SOLO, MENARA62.COM – Penerapan manajemen pelayanan berbasis digital dinilai menjadi faktor strategis dalam memperkuat posisi SD Muhammadiyah 1 Solo sebagai rujukan nasional. Seperti inovasi M1 Smart Card adalah kartu elektronik multifungsi untuk transaksi cashless (non-tunai) di lingkungan sekolah, mencakup pembayaran kantin sehat, koperasi/toko sekolah, infaq, perpustakaan, hingga absensi siswa, Rabu (28/1/2025).
Kepala Sekolah Sri Sayekti menegaskan bahwa paradigma pelayanan telah mengalami pergeseran mendasar. Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber ketika menerima studi tiru dari SD Islam Program Khusus (PK) Muhammadiyah Delanggu, Klaten dengan Master of Ceremony Humas Dwi Jatmiko.
Menurut Sayekti, masyarakat saat ini lebih mencintai layanan yang mereka rasakan manfaatnya secara langsung dibandingkan identitas Lembaga pendidikan itu sendiri.
“Customer mencintai layanan, bukan mencintai lembaga. Ketika pelayanan baik, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya, sambil tersenyum.
Ia menjelaskan, pelayanan prima di era digital tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Pelayanan excellent harus dimaknai sebagai kesiapan melayani selama 24 jam melalui berbagai kanal, baik luring maupun daring.
“Contoh layanan era digital bisa dimulai dari dapur sekolah untuk membangun masa depan anak. Dapur sehat untuk memproduksi makanan bergizi (MBG). Anak-anak tidak hanya mendapat asupan bergizi, tetapi juga belajar disiplin dan tanggung jawab. Terkait menu MBG bisa diakses di website sekolah. Inilah Langkah kecil sebagai kecepatan respons, kemudahan akses, dan kenyamanan pengguna menjadi indikator utama keberhasilan pelayanan digital,” bebernya.
Digitalisasi pelayanan juga memperkuat fungsi publikasi lembaga. Informasi yang disampaikan secara cepat, terbuka, dan akurat akan meningkatkan kepercayaan sekaligus memperluas jangkauan layanan. “Kalau perilakunya tidak berubah, sistem sebagus apa pun tidak akan berjalan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SD Islam Program Khusus Muhammadiyah Delanggu Badri menyatakan dari sekolah membawa 35 guru karyawan melihat best practice sekolah yang berdiri sejak 1935 ini sebagai sekolah rujukan nasional.
“SD Muhammadiyah 1 Solo sebagai salah satu sekolah favorit sekaligus sekolah percontohan di wilayah Surakarta dan rujukan nasional cocok untuk studi tiru. Diharapkan dapat memperoleh wawasan, pengalaman, serta inspirasi untuk diterapkan dalam pengembangan sekolah ke arah yang lebih baik,” ujar Badri. (*)


