30 C
Jakarta

Guru Solo Belajar Coding dan AI Era 5.0

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Puluhan tenaga pendidik dari SD Muhammadiyah 1 Solo bersama mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan 2026 dari Universitas Muhammadiyah Surakarta mengikuti Workshop Sekolah Model Pembelajaran Mendalam, Coding, dan Kecerdasan Artifisial di Red Chilies Hotel Surakarta, Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi 5.0 yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki akar nilai yang kuat serta wawasan luas. Workshop diikuti 43 peserta dari internal sekolah dan lima mahasiswa PPG UMS.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Sayekti, menegaskan bahwa membangun generasi unggul di era 5.0 membutuhkan keseimbangan antara keimanan, tindakan nyata, dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman.

“Peserta harus hadir secara utuh dalam proses belajar, melibatkan pikiran dan hati, serta membuka diri terhadap paradigma baru,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi coding dan kecerdasan artifisial (AI) bukan sekadar mengikuti tren, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas kemanusiaan.

“Ini adalah bentuk pencarian ilmu untuk mengangkat derajat manusia, bukan sekadar tren teknologi,” tambahnya.

Menurut Sayekti, fondasi utama tetap pada DNA pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan transformasi pendidikan yang pernah dilakukan oleh Ahmad Dahlan dalam menghadirkan sistem pendidikan yang holistik.

“Jika dahulu KH Ahmad Dahlan mereformasi pendidikan kolonial, kini di era 5.0 kita mengoptimalkan akal melalui AI dan koding untuk kemanfaatan bersama,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya perubahan pola pikir (mindset) guru untuk meninggalkan pembelajaran dangkal menuju pembelajaran mendalam. Hal ini dinilai krusial agar siswa mampu bertahan dan memimpin di tengah derasnya arus digitalisasi.

Sayekti memaparkan sejumlah keterampilan utama yang harus dimiliki generasi masa depan, antara lain literasi digital, kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, kreativitas dalam menciptakan solusi, adaptasi terhadap perubahan cepat, serta kemampuan kolaborasi lintas ruang fisik dan digital.

Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis hafalan tidak lagi relevan di era kecerdasan buatan.

“AI jauh lebih unggul dalam menghafal. Jika pembelajaran hanya berorientasi pada instruksi, maka siswa akan menjadi pasif dan kehilangan kedalaman berpikir,” tegasnya.

Workshop ini diharapkan mampu melahirkan pendidik yang adaptif, inovatif, dan siap mencetak generasi 5.0 yang unggul, berkarakter, serta mampu bersaing di era transformasi digital. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!