SUKOHARJO, MENARA62.COM – Fenomena antrean pendaftaran atau indent siswa hingga tahun 2031 menjadi sorotan dalam dunia pendidikan dasar Islam. Hal ini terungkap saat SDTQ Al Ikhlas Mojolaban melakukan studi tiru ke SD Muhammadiyah Palur Program Khusus pada Rabu (1/4/2026).
Kunjungan yang berlangsung di wilayah Sukoharjo ini bertujuan menggali strategi manajemen sekolah serta inovasi pembelajaran yang sukses menarik minat masyarakat secara signifikan.
Dalam pemaparannya, Nur Laili menjelaskan salah satu program unggulan sekolah, yakni Kelas ICT (Information and Communication Technology), yang telah berjalan hampir satu tahun. Program ini mengusung sistem pembelajaran berbasis digital secara menyeluruh.
“Melalui LMS, seluruh proses belajar hingga ujian dilakukan menggunakan laptop masing-masing siswa. Bahkan, saat pembagian rapor, siswa mempresentasikan kemampuan digital mereka di hadapan orang tua,” ujarnya.
Selain Kelas ICT, program Kelas Khusus Tahfidz juga menjadi daya tarik utama dan kini telah memasuki tahun ketiga. Menurut Nur Laili, keberhasilan program-program tersebut tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor di lingkungan sekolah.
“Kunci utama kami adalah sinergi antarbidang, melibatkan guru, karyawan, hingga peran aktif wali murid,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Choerul Anam yang menyoroti strategi komunikasi sekolah. Ia menyebutkan bahwa transformasi digital menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan dengan masyarakat.
Di bawah pengelolaan tim kreator konten, sekolah secara rutin memproduksi video, flyer, hingga rilis berita. Distribusi konten dilakukan secara masif melalui jejaring internal guru dan karyawan.
“Setelah konten siap, seluruh guru dan staf serentak membagikannya melalui Story WhatsApp. Ini efektif menjangkau kontak personal masing-masing,” jelasnya.
Strategi yang disebut sebagai “gerilya digital” ini terbukti efisien. Bahkan, sejak 2025, sekolah tidak lagi menggunakan spanduk fisik sebagai media promosi utama. Meski demikian, pendekatan langsung ke Taman Kanak-Kanak (TK) tetap dilakukan.
Dampaknya terlihat nyata pada data Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Pendaftaran tahun ajaran 2026 telah ditutup lebih awal, kuota 2027 telah terlampaui, dan antrean calon siswa bahkan sudah mencapai tahun 2031.
“Alhamdulillah, respons masyarakat sangat luar biasa,” ungkap Anam.
Sementara itu, pihak SDTQ Al Ikhlas Mojolaban menyatakan bahwa hasil studi tiru ini akan menjadi referensi strategis untuk pengembangan lembaga. Sinergi antar sekolah diharapkan mampu mencetak generasi Qurani yang adaptif terhadap teknologi sekaligus berkarakter kuat. (*)
