30.1 C
Jakarta

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Suci Penuh Hikmah- bagian I

Baca Juga:

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*

NEW YORK, MENARA62.COM – Sebagaimana berbagai peristiwa sejarah lainnya dalam Islam, Isra Mi’raj Rasulullah SAW sesungguhnya tidak bisa dipastikan kapan persis terjadinya. Namun demikian, tanggal 27 Rajab banyak diyakini sebagai malam terjadinya teristiwa sejarah penting itu. Malam di saat Allah memberikan hadiah terbaik bagi hambaNya (‘abdahu) dan Rasul terakhir (khatamun nabiyyin), Muhammad SAW, yang diutus sebagai rahmah untuk alam semesta (rahmatan lil alamin).

Isra dan Mi’raj adalah dua kata yang mendiskripsi perjalanan itu. “Isra’” dimaknai sebagai perjalanan di malam hari. Sementara “Mi’raj” dimaknai sebagai perjalanan menuju ke atas (perjalanan vertikal). Dengan demikian Isra dan Mi’raj adalah peristiwa ketika Rasulullah diperjalankan oleh Rabbnya dari Masjidil Haram di Mekah ke masjidl Aqsa di Jerusalem di sebuah malam, lalu dari Jerusalem diperjalankan ke atas (vertikal) menuju Sidratul Muntaha (akhir dari segala akhir dari alam semesta).

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa imani (keimanan). Peristiwa yang melibatkan secara langsung, sekaligus menjadi ujian keimanan bagi umat. Karenanya di saat Allah menceritakan peristiwa ini di Surah An-Najam, Allah menekankan bahwa apa yang disampaikan oleh Muhammad (SAW) bukan dari dirinya sendiri (karangan atau dongeng). “Melainkan wahyu dari Allah SWT” (An-Najm: 3-4). Hal ini kemudian diperkuat dengan ekspresi kemaha sempurnaan Allah dalam kuasa memperjalankan hambaNya (subhana alladzi asraa bi abdihi). Maka mempertanyakan peristiwa Isra dan Mi’raj adalah bentuk mempertanyakan kekuasaan dan kesempurnaan Allah SWT.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj memang sebuah peristiwa yang penuh kemukjizatan. Karena peristiwa ini memang dimaksudkan untuk memberikan kekuatan dan kemenangan “morale” kepada Rasulullah di tengah tantangan berat yang dihadapinya. Pemboikotan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah) yang juga berujung pada wafatnya isteri (Khadijah RA) dan paman tercinta (Abu Thalib). Dengan wafatnya isteri dan Paman beliau, Rasulullah semakin tertekan dan tersudutkan dalam pergerakan dakwahnya. Bahkan ikhtiar untuk mendakwahkan agama ini ke Thaif juga berakhir dengan tantangan yang luar biasa.

Semua itu menjadikan situasi semakin berat dan menyedihkan bagi beliau. Maka tahun itu beliau sebut sebagai Tahun Kesedihan (‘aamul huzni). Kesedihan karena wafatnya dua pendukung utama beliau; Khadijah RA dari kalangan mereka yang beriman (dukungan internal) dan Abu Talib dari kalangan mereka yang kafir (dukungan external). Meninggalnya isteri dan paman tercinta beliau menjadikan musuh-musuh semakin leluasa untuk melakukan segala hal yang hampir saja menghabisi Rasulullah, baik dalam kaitan misi perjuangannya maupun hidupnya.

Kebangkitan Islam secara individual

Merujuk kepada latar belakang peristiwa Isra’ Mi’raj kita bisa memahami bahwa perjalanan ini merupakan “spirit boost” (penguatan semangat) untuk Rasulullah SAW. Sekaligus dipahami sebagai pilar kebangkitan Islam pada tataran individual. Kebangkitan Islam pada tataran individual ditandai dengan soliditas relasi dengan Pencipta alam semesta. Bagi Rasulullah hal ini melalui peristiwa Mi’raj langsung. Dan bagi umatnya melalui sholat yang ditetapkan sebagai mi’rajnya. Sebagaimana sabda Rasul: “sholat ada Mi’raj orang yang beriman”.

