30 C
Jakarta

Hadiri Ramadan Ceria MPKS Muhammadiyah, Mendikdasmen Sampaikan Komitmen Pemerintah Layani Pendidikan Penyandang Difabel

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah menggelar kegiatan Ramadan Ceria bersama 1.000 Difabel dan Dhuafa di Masjid Baitut Tholibin, Komplek Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini mengusung tema Merajut Inklusi, Menebar Ceria” sebagai upaya memperkuat kepedulian sosial sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi penyandang disabilitas dan masyarakat kurang mampu selama bulan suci Ramadan.

Acara tersebut diikuti sekitar 1.600 peserta, yang terdiri atas 890 penyandang difabel, 600 pendamping, serta 102 relawan yang terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kebersamaan. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Muhammadiyah dalam memperjuangkan inklusi sosial serta pemberdayaan kelompok rentan di masyarakat. Kegiatan Ramadan Ceria ini merupakan penyelenggaraan tahun ketiga sejak pertama kali digelar dan terus mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Selain kegiatan kebersamaan dan santunan, dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan aplikasi PijatMu, sebuah layanan jasa pijat yang dirancang untuk melibatkan penyandang difabel sebagai tenaga profesional. Aplikasi ini diharapkan dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi bagi para penyandang disabilitas agar memiliki kesempatan kerja yang lebih luas dan mandiri.

Tidak hanya itu, acara ini juga menjadi momentum peluncuran program Mudik Ramah Difabel, yang bertujuan memberikan kemudahan akses transportasi dan pelayanan bagi penyandang disabilitas saat melakukan perjalanan mudik pada masa libur Lebaran. Program ini diharapkan dapat menciptakan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi semua kalangan.

Dalam kegiatan tersebut hadir pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, yang menyampaikan komitmen pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak Indonesia, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurut Abdul Mu’ti, komitmen tersebut merupakan amanat dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak dan berkualitas.

“Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen untuk memberikan layanan pendidikan bermutu bagi semua anak Indonesia. Ini merupakan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan layanan pendidikan khusus,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat sistem pendidikan inklusif melalui berbagai kebijakan dan program yang mendukung partisipasi anak-anak berkebutuhan khusus dalam pendidikan formal. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak-anak lainnya di sekolah umum yang menerapkan sistem pendidikan inklusif.

Selain memperkuat pendidikan formal, pemerintah juga berencana menambah jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) guna memastikan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.

Di sisi lain, Kemendikdasmen juga berupaya memperkuat pendidikan nonformal melalui berbagai program pelatihan keterampilan yang dapat diikuti oleh seluruh anak Indonesia, termasuk penyandang disabilitas. Pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dan kemandirian peserta didik dalam menghadapi tantangan kehidupan.

“Melalui pendidikan formal, pendidikan khusus, serta pendidikan nonformal dengan berbagai pelatihan keterampilan, kami ingin memastikan bahwa seluruh anak Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang,” jelasnya.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa setiap anak Indonesia memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang, terlepas dari kondisi fisik, intelektual, maupun latar belakang ekonomi mereka. Oleh karena itu, masyarakat perlu membangun lingkungan yang inklusif dan terbuka bagi semua anak.

“Semua anak Indonesia, apapun keadaannya, di manapun mereka berada, serta bagaimanapun kondisi ekonomi, fisik, dan intelektualnya, berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa inklusi bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga tentang membangun hubungan sosial yang menghargai perbedaan serta menerima semua orang tanpa diskriminasi.

“Ini merupakan bagian dari relasi sosial yang sehat, di mana kita menerima seluruh anak Indonesia tanpa kecuali, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Kita harus meyakini bahwa semua anak memiliki potensi untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa,” katanya.

Melalui kegiatan Ramadan Ceria ini, Muhammadiyah berharap semangat inklusi dan kepedulian sosial terhadap penyandang disabilitas dapat semakin kuat di tengah masyarakat. Program ini juga diharapkan mampu memberikan ruang bagi para difabel untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun pendidikan.

Dengan kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah, relawan, dan masyarakat luas, diharapkan berbagai program inklusif seperti ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi kelompok rentan di Indonesia.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!