Oleh M. Farid Wajdi
Guru besar ilmu manajemen UMS Surakarta, dan Pemerhati masalah sosial masyarakat
SOLO, MENARA62.COM – Kasus Jeffrey Epstein yang heboh seharusnya sudah selesai: seorang predator seksual kelas kakap, bunuh diri di penjara, lalu titik selesai. Namun kenyataannya tidak demikian. Justru setelah kematiannya, pertanyaan publik semakin menguat: mengapa begitu banyak nama elite dunia bersinggungan dengannya, namun nyaris tak ada konsekuensi hukum yang setara? Di sinilah kecurigaan berubah menjadi kesadaran umum: ini bukan sekadar kejahatan individu, melainkan potret kerusakan sistemik dalam arsitektur kekuasaan global.
Ketika Hukum Keadilan Lumpuh di Hadapan Elite
Dalam masyarakat modern (perdebatan para lawyer), hukum sering diagungkan sebagai penopang keadilan. Namun kasus Epstein memperlihatkan batas telanjang hukum ketika berhadapan dengan uang, jaringan, dan kekuasaan lintas negara. Banyak korban bersuara, bukti berlimpah, namun proses hukum seperti berjalan di lorong gelap yang tak pernah berujung.
Kondisi ini melahirkan satu kesimpulan pahit: ada kelas manusia yang hidup di atas hukum, dan kelas inilah yang kerap menciptakan konflik, krisis, bahkan perang—tanpa pernah menanggung akibat langsungnya.
Seks, Anak, dan Simbol Dekadensi Elite
Mengapa hampir semua skandal elite berujung pada eksploitasi seksual, bahkan terhadap anak? Betul-betul sadis. Ini bukan kebetulan biologis, melainkan indikator peradaban yang kehilangan batas moral. Dalam sejarah Romawi, Babilonia, hingga kerajaan-kerajaan modern, kehancuran selalu diawali oleh elite yang menganggap tubuh manusia lain sebagai komoditas.
Di titik ini, isu ritual, okultisme, dan praktik simbolik gelap menjadi muncul. Apakah semuanya nyata? Bisa tidak selalu. Namun yang pasti, elite yang hidup tanpa akuntabilitas bersih selalu menciptakan mitologi kekuasaan—rasa “terpilih”, “kebal”, dan “di atas manusia biasa”. Simbol hanyalah ekspresi. Yang lebih berbahaya adalah keyakinan bahwa mereka tak lagi terikat oleh moral umum.
Ideologi, dan Kesalahan Membaca Musuh
Narasi publik sering tergelincir: mencari kambing hitam pada agama, etnis, atau ideologi tertentu. Ini jebakan klasik. Sejarah menunjukkan bahwa iblis paling berhasil ketika manusia salah pilih sasaran dalam membenci.
Masalahnya bukan Barat, Timur, atau agama apa pun sebagai identitas. Masalahnya adalah pada ideologi yang membenarkan penindasan, memutihkan kekerasan, dan meniadakan martabat manusia lain demi “tujuan besar”.
Ketika suatu ideologi: kebal dari kritik moral, menganggap korban hanya sebagai “kerusakan sampingan”, dan menempatkan elite sebagai makhluk istimewa, maka ia telah bertransformasi menjadi alat kejahatan struktural, apa pun labelnya.
Mengapa Konflik Dunia Buntu Solusi
Di sinilah benang merahnya. Konflik global hari ini—perang, krisis kemanusiaan, ketimpangan ekstrem—bukan semata konflik ideologi, tetapi hasil langsung tingkah dari elite global yang hidup tanpa empati dan tanpa takut risiko personal. Mereka tidak berada di medan perang. Anak mereka tidak menjadi korban. Tubuh mereka tidak diperdagangkan. Maka konflik menjadi instrumen, bukan tragedi.
Siapa Musuh Sebenarnya Kejahatan?
Lintas agama dunia sepakat dalam satu hal: kejahatan paling takut pada manusia yang sadar bermental (iman) kuat. Bukan takut pada simbol agama, bukan pada ibadah ritual, bukan pada slogan moral, tetapi pada: manusia yang berpikir kritis, masyarakat yang membela korban, institusi yang transparan, dan agama yang berani mengoreksi kekuasaan. Tak heran jika pendidikan kritis dilemahkan, media dibanjiri distraksi, dan agama sering direduksi menjadi seremonial, nyanyian pujian tanpa daya etik. Karena manusia sadar sulit dikendalikan.
Indonesia: Jangan Menjadi Penonton Naif
Bagi Indonesia, pelajaran terbesar dari kasus Epstein dan konflik global bukan untuk larut dalam paranoia, melainkan membangun kewaspadaan moral nasional. Ancaman terbesar bukan infiltrasi asing, tetapi justru pembiaran elite lokal berkuasa penuh kepalsuan tanpa akhlak, tanpa kontrol, dan tanpa rasa malu. Bangsa ini berdiri di atas nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Ketika nilai itu dikorbankan demi stabilitas semu dan kekuasaan jangka pendek, maka tanpa simbol apa pun, kejahatan sudah menang.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa iblis tidak pernah memaksa manusia berbuat jahat; ia hanya membisikkan janji kenikmatan, rasa aman, dan ilusi kekebalan dari konsekuensi. “Aku hanya menyeru, lalu kamu memenuhi seruanku,” demikian pengakuannya kelak. Godaan terbesar bukanlah kekerasan, melainkan normalisasi penyimpangan—ketika yang salah dibuat tampak wajar, bahkan istimewa. Karena itu, perlawanan sejati terhadap kejahatan modern bukan terletak pada slogan moral atau kemarahan publik, melainkan pada keberanian walau sunyi untuk menolak ikut, berdiri dengan terhormat, dan menjaga nurani tetap hidup meski sendirian. Di situlah iblis kehilangan pijakan, dan di situlah martabat manusia dipertahankan.
Nurani dan Elite
Kasus Epstein bukan anomali. Ia adalah retakan point of view yang memperlihatkan fondasi peradaban elite global yang rapuh. Dan sejarah selalu kejam pada peradaban yang menganggap dirinya terlalu besar untuk bisa runtuh.
Pertarungan hari ini bukan antara agama, bangsa, atau ideologi, melainkan antara kekuasaan tanpa nurani dan manusia-manusia yang masih berani menjaga dan memperjuangkan martabatnya.
Jika nurani dan manusia yang berani bersuara kalah, maka dunia tak perlu iblis bermata merah. Keberadaan elite tanpa empati sudah lebih dari cukup – menggantikan Iblis.