Melihat realita umat saat ini rasanya peristiwa Isra’ Mi’raj ini menjadi sangat relevan. Bahwa berbagai tantangan dan kesulitan yang dahsyat yang dihadapi oleh umat saat ini boleh saja justeru merupakan awal kebangkitan yang ditunggu-tunggu itu. Berbagai penderitaan dan kesulitan yang menerpa umat Muhammad SAW, baik di negara-negara di mana mereka sebagai minoritas maupun di negara-negara di mana mereka sebagai mayoritas, rasanya telah sampai pada puncaknya (it’s pinnacle).

Kekejaman pemerintahan Komunis kepada masyarakat Muslim Uighur di Xingjian, pembantaian dan pengusiran saudara-Saudara Muslim Rohingyah di Burma, kezholiman kepada Saudara-saudara Muslim kita di India dan Kashmir, dan tentunya masyarakat Muslim minoritas dengan segala “oportunitas” yang ada di negara-negara Barat, masih juga menghadapi berbagai kesulitan akibat Islamophobia yang masih tinggi.

Tentu terkhusus lagi dalam tahun-tahun terakhir penderitaan Saudara-saudara kita yang berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya di Bumi Syam, rasanya telah sampai pada titik nadir di luar daya manusia normal memahaminya. Lima puluh tahun lebih masyarakat Suriah berada di bawah kungkungan kekuasaan zholim Al-Asad. Namun pada akhirnya di akhir terowongan panjang itu mentari kini mulai menampakkan diri dengan cahayanya yang bersinar.

Kenyataan yang paling menyedihkan dan menyakitkan adalah penderitaan dan kezholiman yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina, baik di Gaza maupun di Ramallah. Saya tidak perlu lagi mengulangi penderitaan dan keperihan yang mereka alami. Tidak saja dalam dua tahun terakhir. Mereka telah mengalami ini lebih dari 75 tahun. Tapi mereka tegar kokoh bagaikan karang di tengah laut menghadapi kezholiman penjajah Zionis Israel. Kesabaran dan kekuatan mereka kini mulai menampakkan titik-titik cahaya harapan. Kalaupun mereka diluluh lantakkan di negara mereka, namun mereka tidak pernah melemah. Semakin terasa kemenangan itu baik secara domestik, apalagi pada tataran global.

Bagi kami masyarakat Muslim di Amerika, Kota New York khususnya, lebih dua puluh tahun kami hidup di bawah bayang-bayang tekanan Islamophobia dan ketakutan. Tahun ini, Allah membalik keadaan itu dengan kemenangan Zohran Mamdani menjadi Walikota Muslim pertama di Kota New York. Sebuah kejadian, meminjam kalimat seorang Pastor Kristen, Zohran bukan mu’jizat. Tapi Tuhan memperlihatkan mu’jizat melalui dirinya.

Karenanya dengan memperingati Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW ini kita semakin optimis dengan janji Allah bahwa “sesungguhnya kemenangan itu dekat” dan rasanya semakin mengkristal. Dan pastinya keimanan kita memastikan bahwa: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjiNya”.

Dilemanya memang bukan pada musuh-musuh Islam. Tapi pada kita yang mengaku Muslim. Mengaku Muslim tapi kehilangan jati diri dan “izzah” (kemuliaan) dalam menghadapi musuh-musuh itu. Umat mengalami “inferioritas kompleks” yang parah. Merasa takut dan kalah tanpa ditakuti dan dikalahkan oleh siapapun. Melemah seolah tak berdaya melakukan hal seharusnya dilakukan untuk memenangkan umat ini.

