SOLO, MENARA62.COM — Kajian Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta sukses memberikan dampak mendalam bagi para siswa. Kegiatan yang berlangsung di lapangan basket sekolah, Kamis (15/1/2026), ini bukan hanya menyajikan kisah sejarah, tetapi juga mengubah cara pandang siswa dalam menjaga ibadah salat lima waktu.
Ratusan siswa kelas VII, VIII, dan IX mengikuti kajian dengan penuh antusias. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar sekolah dalam meningkatkan kualitas spiritual dan kedisiplinan ibadah peserta didik di tengah dinamika kehidupan remaja.
Kajian Isra Mi’raj menghadirkan Ustaz Muhamad Arif Wicagsono, kandidat doktor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan momen sangat penting dalam sejarah Islam karena menjadi awal diwajibkannya salat lima waktu.
“Isra Mi’raj tidak bisa dilepaskan dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW, mulai dari Mekkah, Thaif, hingga diangkatnya beliau untuk menerima perintah salat,” jelas Ustaz Muhamad Arif di hadapan para siswa.
Selain mengulas Isra Mi’raj, pemateri juga mengangkat kandungan Surah Hud, khususnya ayat 114, yang menegaskan pentingnya salat dan amal kebaikan. Ayat tersebut disebut sebagai salah satu ayat yang membuat Rasulullah SAW dan para sahabat menangis karena kandungan pesannya yang sangat mendalam.
“Allah SWT menegaskan bahwa perbuatan-perbuatan baik dapat menghapus dosa, dan salah satu perbuatan baik yang utama adalah menjaga salat lima waktu,” terangnya.
Melalui kajian ini, para siswa diajak untuk melaksanakan salat bukan karena paksaan, tetapi atas dasar kesadaran dan keimanan. Salat disebut sebagai kunci ketenangan hidup, keberkahan, serta pelindung dari rasa takut dan kesedihan.
“Siapa yang istiqamah menjaga salat, insyaallah hidupnya akan lebih tenang, baik di dunia maupun di akhirat,” pesan Ustaz Muhamad Arif.
Salah satu siswa kelas VIII, Gusti Muhamad Raharjo, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kajian tersebut. Ia kini lebih memahami makna perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha.
“Saya jadi lebih paham makna Isra Mi’raj dan semakin termotivasi untuk menjaga salat lima waktu,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan kajian Isra Mi’raj ditutup dengan pemutaran film kisah Nabi Muhammad SAW. Para siswa kemudian diminta menulis ulasan film sebagai bentuk refleksi dan penguatan pemahaman, sehingga nilai-nilai Isra Mi’raj dapat tertanam dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
