SOLO, MENARA62.COM — Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta saat menerima kunjungan kerja jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Senin (02/04/2026). Di tengah kesederhanaan khas pesantren, momen itu menjadi sangat berarti ketika secara resmi diserahkan Piagam Izin Operasional Penyelenggaraan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Ulya—sebuah pengakuan yang telah lama diperjuangkan dengan kesungguhan dan doa.
Pesantren yang berada di bawah asuhan Dr. KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha ini kembali menegaskan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus berkembang menjawab kebutuhan zaman. Penyerahan Surat Keputusan bernomor 619/KW.11.3/1/PP.00/03/2026 menjadi bukti bahwa negara hadir mengakui kualitas dan kontribusi pesantren dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Dr. KH. Moch. Fatkhuronji, S.Ag., M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tulus. Ia menilai Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin memiliki kekhasan yang kuat, terutama dalam penguatan tradisi kitab kuning yang tetap dijaga secara serius di tengah arus modernisasi pendidikan.
“Yang menarik dari MDT Ulya di sini adalah kekuatan kajian kitab kuningnya. Ini menjadi ciri khas yang tidak semua lembaga miliki, dan ini harus terus dijaga,” ujarnya.
Menurutnya, MDT Ulya bukan sekadar jenjang pendidikan formal, tetapi ruang pembentukan karakter dan kedalaman berpikir. Di sinilah para santri dilatih tidak hanya memahami teks, tetapi juga mengolah makna, mengasah nalar, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam beragama.
Di balik ruang-ruang belajar yang sederhana, aktivitas keilmuan berjalan dengan penuh kesungguhan. Para santri tekun mengkaji kitab-kitab muktabarah yang telah menjadi rujukan ulama selama berabad-abad. Dalam bidang fiqh, mereka mendalami *Fathul Wahhab* dan *Mahalli*; dalam tafsir, mereka menyelami kedalaman makna melalui *Tafsir Jalalain*; sementara dalam balaghah, *Uqudul Juman* menjadi sarana mengasah kepekaan bahasa.
Tidak hanya itu, dalam bidang bahasa Arab, para santri mempelajari *Syarah Ibnu Aqil* dan *Zadus Salik* sebagai penjelasan atas Alfiyyah Ibnu Malik, sebuah karya monumental yang menjadi fondasi dalam memahami struktur bahasa Arab. Dalam kajian Al-Qur’an, mereka mendalami *Faidhul Barokat* untuk Qira’at Sab’ah serta *An-Nasyr fi Qira’at al-‘Asyr* untuk memperluas wawasan qira’at. Sementara itu, dalam penguatan akidah, *Tuhfatul Murid* menjadi pegangan utama.
Semua kajian tersebut tidak berhenti pada hafalan, tetapi diperdalam melalui metode khas pesantren seperti bandongan, sorogan, dan halaqah. Di sinilah interaksi antara guru dan santri berlangsung hangat—bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga penanaman nilai, adab, dan cara pandang dalam beragama.
Dengan terbitnya izin operasional MDT Ulya, pesantren kini memiliki legitimasi formal dalam menyelenggarakan pendidikan yang diakui negara. Ijazah yang dihasilkan memiliki kekuatan hukum, membuka peluang bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bagi para wali santri, ini menjadi kabar yang menenangkan—bahwa pendidikan berbasis pesantren juga memiliki masa depan yang jelas dan diakui.
Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah, Al Mukarrom Kyai Wassim Ahmad Fahruddin, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas capaian ini. Ia menyadari bahwa keberhasilan ini adalah hasil dari kebersamaan—dari doa para guru, kesungguhan santri, hingga dukungan masyarakat.
“Ini bukan sekadar capaian administratif, tetapi amanah. Kami ingin menjaga ruh pesantren ini sebagai tempat lahirnya generasi yang cinta ilmu, dekat dengan ulama, dan memiliki akhlak yang baik,” tuturnya.
Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah sendiri selama ini dikenal sebagai ruang pendidikan yang ramah bagi semua kalangan. Nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya berfokus pada kedalaman agama, tetapi juga pada sikap saling menghargai, moderasi, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menjadikan pesantren tidak hanya relevan bagi kalangan tertentu, tetapi dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Berada di kawasan Karangasem, Laweyan, Surakarta, pesantren ini tumbuh di tengah dinamika kota, namun tetap menjaga ketenangan dan kekhusyukan sebagai tempat belajar. Lingkungan yang terbuka dan inklusif menjadikan siapa pun yang datang dapat merasakan suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Ke depan, harapan besar disematkan pada MDT Ulya Raudlatul Muhibbin. Tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai pusat lahirnya generasi yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas—yang kuat dalam ilmu, bijak dalam sikap, dan mampu menjadi penyejuk di tengah perbedaan.
Pesantren ini diharapkan terus berkembang, memperluas jejaring, serta memperkuat perannya sebagai pusat keilmuan Islam yang terbuka, moderat, dan membawa rahmat bagi semua. Dari ruang-ruang sederhana inilah, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu merawat harmoni di tengah masyarakat yang beragam.
Pada akhirnya, capaian ini menjadi pengingat bahwa pesantren tetap memiliki tempat penting dalam pembangunan bangsa. Dengan menjaga tradisi sekaligus membuka diri terhadap perubahan, Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta menunjukkan bahwa pendidikan yang berakar pada nilai dapat berjalan seiring dengan kemajuan zaman.
*Kontak Media:*
0851-3447-7477
Sekretariat Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah
Jl. Markisah II, Karangasem, Laweyan, Kota Surakarta