Secara teologis kita yakin bahwa musuh-musuh itu pasti akan selalu ada. Itu adalah sunnatullah dalam perjalanan umat ini. Bukan hal yang mengagetkan dan menakutkan. Yang mengagetkan dan menakutkan adalah ketika umat ini kehilangan pegangan (al-‘urwatul wutsqa). Menjadikan mereka minder (inferior) tidak punya prinsip dan rela didikte dan diarahkan bagaikan buih di tengah hempasan ombak di tengah samudra luas.

Isra’ Mi’raj Dalam Tinjauan Akademis

Pada tataran akademis pembahasan tentang Isra’ Mi’raj memang agak dilemma. Pertama karena rincian peristiwa ini tercatat dalam banyak riwayat hadits dari minimal dua puluh orang sahabat. Di Kitab Al-Bukhari saja ada enam orang sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini dengan riwayat yang cukup panjang. Bahkan sebagian besar hadits di periode Mekah itu berbicara tentang Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW.

Hal kedua yang perlu dicermati adalah bahwa hadits-hadits yang meriwayatkan peristiwa Isra Mi’raj itu ada yang berbeda dalam penyampaian cerita. Maka Ulama Islam kemudian memberikan arahan bahwa ketika ada perbedaan narasi (penyampaian) tentang peristiwa itu maka cari yang paling autentik (sahih). Jika keduanya sama-sama dalam kesahihan maka usahakan dilakukan rekonsiliasi atau lakukan penafsiran yang bisa menghubungkan keduanya.

Sebagai contoh, satu hal yang dinarasikan secara berbeda oleh Hadits adalah di mana Rasulullah berada di malam ketika akan terjadi peristiwa itu?
Di satu riwayat disebutkan beliau berada di Hatim (populer dengan Hijir Ismail sekarang). Namun di riwayat lain disebutkan bahwa beliau sedang di rumah Ummu Hani dan dalam situasi antara tidur dan terbangun. Para Ulama kemudian melakukan rekonsiliasi kedua hadits itu. Bahwa di malam itu Rasulullah memang berada di rumah Ummu Hani dan dalam keadaan hampir tertidur menjelang tengah malam. Lalu Jibril mendatangi beliau dan mengangkatnya ke Hatim (Hijir Ismail) untuk melakukan proses selanjutnya. Jadi sesungguhnya kedua riwayat itu tidak bertentangan. Hanya perlu rekonsiliasi penafsiran.

Namun perlu diakui juga bahwa karena peristiwa Isra Mi’raj adalah peristiwa yang sangat bersifat personal pada diri Rasulullah SAW dan tidak ada orang ketiga yang terlibat (hanya Rasulullah dan Jibril) sehingga cerita-cerita yang sampai kepada para sahabat juga diterima secara berbeda-beda. Namun semua itu tidak mengurangi nilai kesahihan peristiwa itu karena sebelum berbicara tentang hadits kita diyakinkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an.

Perbersihan Hati Rasulullah SAW dan Perjalanan Hidup

Hal pertama yang Jibril lakukan adalah membelah dada Rasulullah SAW. Pembelahan ini adalah yang kedua kalinya setelah pembelahan pertama ketika beliau masih diasuh oleh Ibu susuan beliau, Halimah As-Sa’diyah di kampung Bani Sa’ad. Walaupun ada cerita pembelahan di dua peristiwa lainnya, namun kedua pembelahan dada inilah yang paling masyhur dalam sejarah Islam.

Menurut riwayat, Jibril membelah dada beliau dan kemudian membasuhnya dengan air zamzam. Dalam riwayat lain disebutkan Jibril membelah dada beliau lalu memasukkan iman di dadanya (hatinya). Para Ulama kemudian mempertemukan tafsiran kedua riwayat itu. Bahwa memang hati Rasulullah dibersihkan dengan air zamzam lalu diisi dengan keimanan. Karena iman memang hanya akan menempati hati yang suci.

