24.1 C
Jakarta

KBB UM Bandung Bahas Tantangan Kerja Masa Depan

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi telah mendorong perubahan mendasar dalam struktur dunia kerja. Transformasi ini tidak hanya memengaruhi jenis pekerjaan yang tersedia, tetapi cara kerja, pola hubungan kerja, dan kompetensi yang dibutuhkan tenaga kerja. Dunia kerja bergerak menuju sistem yang lebih fleksibel, kompetitif, dan berbasis keterampilan, sehingga menuntut penyesuaian kebijakan dan kesiapan sumber daya manusia secara menyeluruh.

 

Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Kuliah Bareng Birokrat (KBB) Volume 4 yang diselenggarakan oleh Prodi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dengan mengangkat tema ”Peran Pemerintah dan Generasi Muda dalam Menghadapi Tantangan Kerja Masa Depan.” Kegiatan ini dilaksanakan dari 08-09 Januari 2026 bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung yang dihadiri oleh empat ratus peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa lintas program studi, dan tamu undangan.

 

Dalam konteks perubahan lanskap ketenagakerjaan tersebut, pemerintah diposisikan sebagai aktor strategis dalam mengarahkan transformasi ketenagakerjaan nasional. Pemerintah tidak hanya menjalankan fungsi regulasi, tetapi berperan sebagai fasilitator dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif dan berkeadilan.

 

Kebijakan ketenagakerjaan dituntut responsif terhadap dinamika industri dan perkembangan teknologi, sekaligus berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang relevan, peningkatan keterampilan, serta perluasan akses terhadap kesempatan kerja yang layak.

 

Rangkaian kegiatan KBB Volume 4 diawali dengan sambutan Kaprodi Studi Administrasi Publik Meti Mediyastuti Sofyan yang menegaskan bahwa forum KBB merupakan ruang akademik strategis untuk mempertemukan mahasiswa dengan pemangku kebijakan.

 

Sambutan dilanjutkan oleh Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto yang menekankan peran perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi muda agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi adaptif terhadap dinamika dunia kerja yang terus berubah.

 

Perubahan ketenagakerjaan tersebut memberikan dampak signifikan bagi generasi muda. Sebagai kelompok yang berada pada fase transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja, generasi muda dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat, perubahan tuntutan kompetensi yang berlangsung cepat, dan ketidakpastian jalur karier jangka panjang.

 

Kondisi ini menegaskan pentingnya kesiapan generasi muda dalam mengembangkan literasi digital, kemampuan belajar sepanjang hayat, serta keterampilan nonteknis, seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan.

 

Fatmawati, pemantik diskusi, mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam kegiatan ini menyoroti perang generasi muda dalam menghadapi tantangan kebijakan di masa depan. Fokus pembahasan diarahkan pada isu kesiapan generasi muda dalam menghadapi dinamika perubahan, khususnya dalam konteks dunia kerja yang semakin kompetitif.

 

Disampaikan bahwa setiap tahun perguruan tinggi terus meluluskan ribuan sarjana, baik dari UM Bandung ataupun kampus-kampus lain, dengan jumlah yang terus meningkat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak seluruh lulusan tersebut memiliki kesiapan yang memadai untuk memasuki dunia kerja.

 

Fenomena tingginya angka lulusan sarjana yang belum siap kerja, bahkan kesulitan terserap di pasar tenaga kerja, menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. “Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, institusi pendidikan, dan generasi muda untuk memastikan lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi adaptif, kompeten, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan,” ujar Fatmawati.

 

Dalam konteks tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan. Setiap tahun, perguruan tinggi meluluskan ribuan sarjana, termasuk dari UM Bandung dan berbagai kampus lainnya.

 

Namun, peningkatan jumlah lulusan tersebut tidak selalu diiringi dengan kesiapan memasuki dunia kerja. Realitas menunjukkan masih banyak lulusan sarjana yang belum siap kerja, bahkan mengalami kesulitan untuk terserap di pasar tenaga kerja. Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan generasi muda ke depan tidak hanya terletak pada kuantitas lulusan, tetapi pada kualitas, relevansi kompetensi, dan kemampuan beradaptasi dengan dinamika perubahan dunia kerja.

 

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. Perubahan teknologi, pola kerja yang semakin fleksibel, dan tuntutan kompetensi yang semakin spesifik belum sepenuhnya diimbangi oleh kesiapan lulusan perguruan tinggi.

 

Akibatnya, banyak generasi muda yang secara akademik telah menyelesaikan pendidikan, tetapi belum memiliki keterampilan praktis, pengalaman kerja, ataupun kemampuan adaptasi yang dibutuhkan di lapangan. Situasi ini menjadi tantangan serius yang harus direspons melalui kebijakan publik yang lebih adaptif dan berorientasi pada penguatan kualitas sumber daya manusia.

 

Dalam menghadapi tantangan tersebut, generasi muda dituntut untuk tidak hanya mengandalkan ijazah sebagai modal utama, tetapi mengembangkan keterampilan tambahan yang relevan dengan perkembangan zaman. Literasi digital, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing di dunia kerja.

 

Pada sisi lain, peran pemerintah dan institusi pendidikan menjadi krusial dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan kompetensi generasi muda secara berkelanjutan, baik melalui penyesuaian kurikulum, program pelatihan, maupun perluasan akses terhadap pengalaman kerja.

 

Dalam sesi utama, kegiatan menghadirkan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli dan Ketua DPRD Kota Bandung Asep Mulyadi sebagai keynote speaker. Kehadiran kedua tokoh tersebut memberikan perspektif kebijakan nasional dan daerah terkait tantangan kerja masa depan, sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi perubahan dunia kerja.

 

Di sisi lain, kemajuan teknologi juga dipandang membuka peluang baru bagi generasi muda untuk berinovasi dan menciptakan lapangan kerja. Berkembangnya ekonomi digital, kerja berbasis proyek, dan kewirausahaan dan ekonomi kreatif menunjukkan bahwa generasi muda tidak lagi hanya diposisikan sebagai pencari kerja, tetapi sebagai pencipta nilai dan penggerak perubahan. Oleh karena itu, dukungan kebijakan yang mendorong inovasi, kreativitas, dan keberanian mengambil inisiatif menjadi semakin relevan.

 

Transformasi dunia kerja menegaskan bahwa teknologi perlu diposisikan sebagai sarana untuk memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya secara menyeluruh. Integrasi antara keterampilan digital dan kapasitas humanistik, seperti empati, penilaian kritis, dan pengambilan keputusan, menjadi prasyarat utama dalam menciptakan tenaga kerja yang produktif dan memiliki daya adaptasi tinggi. Pendekatan ketenagakerjaan masa depan dengan demikian perlu menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan dan praktik kerja.

 

Menghadapi tantangan kerja masa depan, sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, dunia industri, dan generasi muda menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menyelaraskan kebijakan, kurikulum pendidikan, dan kebutuhan pasar kerja. Melalui KBB Volume 4, Prodi Administrasi Publik UM Bandung berupaya menghadirkan ruang reflektif dan edukatif yang mendorong lahirnya generasi muda yang adaptif, kritis, dan siap berperan aktif dalam pembangunan ekonomi dan sosial di masa depan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!