30 C
Jakarta

Idulfitri Dongkrak Ekonomi Rakyat, Guru Besar UMS Tekankan Peran Sektor Riil

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Hari Raya Idulfiitri tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Islam, tetapi juga membawa dampak signifikan terhadap dinamika perekonomian masyarakat. Guru Besar Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Muhammad Sholahuddin, S.E., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa Idulfitri menghadirkan “keberkahan ekonomi” yang dirasakan secara luas oleh berbagai lapisan masyarakat.

 

Menurutnya, setiap tahunnya, Idulfitri selalu menjadi momentum yang menggembirakan, tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga bagi seluruh pelaku ekonomi, mulai dari pemasok, penjual, hingga pembeli.

 

“Hari raya membawa berkah. Dalam konteks ekonomi, semua pihak merasakan kebahagiaan karena adanya peningkatan aktivitas transaksi,” ungkapnya, Rabu, (25/3).

 

Ia menjelaskan bahwa perputaran uang selama Idul Fitri berlangsung sangat dinamis dan merata. Kondisi ini, kata Muhammad Sholahuddin, dapat dianalogikan seperti aliran darah dalam tubuh manusia.

 

“Ekonomi itu akan sehat jika uang beredar dengan lancar, tidak hanya menumpuk di satu titik. Seperti darah yang mengalir, jika tersumbat, tubuh akan sakit. Begitu pula ekonomi,” jelasnya.

 

Momentum mudik dan tradisi belanja masyarakat, kata dia, menjadi faktor utama yang mendorong distribusi uang dari kota ke desa maupun sebaliknya. Uang yang sebelumnya terakumulasi di pusat-pusat ekonomi, tersebar hingga ke lapisan masyarakat bawah. Hal ini memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha kecil, seperti pedagang makanan kaki lima, yang mengalami peningkatan pendapatan secara signifikan.

 

“Bayangkan jika uang hanya berputar di sektor non-riil seperti pasar modal, tanpa ada aktivitas konsumsi di masyarakat. Maka yang terjadi adalah ketimpangan. Sementara saat Idulfitri, uang benar-benar mengalir hingga ke bawah, sehingga semua merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fenomena ini menjadi bukti bahwa sektor riil memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ekonomi. Aktivitas jual beli secara langsung dinilai lebih memberikan dampak luas dibandingkan investasi spekulatif yang hanya berputar di kalangan tertentu.

 

Meski demikian, ia juga mengingatkan agar euforia konsumsi selama Idulfitri tetap diarahkan pada hal yang produktif dan berkelanjutan. Terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), momentum ini perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas produk.

 

“Ke depan, UMKM perlu mulai berorientasi pada produk yang green dan healthy. Ini bukan hanya tren, tetapi investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat,” paparnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung transformasi tersebut. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, media, dan masyarakat. Dalam konsep pentahelix, kampus dapat berkontribusi dalam edukasi terkait pola konsumsi sehat dan produksi berkelanjutan.

 

“Perguruan tinggi punya tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat. Misalnya melalui ilmu gizi, pengabdian masyarakat, hingga pendampingan UMKM. Jika kesadaran ini tumbuh, maka ke depan masyarakat akan lebih sehat, bahkan beban layanan kesehatan bisa berkurang,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!