Pembelahan dan pensucian dada (hati) Rasulullah ini memiliki makna filosofis yang dalam. Makna yang paling mendasar adalah bahwa Isra’ Mi’raj itu adalah perjalanan yang segala aspeknya terkait dengan kesucian. Dari tempat yang suci (Masjidil Haram di Mekah) ke tempat yang suci (Masjidil Aqsa di Jerusalem). Lalu dari dua kota suci itu menuju ke tempat ketinggian yang suci (Baetul Ma’muur) untuk menemui Dzat Yang Maha Suci (Al-Quddus).

Selain itu Isra’ Mi’raj sesungguhnya juga menggambarkan perjalan hidup sebagai ibadah. Dan untuk hidup bernilai ibadah diperlukan fondasi hati yang bersih. Perjalanan hidup ini memiliki dua arah; horizontal yang tersimbolkan dengan perjalanan dari Mekah ke Jerusalem, dan vertikal yang tersimbolkan dengan perjalanan dari Jerusalem ke Sidratul Muntaha. Dan untuk bernilai ibadah dan berkah harus dibangun di atas fondasi hati yang bersih (ikhlas). Al-Qur’an menyebutkan: “beruntunglah dia yang mensucikan (hati)” (Al-a’laa: 14).

Perjalanan hidup manusia menuju destinasi akhir (Akhirat) juga tak akan sukses kecuali dengan hati yang bersih. Apapun bentuk perjalanan itu jika tidak dilakukan dengan hati yang sehat (suci) maka akan mengalami kesia-siaan. Al-Quran menegaskan: “pada hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali dia yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat (saliim)”.

Bahkan Rasulullah (SAW) pun menegaskan bahwa hidup manusia akan benar dan sehat hanya ketika manusia mampu merawat hatinya untuk senantiasa sehat dan bersih. “Sungguh pada tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik maka baik seluruh anggota tubuhnya. Namun jika segumpal darah itu rusak maka rusak seluruh anggota tubuhnya. Itulah hati” (hadits).

Intinya Isra Mi’raj Rasulullah adalah perjalanan suci yang menggambarkan perjalanan hidup manusia secara menyeluruh. Mencakup seluruh pergerakan hidup manusia yang jika dijalani secara benar maka perjalanan itu bagaikan pergerakan dari Masjid ke Masjid. Bahwa hidup manusia sesungguhnya adalah pergerakan dari satu bentuk ketaatan ke bentuk ketaatan yang lain (Masjid ke Masjid). Dari ketaatan secara ritual (Masjid) berpindah kepada ketaatan dalam bentuk yang lain (pasar misalnya), namun tetap bernilai masjid (ketaatan).

Itu pula makna dari pembelahan dan pembersihan dada Rasulullah SAW sebelum diberangkatkan oleh Dia Yang Maha Suci dari tempat kesucian (Masjid Al-Haram) menuju tempat kesucian (masjid Al-Aqsa) untuk selanjutnya diangkat ke kesucian yang tinggi Baetul Ma’muur untuk bertemu dengan Dia Yang Maha Suci (Al-Quddus).

Dalam realita kehidupan tentu kita tidak akan mengalami pembelahan dada untuk mensucikan hati. Namun hati harus selalu dijaga dalam kesuciannya melalui berbagai jalan (shariah) yang Allah telah tetapkan untuk hamba-hambaNya. Satu di antaranya adalah menjaga sholat dalam kekhusyukan yang maksimal. Khusyu’ dalam Sholat itu bagaikan sedang melakukan pembedahan hati, membersihkannya dari ragam kotoran kehidupan. “Beruntunglah dia yang mensucikan (hati). Dan mengingat Tuhannya dan Sholat” (Al A’laa: 4-5).

Rasulullah SAW juga menyampaikan: “Sholat lima waktu menghapus dosa-dosa bagaikan sungai yang mengalir di depan rumah salah seorang di antara kalian” (HR Muslim).

