30 C
Jakarta

Dosen UMS Ulas Sejarah Perubahan Kiblat dan Wasathan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Sejarah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr, Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., menerangkan turunnya QS Al-Baqarah ayat 142-152 tentang perintah atas perubahan kiblat umat Muslim.

Rha’in, sapaan akrabnya, menjelaskan pada ayat 142 menjelaskan tentang tahwil kiblat (perubahan kiblat) dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah. Pengubahan kiblat tersebut atas perintah Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad.

Allah juga mengabarkan akan datang cemoohan dari kaum Yahudi perihal perintah perubahan kiblat. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menghalau cemoohan kaum Yahudi. Hal ini menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam mengendalikan siklus perputaran ruang dan waktu.

“Ayat ini menjadi deklarasi teologis/Ketuhanan tentang kedaulatan dan kekuasaan Allah atas ruang dan waktu. Semua arah adalah milik Allah dan dalam kendalinya,” paparnya, Rabu (25/2).

Pada ayat 143 menjelaskan tentang umat Wasathan. Dalam tafsir At-thobari, istilah ummatan wasathan dimaknai sebagai umat pilihan yang adil, yaitu tidak condong pada sikap berlebihan maupun kekurangan. Rha’in juga menerangkan ada lima prinsip wasathiyah:

1. Adil, tidak condong kemanapun
2. Tawazun (keseimabangan) artinya beragama dalam Islam harus imbang pada segala aspek.
3. Tasamuh (toleransi). Dalam konteks sesama Muslim, menghargai adanya perbedaan di kalangan umat Islam. Dalam konteks Nonmuslim, adanya kestabilan hidup beragama dalam masyarakat.
4. Maslahat (kebaikan). Islam hadir dengan membawa kemaslahatan untuk seluruh umat.
5. Khoiru ummah. Dasar untuk menjadi khoiru ummah yaitu, ilmu sebagai fondasi pada diri manusia.

Rha’in mengatakan bahwa Allah menjadikan umat Muhammad sebagai umat Wasathan, yang nantinya diproyeksikan menjadi pusat kemajuan peradaban dengan landasan rahmat Allah.

“Umat Islam menjadi pusat keseimbangan peradaban dan menjadi pilar pembangunan peradaban yang memancarkan rahmat,” tuturnya.

Selanjutnya, ayat 144 menceritakan sejarah perubahan kiblat. Menurut tafsir ibnu katsir, Rasulullah SAW selalu menengadahkan wajahnya ke langit, berharap kepada Allah untuk mengubah arah kiblat ke Ka’bah agar tidak terbawa dalam bayang-bayang orang Yahudi. Hingga pada akhirnya, Allah mengabulkan keinginan Rasulullah untuk adanya perubahan kiblat. Ayat ini juga menyinggung adanya penolakan kebenaran perubahan kiblat pada kalangan ahlul kitab saat itu.

“Ahlul kitab mengetahui akan kebenaran perubahan kiblat saat itu, akan tetapi mereka menyembunyikan dan menolak persoalan tersebut, karena didasari dengki terhadap kaum muslimin,” terangnya.

Pada ayat 145 terdapat penegasan kembali mengenai kebenaran perubahan kiblat. Walaupun ahlul kitab tidak mengikuti kiblat umat Islam karena atas faktor nabi terakhir bukan dari keturunan mereka, menurut Rha’in, permasalahan kiblat dapat diqiyaskan dalam hidup beragama, bahwa beragama harus sesuai dengan pedoman yang telah diajarkan.

“Kiblat dalam beragama Islam adalah Al-Quran dan hadits, maka tidak ada kiblat lain dalam beragama Islam selain Al-Quran dan hadits,” kata Rhain.

Ayat 146 menjelaskan gamblang pemahaman orang Yahudi dan Nasrani tentang sifat-sifat nabi Muhammad jauh sebelum nabi Muhammad lahir yang telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil, kitab pedoman mereka. Namun, mereka menutupi kebenaran-kebenaran tersebut.

Sesuai dengan ayat 147 bahwa setiap apa yang disampaikan Rasulullah merupakan kebenaran mutlak yang bersumber dari Allah SWt. Maka, tidak ada keraguan atas apa yang disampaikan Rasulullah.

Selanjutnya, ayat 148 menyatakan adanya perbedaan kiblat pada setiap umat. Seperti halnya orang kapitalis melihat Adam Smith menjadi kiblat mereka, orang sosialis/komunis menjadikan Karl Marx sebagai kiblat mereka. Maka Rha’in melalui ayat ini menegaskan sebagai orang Islam harus berlomba-lomba dalam segala aspek dengan berkiblat pada tuntunan Nabi Muhammad.

“Umat Islam harus berlomba-lomba atau bersaing pada kemajuan dalam segala lini sesuai dengan ajaran Rasulullah,” ungkapnya.

Ayat 149, Allah SWT kembali menegaskan untuk menghadap kiblat (Masjidil Haram) dalam melaksanakan ibadah, agar umat Muslim selalu ingat adanya perubahan kiblat, yang baru terjadi saat itu.

Pada ayat 150 terdapat pengulangan ayat sebelumnya yang menunjukkan pentingnya kesatuan arah sebagai simbol kesatuan umat. Ka’bah menjadi titik sentral yang menyatukan orang beriman dalam satu orientasi ibadah.

Lebih lanjut, ayat 151 menguraikan empat visi Rasulullah diutus ke bumi. Pertama, menyampaikan wahyu secara utuh. Kedua, takziyah atau penyucian jiwa dari kesyirikan. Ketiga, mengajarkan Al-quran dan Al-hadits kepada umatnya yang telah bersih jiwanya. Keempat, mengajarkan pengetahuan yang belum diketahui oleh umatnya.

Ayat 152, menjelaskan perintah untuk mengingat Allah dan selalu bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikannya. Maka, Rha’in mengatakan bahwa keharmonisan hubungan dengan Allah dibangun atas dua pilar tersebut.

“Ketika kita selalu mengingat Allah dan kehidupan dipenuhi dengan rasa syukur. Maka, ketenangan dan kenikmatan akan meluncur deras pada kehidupan kita,” tutupnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!