27.5 C
Jakarta

DPD IMM Jawa Tengah Jajaki Riset Berbasis Nilai ke SETARA Institute

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah terus memperkuat peran intelektual mahasiswa dengan menjajaki kolaborasi riset berbasis nilai. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan strategis ke SETARA Institute yang diikuti diskusi mendalam seputar produksi pengetahuan, isu kebangsaan, dan penguatan gerakan intelektual mahasiswa.

Kunjungan ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, S.Pd., M.M., bersama Jundi Abdulloh, S.Sos., dan Abdul Malik Anwar H., S.Pd. Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai pentingnya riset kritis dan pengelolaan pengetahuan yang berkelanjutan dalam gerakan mahasiswa.

Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, menegaskan bahwa IMM perlu mengambil posisi strategis sebagai produsen pengetahuan yang progresif. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi ilmiah atas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

“IMM harus mengambil peran strategis sebagai produsen pengetahuan yang progresif dan berkelanjutan. Tidak hanya aktif dalam aktivitas organisasi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjawab persoalan sosial di masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (8/1).

Ia menambahkan, penguatan tradisi intelektual harus dibarengi dengan pengelolaan produk pengetahuan yang terbuka dan akuntabel. Setiap hasil riset, kata dia, perlu dipetakan respons publiknya, baik dukungan maupun kritik, sebagai bagian dari dialektika dan pendewasaan pengetahuan.

SETARA Institute sendiri dikenal sebagai lembaga riset dan advokasi yang fokus pada isu demokrasi, pluralisme, hak asasi manusia (HAM), serta kebebasan sipil. Melalui pendekatan penelitian, pendidikan publik, dan advokasi kebijakan, SETARA Institute aktif mendorong praktik kebangsaan yang konstitusional dan inklusif.

Dalam diskusi tersebut, peneliti SETARA Institute, Halili Hasan, M.A., menekankan pentingnya kemandirian organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi mahasiswa, dalam memproduksi pengetahuan. Ia menilai ketergantungan penuh pada donor atau dukungan finansial besar dapat memengaruhi independensi riset.

Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah Responsible Business Conduct (RBC) atau perilaku bisnis yang bertanggung jawab. SETARA Institute mengembangkan RBC Benchmark untuk menilai penerapan prinsip HAM dan tanggung jawab sosial oleh entitas bisnis. Penilaian ini merujuk pada standar internasional seperti United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights, yang meskipun bersifat sukarela, dinilai penting untuk terus didorong agar lebih akuntabel di tingkat nasional.

Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya knowledge management dalam pengelolaan hasil riset. Pertemuan yang digelar pada Kamis (11/12) tersebut turut membahas pengembangan indeks dan pemetaan sosial, termasuk wacana penyusunan Indeks Kota Islami. Indeks ini dinilai perlu disusun dengan metodologi yang kuat, kontekstual, dan sensitif terhadap keragaman demografi, sosial, serta keagamaan.

Jawa Tengah disebut memiliki potensi besar sebagai laboratorium riset sosial karena karakter wilayahnya yang beragam, mulai dari kawasan pantai utara hingga selatan. Melalui kunjungan ini, DPD IMM Jawa Tengah berharap dapat memperkaya perspektif riset sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai aktor intelektual yang berkontribusi bagi pembangunan masyarakat berbasis nilai dan keadilan sosial. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!