25.8 C
Jakarta

Haedar Nashir: Darul Arqam UMS Perkuat One Muhammadiyah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan pentingnya penguatan nilai Islam Berkemajuan dalam tata kelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), termasuk di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hal tersebut disampaikannya saat memberikan amanat dalam kegiatan Darul Arqam Pimpinan UMS, Rabu (7/1), yang diikuti jajaran pimpinan universitas, mulai dari Badan Pembina Harian (BPH), rektorat, dekan, hingga direktur unit kerja.

 

Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang dibangun dengan sistem yang kuat, namun digerakkan oleh nilai. Tanpa nilai, menurutnya, sistem dan birokrasi hanya akan menjadi mesin yang kering dan kehilangan ruh.

 

Muhammadiyah itu organisasi berbasis sistem, tetapi digerakkan oleh value. Tanpa nilai, birokrasi kampus akan menjadi mesin tanpa jiwa. Nilai itu adalah Islam, Islam yang ya’lu wa la yu’la ‘alaih, Islam yang unggul,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Darul Arqam di lingkungan AUM sebesar UMS menjadi sangat penting sebagai ruang penguatan ideologi dan konsolidasi nilai keislaman. Terlebih, Risalah Islam Berkemajuan yang diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah harus diterjemahkan secara konkret dalam bentuk keunggulan akademik dan pelayanan.

 

Dalam konteks pengelolaan perguruan tinggi, Haedar menekankan pentingnya semangat One Muhammadiyah, One UMS sebagai wujud integrasi dan kebersamaan. Ia mengingatkan agar seluruh pimpinan tidak terjebak pada ego sektoral antarunit atau fakultas.

 

“Kita tidak bisa lagi berpikir parsial. Ini fakultas saya, ini biro saya. Tidak. Kita semua bagian dari satu tubuh Persyarikatan,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Haedar mengingatkan bahwa kepemimpinan di UMS bukanlah sebuah privilese, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Ia mengutip hadis kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi sebagai pengingat bahwa setiap pimpinan memiliki tanggung jawab moral dan ideologis.

 

Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan sumber daya manusia di UMS, tidak hanya pembangunan fisik kampus. Menurutnya, karakter dan akhlak civitas academica menjadi pembeda utama UMS dengan perguruan tinggi lain.

 

“UMS tidak cukup hanya besar secara fisik. Yang lebih penting adalah pembangunan manusianya. Dosen dan tenaga kependidikan UMS harus berbeda, unggul dalam akhlak, integritas, dan semangat Al-Ma’un,” tuturnya.

 

Menghadapi tantangan Muhammadiyah di abad kedua, Haedar menekankan perlunya pimpinan yang visioner, membumi, serta memiliki kedalaman pemahaman agama dan ilmu pengetahuan. Ia menyebut profil tersebut sebagai Ulul Albab, sosok ideal pemimpin Muhammadiyah masa depan.

 

Menutup amanatnya, Haedar menitipkan harapan agar UMS terus dikembangkan sebagai Center of Excellence yang mencerahkan dan membawa kemaslahatan bagi semesta.

 

“Jangan lelah mencintai Muhammadiyah. Jangan lelah berbuat baik di UMS. Insyaallah setiap keringat dan pikiran yang dicurahkan akan menjadi amal jariyah,” pungkasnya.

 

Ia mengajak seluruh pimpinan untuk meluruskan niat, menggembirakan hati dalam bermuhammadiyah, serta meneguhkan langkah dalam spirit nasrun minallah wa fathun qarib. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!