Ingat, perjalanan hidup ini akan sia-sia jika hati masih penuh dengan kotoran. Bersihkan demi keselamatan dalam perjalanan hidup menuju destinasi di kesucian tertinggi, ridho Allah SWT. Karena semua kita pada akhirnya berjalan menuju padanya dengan harapan “ridho dan ridhoi”. Dan sekali lagi, itu hanya mungkin ketika hati bersih (bi qalbin saliim).

Perjalanan Malam dimulai dari Masjid Al-Haram dengan Buraq.

Setelah pembersihan hati selesai dan iman telah ditanamkan dalam dadanya, Rasulullah SAW kemudian diberangkatkan. Riwayat menyebutkan bahwa seekor hewan atau dalam bahasa Arabnya “dabbah” didatangkan dari langit. Hewan ini disebutkan lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai. Berwarna putih bersih yang sangat indah dan mengagumkan.

Dabbah atau hewan ini dalam perjalanan sejarah di kemudian hari diekspresikan dalam bentuk imajinasi-imajinasi. Salah satunya digambarkan seperti kuda besar yang berkepala dengan and wajah wanita cantik. Penampakan seperti ini dalam cerita-cerita legenda tentu bertujuan negatif. Mereka ingin menyampaikan bahwa Muhammad SAW itu selalu dikaitkan dengan wanita-wanita cantik. Dia adalah seorang yang womanizer.

Diceritakan dalam beberapa riwayat bahwa ketika Rasulullah akan menaiki punggungnya, hewan atau dabbah itu melompat memberontak. Persis seperti seekor kuda yang dinaiki oleh seseorang yang asing padanya. Melihat itu Jibril menghardiknya dengan mengatakan: “celaka engkau. Tidakkah kamu tahu kalau yang akan menaikimu adalah Muhammad, Rasul yang mulia?”. Tiba-tiba hewan itu menjadi tenang,
dan Rasulullah pun menaikinya dengan tenang pula.

Perjalanan dari masjidil Haram menuju masjidil Aqsa pun dimulai. Disebutkan bahwa setiap dekapan kaki hewan atau dabbah itu sekitar sejauh pandangan manusia. Begitu cepat di luar kemampuan manusia menalarnya. Terlebih lagi jika hal itu dikembalikan pada konteks di masa Rasulullah SAW.

Deskripsi tentang Al-Buraq

Hewan atau “dabbah” yang dinaiki oleh Rasulullah dalam perjalanan itu juga populer dengan nama “Buraq”. Menurut sebagian riwayat, Buraq adalah hewan yang memiliki sayap dan dapat bergerak sangat cepat, sehingga mampu menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat. Kata “Buraq” sebenarnya berasal dari bahasa Arab “al-barq”, yang berarti “kilat” atau “cahaya” karena kecepatannya yang seperti kilat.

Terkepas dari berbagai penafsiran tentang penafsiran kata Buraq (Al-Buraq) itu, namun yang pasti Allah memberikan alat transportasi yang maha canggih dan cepat kepada hambaNya dalam perjalanan ini. Disediakannya alat transportasi ini juga bukan tanpa makna. Karena sekiranya Allah berkehendak, cukuplah bagiNya memperjalankan hambaNya dengan kuasaNya “kun fayakun”?

Keputusan Ilahi memperjalankan hambaNya dengan alat transportasi “Buraq” merupakan pelajaran bahwa dunia akan memasuki era yang lebih kompleks. Dunia akan semakin mengglobal, dengan kecepatan menjadikan hubungan antar manusia akan semakin dekat. Salah satu hal mendasar yang diperlukan oleh manusia di era global itu adalah alat transportasi dan komunikasi yang canggih dan super speedy.

