SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Doktor Informatika (DIF) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id resmi memulai perjalanan akademiknya dengan menyambut 10 mahasiswa angkatan pertama. Mereka menjadi pionir program doktor informatika pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).
Orientasi mahasiswa baru digelar di UMS, Jumat (25/9/2026), dan diikuti 10 mahasiswa serta delapan dosen tetap Program Studi DIF UMS.
Mengusung tagline “Informatics for Humanity and Civilization”, program doktor ini tidak sekadar diarahkan untuk menghasilkan riset dan publikasi ilmiah. UMS menargetkan lahirnya ilmu informatika yang memberi kontribusi bagi kemanusiaan sekaligus perkembangan peradaban.
Ketua Program Studi Doktor Informatika UMS, Prof. Budi Murtiyasa, menyebut mahasiswa angkatan pertama memiliki posisi strategis dalam membangun fondasi program studi yang baru berdiri.
«“Anda adalah pionir. Anda adalah fondasi. Apa yang kita bangun hari ini akan menentukan wajah prodi ini 10, 20, bahkan 50 tahun ke depan. Mari kita bangun prodi ini dengan semangat kolaborasi, integritas, dan dedikasi untuk kemanusiaan dan peradaban,” kata Budi dalam orientasi.»
Dituntut Menciptakan Ilmu
Dalam orientasi tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan karakter pendidikan doktoral yang menempatkan mereka bukan lagi sekadar sebagai pembelajar, tetapi sebagai pencipta pengetahuan baru.
Jika mahasiswa jenjang sarjana diarahkan untuk mempelajari ilmu dan mahasiswa magister mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu, mahasiswa doktor dituntut mampu menciptakan ilmu melalui riset yang orisinal.
Karena itu, terdapat perubahan pola pikir yang harus dibangun. Mahasiswa didorong beralih dari menghafal teori menjadi mengkritisi teori, dari mencari jawaban menjadi merumuskan pertanyaan, dari menerima pendapat menjadi membangun dialog kritis, serta dari belajar untuk mengetahui menjadi meneliti untuk menemukan.
Kurikulum DIF UMS dirancang berbasis riset dengan masa studi enam semester atau tiga tahun.
Pada semester pertama, mahasiswa akan mempelajari sejumlah mata kuliah wajib, di antaranya Filsafat Ilmu dan Etika Informatika Berbasis Nilai Islam, Metodologi Penelitian, serta Informatika untuk Kemanusiaan dan Peradaban.
Memasuki semester kedua, mahasiswa dapat memilih salah satu dari empat jalur peminatan, yakni Digital Transformation for Human Development, Human-Centered Intelligent Multimedia Systems, Responsible AI and Machine Learning for Humanity, serta Social Informatics and Digital Civilization.
Fokus pada AI hingga Informatika Sosial
Program Doktor Informatika UMS memiliki empat fokus riset utama, yaitu Kecerdasan Artifisial dan Machine Learning, Informatika Sosial, Sistem Cerdas dan Multimedia, serta Sistem dan Teknologi Informasi.
Ruang riset tersebut diarahkan untuk menjawab berbagai kebutuhan teknologi masa kini, mulai dari kecerdasan artifisial yang bertanggung jawab, large language model (LLM), computer vision, health informatics, hingga computational social science.
Untuk memperoleh gelar doktor, mahasiswa juga menghadapi persyaratan publikasi yang ketat.
Publikasi pertama harus terbit pada jurnal minimal SINTA 2, jurnal internasional bereputasi, atau prosiding internasional terindeks Scopus/IEEE. Sementara publikasi kedua minimal berstatus accepted pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus minimal Q3 atau Web of Science (WoS) dengan SJR minimal 0,2.
Kedua publikasi tersebut harus berkaitan dengan topik disertasi dan mahasiswa tercatat sebagai penulis pertama.
Integritas Jadi Fondasi
Selain kemampuan riset, integritas akademik menjadi perhatian utama dalam orientasi mahasiswa perdana tersebut.
Nilai kejujuran (sidq), amanah, keadilan (‘adl), dan ihsan ditekankan sebagai fondasi dalam proses akademik. Mahasiswa juga diingatkan mengenai konsekuensi serius dari pelanggaran akademik, seperti plagiarisme, fabrikasi data, falsifikasi, dan duplikasi publikasi.
“Integritas akademik adalah fondasi peradaban. Tidak ada gelar doktor yang layak diraih dengan cara yang tidak jujur,” tegas Budi.
Dari sisi sumber daya, Program Doktor Informatika UMS diperkuat delapan dosen tetap yang terdiri atas dua guru besar dan enam lektor kepala bergelar doktor dari sejumlah perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Dukungan riset juga mencakup enam laboratorium, yakni Laboratorium Komputasi dan AI, Multimedia dan AR/VR, Internet of Things (IoT), NLP dan AI, Software Technology, serta Komputasi Cerdas.
Mahasiswa juga memiliki akses terhadap GPU dan High Performance Computing (HPC) serta Pusat Riset Data Science. Sistem perkuliahan hybrid disiapkan untuk memberikan fleksibilitas, khususnya bagi mahasiswa yang telah bekerja.
Program studi tersebut menargetkan akreditasi Unggul dari LAM INFOKOM pada 2029. Target lainnya meliputi 30 mahasiswa aktif, IPK rata-rata lulusan minimal 3,50, dua publikasi setiap mahasiswa, serta masa studi maksimal 3,5 tahun.
Sebagai bagian dari komitmen awal, mahasiswa angkatan pertama menandatangani komitmen untuk menjaga integritas akademik, menyelesaikan studi dalam enam semester, menghasilkan sedikitnya dua publikasi internasional bereputasi, serta menghasilkan disertasi orisinal yang memberikan kontribusi bagi kemanusiaan dan peradaban.
Menutup orientasi, Budi kembali mengingatkan posisi strategis mahasiswa angkatan pertama.
«“Anda bukan sekadar mahasiswa. Anda adalah pionir, peneliti, dan calon pemimpin akademik. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jaga integritas, dan jangan lupa bahwa setiap karya Anda adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan masyarakat,” ujarnya.»
Dengan dimulainya angkatan pertama tersebut, Program Studi Doktor Informatika UMS menempatkan riset, inovasi, integritas, dan nilai-nilai Islam sebagai pijakan untuk mengembangkan informatika yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga memberi manfaat bagi manusia dan peradaban. (*)

