30 C
Jakarta

Indonesia dalam Pusaran Transformasi Pendidikan Tinggi Global

Baca Juga:

Oleh: Bambang Hendrawan*

 

BATAM, MENARA62.COM – Transformasi pendidikan tinggi sedang berlangsung secara global. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat memperoleh gelar akademik, tetapi menjadi motor utama dalam menghasilkan inovasi, mengembangkn teknologi, memecahkan persoalan masyarakat, dan mendorong transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Roadmap “Transforming Higher Education: Global Collaboration on Visioning and Action” yang baru saja dirilis UNESCO pada 12 Maret 2026 lalu menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus bergerak menuju paradigma baru, yaitu: lebih inklusif, lebih kolaboratif, lebih relevan dengan dunia kerja, dan lebih berorientasi pada dampak sosial serta inovasi teknologi.

Perguruan tinggi masa depan dituntut mampu mengintegrasikan tiga fungsi utama secara simultan: pendidikan, riset, dan inovasi sosial. Ketiga fungsi tersebut harus terintegrasi, tidak lagi berdiri sendiri dalam satu ekosistem yang tidak lagi sekedar menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menjadi mesin penggerak Pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan melalui pemaanfaatan pengetahuan baru, inovasi teknologi, dan solusi bagi masyarakat. Di Indonesia, arah transformasi tersebut sebenarnya sudah mulai tercermin dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Renstra Kemdiktisaintek 2025–2029) yang menempatkan pendidikan tinggi dan riset sebagai pilar penting menuju Indonesia Emas 2045.

 

Namun jika dibandingkan kondisi pendidikan tinggi di Indonesia saat ini dengan roadmap global UNESCO, terlihat bahwa masih terdapat beberapa kesenjangan struktural yang perlu mendapat perhatian serius.

 

Akses Pendidikan Tinggi dan Tantangan Inklusivitas

Salah satu prinsip utama dalam roadmap UNESCO adalah memperluas akses pendidikan tinggi secara inklusif. Pendidikan tinggi tidak boleh hanya menjadi privilege kelompok tertentu, tetapi harus menjadi kesempatan bahkan hak yang dapat diakses sepanjang hayat bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kapasitas diri. Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memperluas akses tersebut melalui program beasiswa dan peningkatan kapasitas perguruan tinggi. Namun angka partisipasi pendidikan tinggi masih berada di sekitar 32 persen, di bawah target yang pernah ditetapkan sebesar 37,63 persen. Selain itu, kesenjangan akses antara wilayah, terutama antara kawasan barat dan timur Indonesia, masih cukup signifikan.

 

Dalam konteks ini, penting disadari bahwa peningkatan akses pendidikan tinggi tidak dapat hanya mengandalkan perguruan tinggi negeri (PTN), mengingat kebutuhan akses pendidikan tinggi terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif. Di sinilah Peran Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi sangat strategis dan tidak tergantikan sebagai tulang punggung perluasan akses. Dengan jumlah institusi yang besar dan jangkauan yang luas, PTS berperan nyata dalam menampung jutaan generasi muda usia kuliah yng tidak tertampung di PTN selama ini. Dukungan menjaga keberlanjutan dan kualitas PTS di tengah tantangan yang dihadapi PTS saat ini antara lain penurunan jumlah mahasiswa, ketimpangan kebijakan, serta persaingan yang semakin ketat dengan PTN perlu terus diberikan, melalui strategi nasional yang memastikan bahwa sistem pendidikan tinggi Indonesia tetap inklusif, beragam, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tanpa penguatan serius terhadap PTS, upaya meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi dan menjaga inklusivitas sistem nasional akan sulit tercapai.

 

Selain itu dalam konteks peningkatan ragam inklusivitas pola pembelajaran, konsep pembelajaran sepanjang hayat masih kurang mendapat perhatian dan belum menjadi arsitektur utama dalam membangun akses inklusif dalam sistem pendidikan tinggi nasional . Padahal di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, terutama akibat perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi, kemampuan reskilling dan upskilling keterampilan agar tetap relevan sepanjang karier akan menjadi kebutuhan yang semakin penting.

 

Dalam Roadmap UNESCO, perguruan tinggi masa depan tidak lagi hanya melayani mahasiswa usia kuliah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat yang terus menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi vokasi, khususnya politeknik dengan model pembvelajaran voksi yang lebih fleksibel, dapat memainkan peran penting sebagai jalur pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta dunia kerja dan juga dpat dikembangkan menjadi platform pembelajaran sepanjang hayat melalui program microcredential, pelatihan industri, sertifikasi professional dan program reskilling tenaga kerja. Namun untuk menjalankan peran tersebut secara optimal, politeknik perlu diperkuat tidak hanya dari sisi kapasitas pendidikan, tetapi juga dari sisi kualitas inovasi dan kolaborasi industri

 

Kesenjangan Relevansi Lulusan

Tantangan berikutnya adalah kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Renstra Kemdiktisaintek juga mengakui bahwa masih terdapat ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Hal ini terlihat dari masih rendahnya tingkat penyerapan lulusan di pasar kerja dalam waktu singkat setelah kelulusan.