Dalam perspektif keimanan dan akidah kita yakin bahwa Al-Buraq ini adalah ciptaan Allah yang dalam realita sesungguhnya hanya Allah yang tahu. Bukankah Isra dan Mi’raj memang adalah peristiwa yang bersentuhan dekat dengan keimananan. Selain itu berbagai riwayat yang ada tidak dijelaskan secara rinci tentang apa “dabbah” atau Buraq yang menjadi alat transportasi Rasulullah di malam itu.

Namun jika kita mencoba menelusurinya dari perspektif ilmu pengetahuan, Al-Buraq sangat memungkinkan untuk dipahami secara metaforis atau simbolis. Ada beberapa kemungkinan penafsiran yang pastinya manusiawi dan nisbi sehingga tidak dijadikan dasar keimanan dan kebenaran.

Di bawah ini saya sampaikan sembilan penafsiran Al-Buraq dari perspektif filsafat dan keilmuan:

Satu, representasi kecepatan dan efisiensi. Buraq dapat diibaratkan sebagai simbol kecepatan dan efisiensi, karena kemampuannya menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat.

Dua, menunjukkan konsep fisika. Dalam fisika, Buraq dapat dihubungkan dengan konsep kecepatan, energi, dan momentum.

Tiga, Buraq juga dapat dipahami sebagai representasi dari hewan yang memiliki kemampuan unik, seperti kecepatan dan kekuatan.

Empat, secara filosofis Buraq menjadi simbol perjalanan spiritual. Hal itu karena Buraq mengantar Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan suci itu.

Lima, Buraq dapat dipahami sebagai representasi transendensi. Hal itu dikarenakan kemampuannya melintasi batas-batas fisik dan spiritual.

Enam, Buraq dapat juga dipahami sebagai representasi ruang dan waktu. Hal itu tersimpulkan dari kemampuan menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat.

Tujuh, Buraq dapat dianggap sebagai simbol kekuatan batin, karena mengantar Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan spiritual.

Delapan, Buraq dapat diibaratkan sebagai representasi kemampuan manusia untuk mencapai tujuan yang tinggi dan melintasi batas-batas dirinya.

Sembilan, Buraq juga bisa dimaknai sebagai motivasi dan inspirasi bagi manusia untuk mencapai tujuan dan pencapaian inovasi yang tinggi.

Sekali lagi, semua penafsiran di atas adalah penafsiran-penafsiran yang bersifat relatif (tidak mutlak) dan manusiawi (bisa salah). Kemutlakan tetap ada pada Dia yang telah memperjalanakan hambaNya di malam itu. Dan sebagaimana Dia kuasa memperjalanakan, Dia juga kuasa menyediakan alat transportasi dalam perjalanan maha dahsya itu.

Kesimpulannya, pemahaman akal manusia pada akhirnya harus tunduk secara totalitàs dengan penerimaan iman kepada Dia Yang Maha sempurna.

Ketibaan di Kota Jerusalem

Dengan alat transportasi “Buraq” yang canggih dengan kecepatan super itu, Rasulullah dalam sekejap mata tiba di kota Jerusalem. Menurut riwayat setiba di kota itu beliau mengikat daabbah tersebut di tempat khusus di sekitar Masjidil Aqsa. Disebutkan juga bahwa di tempat di mana Rasulullah mengikat daabbah itu juga tempat para nabi mengikat onta atau hewan yang mereka kendarai. Disediakannya tempat khusus Bagi Rasulullah mengikat Buraqnya oleh sebagian Imam secara bercanda mengatakan pertanda perlunya para Imam memiliki tempat parkir khusus di depan Masjid.

Rasulullah SWA kemudian memasuki area Masjidil Aqsa. Saya menyebutnya “area” karena ketika itu belum ada gedung Masjidnya. Sebagaimana diketahui Kota Jerusalem saat itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi Kristen. Mereka bahkan tidak memperkenankan Komunitas Yahudi untuk tinggal dan beribadah di Kota Suci Jerusalem. Rumah ibadah umat Yahudi dirusak dan dijadikan tempat sampah oleh mereka.

