SOLO, MENARA62.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id di kancah internasional. Muhammad Taufik Hidayat, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMS, berhasil meraih Exceptional PhD Award dari School of Education and Culture, Monash University, Australia.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas ketekunan, etos kerja, sikap positif, serta perkembangan kemampuan akademik Taufik selama menjalani studi doktoral di salah satu perguruan tinggi terkemuka Australia tersebut.
Memasuki tahun ketiga studi doktoral bidang pendidikan di Monash University, Taufik mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut merupakan bagian dari program apresiasi bagi mahasiswa doktoral berprestasi di tingkat School. Penilaiannya mencakup berbagai aspek, mulai dari capaian akademik, kualitas penelitian, publikasi ilmiah, kontribusi keilmuan, hingga pengembangan jejaring akademik.
Secara khusus, penghargaan yang diterimanya menitikberatkan pada kualitas personal dan perkembangan akademik selama proses studi. Aspek kegigihan (tenacity), etos kerja, peningkatan kemampuan menulis akademik, serta kemampuan berpikir kritis menjadi poin utama yang diapresiasi.
“Waktu dibacakan alasan saya mendapatkan penghargaan, yang diapresiasi adalah ketekunan, etos kerja, dan critical thinking dalam menjalankan penelitian S3,” ungkap Taufik saat diwawancarai melalui Zoom Meeting, Rabu (4/11/2026).
Dari ratusan mahasiswa doktoral aktif di lingkungan fakultas, sebanyak 18 mahasiswa terpilih menerima penghargaan dalam program apresiasi tersebut. Taufik mengaku tidak menyangka namanya masuk dalam daftar penerima penghargaan. Sebab, selama menempuh pendidikan doktoral, ia lebih berfokus menjalankan penelitian dan terus meningkatkan kapasitas akademiknya.
Teliti Identitas Keindonesiaan Anak melalui Pendidikan Pancasila
Saat ini, Taufik tengah mengembangkan penelitian mengenai bagaimana sekolah dasar di Indonesia memahami dan membentuk identitas keindonesiaan peserta didik melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila.
Penelitian tersebut berupaya mengungkap peran sekolah dalam membangun pemahaman anak tentang identitas nasional, termasuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Untuk memperoleh data, Taufik telah melakukan penelitian di salah satu sekolah dasar di Indonesia yang menjadi lokasi studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen sekolah.
Menurutnya, penguatan identitas kebangsaan sejak pendidikan dasar menjadi semakin penting di tengah dinamika sosial masyarakat, termasuk berkembangnya perdebatan mengenai identitas dan kebangsaan di ruang digital.
“Penelitian ini menjadi penting karena peran sekolah dasar sangat besar dalam menguatkan identitas keindonesiaan anak. Ketika mereka memahami bahwa dirinya adalah anak Indonesia, harapannya nilai cinta tanah air dan semangat membela Indonesia dapat terus tumbuh hingga dewasa,” jelasnya.
Di luar penelitian disertasi, Taufik juga mencatat sejumlah capaian akademik selama menjalani studi di Australia. Ia telah menghasilkan dua publikasi di jurnal internasional bereputasi, meraih juara pertama dalam kompetisi menulis internasional, serta berpartisipasi dalam empat seminar internasional.
Kontribusinya tidak berhenti pada kegiatan akademik. Taufik juga menginisiasi program Bakti Sekolah Dasar, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan secara jarak jauh dengan penerima manfaat sekolah-sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Selain itu, ia aktif dalam Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia. Berbagai aktivitas tersebut menjadi wujud komitmennya untuk tetap berkontribusi bagi masyarakat dan komunitas Indonesia, meskipun sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Apresiasi untuk Dukungan UMS
Taufik menegaskan, keberhasilannya menempuh studi doktoral di Australia tidak terlepas dari dukungan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dukungan tersebut telah diberikan sejak tahap persiapan studi, mulai dari peningkatan kemampuan bahasa Inggris, penyusunan proposal penelitian, hingga penyesuaian tugas mengajar agar dirinya memiliki waktu untuk mempersiapkan pendidikan lanjut.
Menurutnya, dukungan dari program studi, fakultas, dan universitas tidak hanya berbentuk motivasi, tetapi juga mencakup bantuan finansial serta kesempatan untuk mempersiapkan diri secara akademik.
“Tanpa bantuan dari program studi, fakultas, maupun universitas, saya tidak akan sampai di sini. Dukungan itu bukan hanya moral, tetapi juga finansial dan kesempatan untuk mempersiapkan diri. Bahkan sampai sekarang, UMS masih terus mendukung saya selama menjalani studi,” tuturnya.
Taufik mulai menempuh pendidikan doktoral di Monash University pada Oktober 2024 melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia berharap dapat menyelesaikan studi dengan lancar dan membawa pulang pengalaman serta pengetahuan akademik yang diperolehnya selama di Australia untuk dikembangkan di lingkungan UMS.
Lebih dari sekadar penghargaan internasional, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bagi Taufik tentang bagaimana dunia akademik seharusnya menghargai sebuah proses.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa tidak semestinya hanya diukur dari hasil akhir, seperti gelar, publikasi, maupun kemenangan dalam kompetisi. Ketekunan, perkembangan kemampuan, dan kualitas proses yang dijalani juga layak mendapatkan apresiasi.
“Hal yang sangat berarti bagi saya adalah ternyata proses maupun hasil sama-sama penting dan berharga. Selama ini mungkin kita lebih sering menghargai hasil, seperti juara atau prestasi tertentu. Namun, di sini proses juga diapresiasi. Ini menjadi pelajaran yang ingin saya implementasikan ketika kembali, yaitu menghargai mahasiswa dari proses maupun hasil yang mereka capai,” pungkasnya.
Capaian Taufik tersebut sekaligus menjadi kebanggaan bagi UMS dan menunjukkan kontribusi dosen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan keilmuan di tingkat internasional. Pengalaman akademiknya di Monash University diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat setelah kembali mengabdi di kampus. (*)