Padahal dalam roadmap UNESCO, pembelajaran masa depan justru harus mengedepankan problem-based learning dan experiential learning, yaitu pembelajaran berbasis proyek nyata dan pengalaman praktik industri. Menariknya, pendekatan tersebut sebenarnya merupakan karakter dasar Pendidikan tinggi vokasi. Kurikulum berbasis praktik, magang industri, serta pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang sudah lama diterapkan di banyak politeknik dan sangat selaras dengan paradigma pendidikan tinggi masa depan. Artinya, jika dikembangkan secara optimal, pendidikan tinggi vokasi justru dapat menjadi model pembelajaran masa depan bagi pendidikan tinggi Indonesia. Yang masih perlu diperkuat adalah integrasi yang lebih sistematis antara pendidikan, industri, dan inovasi teknologi.

 

Riset dan Inovasi yang Belum Optimal

Tantangan lain yang dihadapi pendidikan tinggi Indonesia adalah rendahnya dampak riset terhadap pembangunan ekonomi dan sosial. Renstra Kemdiktisaintek menegaskan perlunya perubahan paradigma dari riset yang berorientasi output sekadar menghasilkan publikasi menuju riset yang berorientasi dampak bagi masyarakat dan industri. Namun hingga saat ini, hilirisasi hasil penelitian masih relatif terbatas Selama ini banyak penelitian di perguruan tinggi yang berhenti pada publikasi ilmiah tanpa berlanjut pada inovasi teknologi atau pemanfaatan oleh industri.

Padahal, dalam roadmap UNESCO, perguruan tinggi masa depan justru dipandang sebagai bagian dari innovation ecosystem, yaitu ekosistem yang menghubungkan pendidikan, riset, industri, dan masyarakat. Dalam ekosistem ini, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan teknologi, inkubator startup, serta katalisator inovasi regional.

 

Inisiatif Transformasi Pendidikan Tinggi`

Dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul berbagai inisiatif kolaboratif yang mencoba mendorong transformasi pendidikan tinggi di Indonesia. Salah satunya adalah Indonesia Higher Education Transformation Program (HE Transform) 2026–2029, sebuah program kolaboratif yang melibatkan berbagai institusi nasional dan internasional yang digagas Unity in Diversity (UID) dan beberapa tokoh pendidikan kelas dunia yang berasal dari MIT, KTH, ANU, SP, dsb. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas perguruan tinggi Indonesia agar dapat menjadi penggerak pembangunan ekonomi berkelanjutan.

 

Program ini menekankan integrasi antara pendidikan, riset, inovasi, dan dampak sosial dalam satu ekosistem yang saling memperkuat dengan fokus utama antara lain pada penguatan kepemimpinan perguruan tinggi, reformasi kerangka pendidikandan kurikulum berbasis CDIO (conceive-design-implement-operate framework), peningkatan kapasitas dosen, integrasi AI dan teknologi digital dalam pembelajaran, penguatan kolaborasi industri dan pengembangan inovasi serta kewirausahaan. Pendekatan ini pada dasarnya sangat sejalan dengan agenda transformasi pendidikan tinggi yang diusung UNESCO. Program tersebut juga menargetkan pelibatan lebih dari 100 perguruan tinggi, transformasi lebih dari 200 program studi, serta pelatihan bagi sekitar 1.200 dosen dan pimpinan perguruan tinggi. Jika diimplementasikan secara konsisten, inisiatif semacam ini dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.

 

Inisiatif atau gagasan lain yang muncul dan mulai banyak dibahas juga dalam pengembangan pendidikan tinggi Indonesia adalah transformasi politeknik menjadi polytechnic university yang digagas oleh forum direktur politeknik negeri se-Indonesia (FDPNI). Model ini telah diterapkan dan terbukti berhasil di berbagai negara maju seperti Jerman, Finlandia, dan China, di mana perguruan tinggi vokasi berkembang menjadi universitas terapan yang berperan penting dalam inovasi industri.

Transformasi ini tidak berarti meninggalkan karakter vokasi, tetapi justru memperkuat identitas pendidikan terapan melalui: riset berbasis industri, inovasi teknologi terapan, kolaborasi erat dengan dunia usaha, pengembangan startup teknologi. Dalam konteks Indonesia, transformasi sebagian politeknik menjadi polytechnic university dapat menjadi salah satu faktor kunci dalam menutup berbagai kesenjangan antara roadmap global dan kondisi pendidikan tinggi nasional saat ini. Namun transformasi ini harus dilakukan secara selektif dan berbasis pada kesiapan institusi agar tetap menjaga karakter utama pendidikan vokasi.

 

Jalan ke Depan

Agar pendidikan tinggi Indonesia semakin selaras dengan agenda transformasi global, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu diperkuat. Pertama, memperluas akses pendidikan tinggi melalui penguatan pendidikan tinggi vokasi dan pengembangan sistem pembelajaran sepanjang hayat. Kedua, memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan dunia kerja melalui pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi industri. Ketiga, mendorong hilirisasi riset melalui integrasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Keempat, memperkuat peran politeknik dan polytechnic university sebagai pusat inovasi teknologi terapan yang mendukung pengembangan ekonomi daerah.

 

Transformasi pendidikan tinggi pada akhirnya bukan hanya soal meningkatkan peringkat universitas atau jumlah publikasi ilmiah. Lebih dari itu, transformasi tersebut harus mampu memastikan bahwa ilmu pengetahuan benar-benar menjadi kekuatan yang mendorong kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Indonesia. Dan dalam perjalanan menuju tujuan tersebut, berbagai pihak termasuk gerakan HE Transformation dan wacana polytehnic university dapat memainkan peran yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan.

 

*Direktur Politeknik Negeri Batam, Wakil Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia, Ketua IA-ITB Daerah Kepulauan Riau, tinggal di Batam

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!