Rasulullah SAW lalu melaksanakan Sholat sunnah dua raka’at. Sebuah praktek keagamaan yang di kemudian hari ditetapkan sebagai Shalat sunnah Tahiyyatul Masjid. Praktek yang menggambarkan relasi shariah Islam dengan praktek-praktek keagamaan terdahulu. Sekaligus menggambarkan jika Islam bukan agama baru. Tapi hadir sebagai corrector (meluruskan) ajaran para nabi/Rasul yang telah dirusak, sekaligus membawa ajaran agama yang sempurna untuk seluruh semesta alam.

Setelah Sholat (sebutlah Sholat Sunnah tahiyyatul Masjid) Rasulullah menengok ke belakang dan beliau melihat penampakan para nabi terdahulu. Beliau melihat Adam dengan tubuh yang tinggi besar. Beliau juga melihat Musa yang tinggi besar dan kekar dengan warna kulit yang kecoklatan. Di sampingnya ada Isa dan Harun yang menyerupai bangsa Syam (sekarang diistilahkan Semite). Tapi yang unik adalah nabi Ibrahim AS yang beliau sebutkan sangat menyerupai dirinya. Secara fisik Rasulullah SAW sangat mirip dengan kakeknya Ibrahim AS.

Hadirnya para nabi dan rasul membersamai Rasulullah di Masjidil Aqsa, dan pertemuan beliau dengan sebagian nabi dan Rasul dalam perjalanan ke atas (mi’raj) menguatkan bahwa misi kenabian dan kerasulan itu adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di sinilah kebenaran Islam yang dengan tegas mendeklarasikan “keimanan tunggal” kepada seluruh nabi/Rasul dan Kitab suci. Islam tidak membeda-membedakan para nabi dan Rasul dalam hal keimanan dan agama. Mereka semua diutus untuk membawa ajaran yang satu: “sembahlah Allah, tiada Tuhan selain Dia”.

Ketegasan Islam tentang keimanan kepada semua nabi ini menggambarkan universalitas Islam, sekaligus menguatkan bahwa ajaran yang bisa menyatukan manusia yang terfragmentasi itu adalah ajaran Islam. Islam mampu menyatukan manusia dengan segala keragamannya. Karena perbedaan apapun yang dimilikinya secara lahir, manusia secara hati dan spiritualitas adalah satu kesatuan.

Rasulullah SAW Mengimami Para Nabi

Riwayat selanjutnya menyebutkan bahwa ketika waktu Sholat telah tiba, mereka melakukan Sholat berjamaah dan Rasulullah SAW mengimami semua para nabi yang hadir bersamanya. Sebuah peristiwa yang juga mengkonfirmasi jika Rasulullah SAW adalah penghulu para nabi dan Rasul. Beliau diutus untuk menyampaikan ajaran Tuhan yang sempurna dan untuk seluruh tempat dan waktu. Karenanya beliau ditetapkan sebagai “sayyidul mursaliin” dan “khataman nabiyyin” (penutup para nabi).

Dengan imamah (kepemimpinan) Rasulullah ini untuk semua nabi dan Rasul juga mengafirmasi bahwa umatnya adalah umat yang (seharusnya) berada pada posisi kepemimpinan (imaaman linnaas). Salah satu makna dari “ummatan watasha” (pertengahan) dan “khaer ummah” (umat terbaik) yang menjadi karakter umat ini. Sebagai umat terbaik (khaer Ummah) dan umat yang memiliki ketauladanan (salah satu arti wasatiyah) umat ini harusnya menjadi pemimpin bagi umat-umat yang lain dalam membangun dunia yang lebih baik. Dunia yang berperadaban, adil, damai dan berkemakmuran untuk semua.
(Bersambung…)

NYC Subway, 16 Januari 2026

*Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!