SOLO, MENARA62.COM – Semangat One Muhammadiyah kembali ditegaskan melalui kegiatan Darul Arqam Pimpinan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang memasuki hari ketiga pelaksanaan. Kegiatan ini diselenggarakan di MTs Muhammadiyah Program Khusus Bayat, Ranting Krakitan, Klaten, Jumat (9/1).
Darul Arqam Pimpinan UMS menjadi wujud nyata kolaborasi seluruh struktur Muhammadiyah, mulai dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, hingga Pimpinan Ranting. Pelaksanaan kegiatan di tingkat ranting ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memberdayakan seluruh lapisan organisasi secara merata.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat One Muhammadiyah yang menegaskan bahwa penguatan kapasitas kader tidak hanya terpusat di level atas, tetapi juga menyentuh akar organisasi, yakni ranting dan cabang. Dengan demikian, setiap struktur memiliki peran strategis dalam menggerakkan persyarikatan.
Pada sesi materi, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, MA., menyampaikan paparan bertema Indonesia Berkemajuan, Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna.
Ia menjelaskan bahwa konsep berkemajuan menurut Muhammadiyah merupakan keberhasilan dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, kesehatan, serta penguatan keunggulan umat di tengah dinamika sosial, politik, budaya, dan ekonomi.
“Konsep masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sudah dikaji sejak Muktamar Muhammadiyah ke-37. Masyarakat yang maju, dinamis, dan terorganisir dalam seluruh sektor kehidupan,” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa pascakemerdekaan, masyarakat Indonesia menghadapi tantangan antara tradisi yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah (jumud) atau modernitas yang kehilangan spiritualitas.
Oleh karena itu, Muhammadiyah menekankan pentingnya tajdid (pembaruan) dan ijtihad agar Islam tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Muhammadiyah mengintegrasikan nilai Islam dengan modernitas dan kebutuhan kontemporer. Inilah yang kemudian melahirkan konsep amal usaha sebagai bentuk nyata kontribusi persyarikatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Zakiyuddin menjelaskan bahwa gagasan Indonesia Berkemajuan secara resmi disahkan dalam Tanwir Muhammadiyah 2014 di Samarinda. Konsep ini merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Dalam konteks kebangsaan, Muhammadiyah mengambil peran sebagai organisasi civil society yang strategis. Muhammadiyah menjadi jembatan aspirasi masyarakat kepada negara sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik.
“Muhammadiyah sebagai masyarakat sipil merupakan kekuatan utama yang mampu memengaruhi arah kebijakan politik dan kebangsaan secara luas,” tegasnya.
Menutup sesi materi, ia menyoroti pentingnya demokrasi deliberatif serta peran Muhammadiyah dalam mengisi ruang kemajuan spiritual dan sosial secara terintegrasi.
Muhammadiyah diharapkan terus menjadi model gerakan pembaruan dan perbaikan umat.
Kegiatan yang diikuti seluruh struktur Muhammadiyah ini semakin menegaskan komitmen persyarikatan dalam menerapkan konsep One Muhammadiyah, sekaligus memperkuat pemberdayaan ranting dan cabang sebagai basis gerakan. (*)

