boleh dipahami secara parsial, melainkan sebagai integrasi seluruh elemen dalam satu tubuh Persyarikatan.
Haedar juga mengingatkan bahwa kepemimpinan di UMS bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Melalui Darul Arqam, para pimpinan diharapkan tidak hanya memperkuat tata kelola kelembagaan, tetapi juga membangun karakter, integritas, dan semangat Al-Ma’un.
“Kita ingin UMS tidak hanya besar secara fisik, tetapi juga unggul dalam pembangunan manusianya. Dosen dan tenaga kependidikan UMS harus berbeda, terutama dalam akhlak, integritas, dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Ia menutup amanatnya dengan pesan agar UMS terus dikembangkan sebagai center of excellence yang mencerahkan dan membawa rahmat bagi semesta, seiring tantangan Muhammadiyah di abad kedua yang semakin kompleks.
Pembukaan Darul Arqam Pimpinan UMS ditutup dengan prosesi serah terima simbolik peserta Darul Arqam kepada Master of Training dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai penanda dimulainya proses pembinaan intensif. Melalui kegiatan ini, UMS meneguhkan langkah menuju One UMS, One Muhammadiyah, One Destinasi, dan One Tauhid. (*)
