SOLO, MENARA62.COM – Program UMS Insight Episode 8 mengangkat tema mispersepsi tentang kecerdasan buatan dengan menghadirkan narasumber dosen bidang Artificial Intelligence (AI) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom, Ph.D, yang menjelaskan fenomena perkembangan teknologi ini dari sudut pandang akademik dan praktis.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa AI merupakan kecerdasan yang memang sengaja dibuat manusia agar mesin mampu melakukan kemampuan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia.
“AI ini merupakan teknologi yang memang dibuat supaya mesin ini dalam hal ini komputer bisa melakukan kemampuan-kemampuan yang sebelumnya itu hanya bisa dilakukan oleh manusia,” ujar Endang yang akrab disapa dengan Dadang, Sabtu, (21/2).
Ia mencontohkan kemampuan dasar seperti pengenalan gambar hingga teknologi kompleks seperti Large Language Model (LLM) yang kini sudah mampu merespons berbagai pertanyaan.
Menurutnya, perkembangan AI bukan hal baru karena masyarakat sebenarnya telah lama bersinggungan dengannya melalui sistem rekomendasi di platform digital seperti YouTube, Netflix, maupun navigasi pintar di Google Maps. Ia menyebut bahwa teknologi tersebut adalah bentuk awal implementasi AI yang kini semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Endang menjelaskan bahwa percepatan perkembangan AI terasa signifikan sejak kemunculan deep learning dan peningkatan kemampuan komputasi berbasis Graphics Processing Unit (GPU).
“Memang terasa cepat sekali perkembangannya, ketika muncul inovasi-inovasi dari penyedia GPU, yang menyebabkan teknologi AI yang sebelumnya itu ada keterbatasan menjadi lebih besar lagi,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa fondasi AI terletak pada algoritma dan sumber daya komputasi, dimulai dari machine learning tradisional, berkembang ke neural network, lalu deep learning, hingga transformer dan Large Language Model (LLM) yang mampu menampung pengetahuan lebih besar.
Ia juga menekankan bahwa akses terhadap AI kini jauh lebih terbuka dibanding masa lalu. Jika sebelumnya hanya pengembang yang mampu membuat sistem AI karena harus membangun model dan melatih data sendiri, kini masyarakat umum dapat memanfaatkan teknologi generatif melalui Application Programming Interface (API) tanpa latar belakang informatika. Hal ini membuat siapa pun berpotensi menjadi kreator solusi berbasis AI.
Menanggapi perbedaan persepsi masyarakat terhadap AI, ia menilai hal itu dipengaruhi oleh tingkat literasi dan pengalaman pengguna.
“Yang menganggap AI positif ya orang yang merasa diuntungkan dan yang negatif mungkin ada kekhawatiran dari segi sosial ekonomi akan tergantikan,” katanya.
Ketakutan tersebut menurutnya bukan fenomena baru karena sejak dahulu, setiap kemunculan teknologi baru selalu memunculkan pro dan kontra. Ia mencontohkan kalkulator yang dulu dianggap membuat manusia malas berhitung, tetapi akhirnya justru membantu menyelesaikan persoalan lebih kompleks.
Dalam pandangannya, AI tidak menggantikan manusia sepenuhnya melainkan mengubah struktur pekerjaan.
“Yang digantikan tuh bukan manusia digantikan oleh AI, tetapi mungkin manusia yang tidak mau belajar menggunakan AI dan yang mungkin akan tergantikan oleh manusia lain yang mau berkembang,” kata Dadang.
Ia menambahkan bahwa pekerjaan repetitif berpotensi terdampak. Namun pada saat yang sama muncul profesi baru seperti AI engineer dan prompt engineer.
Ia juga menyinggung pemanfaatan AI di berbagai sektor, mulai dari kendaraan otonom seperti produksi Tesla, analisis medis berbasis citra, hingga sistem pembelajaran digital.
Menurutnya, manfaat terbesar AI adalah membantu pekerjaan berulang dan mempercepat proses belajar karena pengguna dapat memperoleh ringkasan pengetahuan dengan cepat.
Meski demikian, Dadang mengingatkan bahwa risiko terbesar bukan pada keberadaan AI, melainkan penyalahgunaannya. Ia menilai teknologi ini ibarat pisau yang bisa bermanfaat atau berbahaya tergantung niat penggunanya.
Ia mencontohkan penyalahgunaan AI di media sosial seperti kasus penggunaan Grok dari platform X milik Elon Musk untuk tindakan pelecehan digital serta fenomena deepfake dan produksi hoaks otomatis.
Ia menjelaskan bahwa upaya penanggulangan sebenarnya sudah mulai dikembangkan, termasuk teknologi pendeteksi tulisan AI, sistem deteksi deepfake, dan AI yang dirancang untuk mengenali berita palsu. Ia menilai regulasi tetap diperlukan karena aturan khusus AI di Indonesia belum ada, meski beberapa regulasi seperti perlindungan data pribadi dan undang-undang informasi elektronik dapat bersinggungan dengan penggunaannya.
Dalam konteks pendidikan, ia menilai dan menegaskan penggunaan AI di kalangan mahasiswa dapat berdampak positif maupun negatif.
“AI itu bisa menurunkan kreativitas, ketika kita menggunakannya tetapi tidak secara beretika dan bertanggung jawab.”
Karena itu ia selalu mengingatkan mahasiswa agar menjadikan AI sebagai lawan dan teman belajar, bukan sumber jawaban instan. Ia menambahkan bahwa pengguna harus memiliki pengetahuan dasar, memverifikasi hasil AI, dan tidak mempercayainya sepenuhnya karena kemungkinan kesalahan tetap ada.
Menutup diskusi, ia mengajak generasi muda untuk tidak takut terhadap perkembangan teknologi, melainkan mempersiapkan diri dengan terus belajar dan beradaptasi. Ia menegaskan bahwa masa depan akan dipenuhi sistem yang terintegrasi AI sehingga kemampuan memahami teknologi menjadi kunci daya saing. Ia menyimpulkan bahwa AI memiliki sisi positif dan negatif, tetapi manfaatnya akan lebih besar jika digunakan secara bertanggung jawab dan kritis. (*)
