30 C
Jakarta

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mendikdasmen Pastikan Pembelajaran Tatap Muka Berjalan Normal

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar pada hari pertama masuk sekolah berjalan normal dengan sistem tatap muka penuh. Hal tersebut disampaikan usai melakukan halal bihalal nasional di lingkungan Kemendikdasmen, Senin (30/3/2026).

Dalam keterangannya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa seluruh jajaran pimpinan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut turun langsung ke lapangan untuk memantau pelaksanaan hari pertama sekolah.

“Kami menugaskan para pejabat eselon I menjadi pembina upacara di berbagai sekolah di Jakarta dan sekitarnya untuk memastikan pembelajaran berjalan secara tatap muka seperti biasa,” ujarnya.

Selain Mendikdasmen, sejumlah pejabat tinggi juga melakukan kunjungan ke berbagai sekolah. Wakil Menteri dan pejabat lainnya hadir di sejumlah lokasi seperti SMA di kawasan Jakarta dan sekitarnya, guna memberikan arahan langsung kepada siswa dan tenaga pendidik.

Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa proses pendidikan pada semester ini berjalan normal tanpa pengurangan jam tatap muka.

“Tidak ada pengurangan tatap muka. Semua sudah kami atur melalui surat edaran dan telah disampaikan ke dinas pendidikan serta seluruh UPT,” tegasnya.

Dorong Budaya Sekolah ASRI

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menekankan arahan Presiden terkait pembangunan budaya sekolah yang lebih baik. Fokus utama diarahkan pada terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan sehat bagi siswa.

Selain itu, sekolah juga didorong untuk menerapkan kebiasaan ramah lingkungan, seperti penghematan penggunaan listrik dan air, mengurangi polusi melalui penggunaan transportasi umum dan mendorong siswa berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah

“Kalau jarak rumah dekat dan aman, tidak ada salahnya siswa berjalan kaki atau bersepeda. Ini sehat sekaligus hemat energi,” jelasnya.

Hari pertama sekolah juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk menyosialisasikan kebijakan baru terkait pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong penggunaan teknologi secara lebih bijak dan edukatif.

Menurut Abdul Mu’ti, penggunaan media sosial dan perangkat digital harus diarahkan untuk kegiatan yang mendukung pembelajaran, bukan sebaliknya.

“Kita ingin membangun kesadaran bahwa media, khususnya media sosial, harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang edukatif,” tegasnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!