SOLO, MENARA62.COM – Menghadapi persoalan volume limbah sampah, tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) memberikan solusi komprehensif. Penelitian terbaru dari tim dosen UMS mengungkap bahwa persoalan utama bukan sekadar tingginya produksi sampah, melainkan ketidakseimbangan antara volume limbah dan kapasitas pengelolaannya.
Desa Gonilan sebagai penyangga kawasan kampus UMS dalam sebulan menghasilkan sampah mencapai 40 ton. Ketua Tim, Ramzul Irham Riza, B.Eng., M.T., https://www.ums.ac.id/profile/ramzul-irham-riza mengungkapkan Desa Gonilan telah bertransformasi menjadi kawasan padat dengan dominasi mahasiswa dan aktivitas ekonomi penunjangnya, mulai dari kos-kosan hingga kuliner. Pola konsumsi yang tinggi, terutama penggunaan plastik sekali pakai dan limbah makanan, mempercepat akumulasi sampah.
Tempat Penampungan Sementara (TPS) di desa tersebut bahkan mengalami over kapasitas, dengan tumpukan sampah mencapai lebih dari satu meter di atas permukaan tanah. Kondisi ini memicu bau menyengat, pencemaran udara, hingga potensi munculnya penyakit.
“Namun, seperti banyak wilayah lain di Indonesia, pendekatan pengelolaan sampah masih didominasi pola “kumpul–angkut–buang”. Ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi masalah tersendiri karena jaraknya mencapai sekitar 60 km, ditambah keterbatasan armada pengangkut . Akibatnya, tidak semua sampah dapat terangkut secara rutin,” papar dosen Teknik Mesin UMS https://www.ums.ac.id/id/jurusan/teknik-mesin itu saat dimintai keterangan, Rabu (1/4).
Upaya alternatif seperti pengolahan maggot memang sudah dilakukan, tetapi dinilai belum cukup efektif. Proses penguraian yang memakan waktu hingga 21 hari membuat metode ini kurang mampu menjawab kebutuhan penanganan cepat terhadap volume sampah yang besar.
Menjawab persoalan tersebut, Ramzul bersama anggota tim Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., https://www.ums.ac.id/profile/nur-aklis Dr. Agung Sugiharto, S.T., M.Eng., https://www.ums.ac.id/profile/agung-sugiharto Mas’ud Fajar Al-mu’tashim, dan Dicky Kurnia mengembangkan teknologi insinerator ramah lingkungan sebagai solusi berbasis teknik. Alat ini dirancang dengan dimensi relatif kecil (sekitar 50–60 cm) namun mampu beroperasi pada suhu tinggi hingga 800-900°C.
“Hasilnya cukup signifikan. Insinerator mampu mereduksi volume sampah, dengan kapasitas pengolahan mencapai 25-40 kg per jam tergantung jenis limbah . Teknologi ini juga dilengkapi sistem suplai oksigen (blower) untuk meningkatkan efisiensi pembakaran serta desain isolasi panas guna menjaga keamanan operasional,” terangnya.
Tidak hanya mengurangi volume, residu pembakaran berupa abu bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran paving blok, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Meski teknologi menjadi bagian penting, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Di desa Gonilan, peran Kelompok Pengelolaan Sampah Mandiri (P2SM) RW X menjadi sentral dalam operasional dan keberlanjutan program.
“Pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial, mulai dari sosialisasi pemilahan sampah, pelatihan operasional alat, hingga pendampingan berkelanjutan. Model ini memperlihatkan bahwa integrasi antara teknologi dan pemberdayaan masyarakat mampu menciptakan sistem pengelolaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” jelas Ramzul.
Meski menjanjikan, penggunaan insinerator juga memunculkan catatan kritis. Pembakaran sampah berpotensi menghasilkan emisi berbahaya jika tidak dikelola dengan standar yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian emisi serta pelatihan teknis bagi operator agar dampak negatif dapat diminimalkan.
Selain itu, insinerator bukan solusi tunggal. Pengelolaan sampah tetap harus mengedepankan prinsip hulu seperti reduce, reuse, dan recycle (3R), serta integrasi dengan metode lain seperti komposting dan bank sampah.
Keberhasilan awal di Desa Gonilan membuka peluang replikasi ke wilayah lain, terutama kawasan padat penduduk dengan karakteristik serupa. Penelitian ini bahkan menyebut Desa Gonilan berpotensi menjadi role model pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat regional.
“Dengan dukungan kebijakan, kolaborasi perguruan tinggi, dan partisipasi aktif masyarakat, transformasi pengelolaan sampah bukan lagi sekadar wacana. Gonilan menunjukkan bahwa krisis sampah dapat diubah menjadi peluang asal ditangani dengan pendekatan terpadu antara teknologi, sosial, dan keberlanjutan,” pungkasnya. (*)

