SRAGEN, MENARA62.COM – Inovasi pertanian berbasis teknologi kembali digulirkan oleh dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui program pengabdian masyarakat bertajuk E-Mekanisasi dalam Budidaya Sayuran Hidroponik di Kelompok Tani Sinergi, Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran.
Program ini digagas oleh Farid Adi Prasetya, MM., M.Hum bersama tim yang terdiri atas Ir. Amin Sulistyanto, ST., MT., M.Si., dan Ir. Dedi Ary Prasetyo, ST., MEng sebagai upaya mendorong modernisasi pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Farid menjelaskan, program e-mekanisasi hadir untuk menjawab berbagai tantangan yang selama ini dihadapi petani, mulai dari keterbatasan variasi tanaman, rendahnya efisiensi produksi, hingga sistem pengelolaan usaha tani yang masih konvensional.
“Melalui penerapan teknologi hidroponik berbasis mekanisasi, kami ingin meningkatkan kapasitas produksi, memperluas diversifikasi tanaman, serta menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan teknologi ini memberikan berbagai manfaat nyata bagi petani. Selain mampu menghemat penggunaan air hingga 50 persen, sistem hidroponik e-mekanisasi juga mengurangi ketergantungan terhadap lahan tanah serta meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.
Tak hanya itu, program ini juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Produktivitas yang meningkat serta diversifikasi produk memungkinkan petani memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.
Dari sisi potensi wilayah, Desa Kliwonan dinilai memiliki sumber daya yang mendukung pengembangan pertanian modern. Lahan yang luas dan subur serta tingginya permintaan pasar terhadap sayuran hidroponik menjadi peluang besar yang terus dikembangkan.
Amin Sulistyanto berharap program ini mampu menciptakan kemandirian kelompok tani dalam mengelola usaha berbasis teknologi. “Kami ingin program ini tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga membentuk ekosistem pertanian modern yang bisa menjadi contoh bagi desa lain,” katanya.
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap dan partisipatif. Dedi Ary Prasetya menjelaskan, kegiatan diawali dengan sosialisasi, dilanjutkan pelatihan teknik hidroponik dan penggunaan alat mekanisasi, kemudian implementasi teknologi di lapangan, serta pendampingan dan evaluasi untuk memastikan keberlanjutan program.
Dalam praktiknya, sistem hidroponik yang diterapkan menggunakan instalasi modern dengan pengairan terkontrol. Proses penyiraman, pemberian nutrisi, hingga pengelolaan tanaman dilakukan secara otomatis sehingga beban kerja petani menjadi lebih ringan.
Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan pada produksi dan variasi tanaman. Ketua Kelompok Tani Sinergi, Emantho, mengungkapkan bahwa produksi sayuran meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
“Sekarang kami tidak hanya menanam satu dua jenis saja, tetapi sudah bisa mengembangkan berbagai sayuran hidroponik seperti selada dan sawi,” ungkapnya.
Selain peningkatan produksi, kemampuan dan keterampilan petani dalam mengelola usaha tani juga mengalami kemajuan. Para anggota kelompok tani mengaku terbantu dengan teknologi yang mempermudah pekerjaan sekaligus meningkatkan semangat gotong royong.
Program yang didanai oleh DRPPS UMS tahun 2025–2026 ini menargetkan terciptanya kemandirian kelompok tani dalam mengelola budidaya hidroponik berbasis e-mekanisasi secara berkelanjutan. Ke depan, diharapkan sistem pemasaran juga semakin berkembang dengan memanfaatkan platform digital.
Secara keseluruhan, program e-mekanisasi menjadi langkah strategis dalam mentransformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal. (*)

