30 C
Jakarta

Kenaikan Harga Emas dan Isyarat Krisis Sistemik Global

Baca Juga:

Oleh: M. Farid Wajdi

Guru Besar Ilmu Manajemen (Direktur Pascasarjana UMS Surakarta)

 

SOLO, MENARA62.COM – Kenaikan harga emas yang melesat tajam dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar fenomena pasar komoditas. Ia adalah sinyal ekonomi, bahkan dapat dibaca sebagai alarm dini atas rapuhnya sistem ekonomi global. Dalam sejarah modern, lonjakan harga emas hampir selalu beriringan dengan krisis—baik yang sudah terjadi maupun yang sedang berproses oleh struktur ekonomi dunia itu sendiri.

Sejumlah lembaga internasional memperingatkan bahwa dunia kini berada di ambang krisis sistemik global, dengan probabilitas yang tidak kecil dan cenderung meningkat seiring eskalasi konflik geopolitik serta memburuknya kondisi keuangan global. Dana Moneter Internasional (IMF), dalam Global Financial Stability Report, mencatat bahwa kombinasi ketegangan geopolitik, utang global yang tinggi, serta ketidakpastian kebijakan moneter telah meningkatkan risiko koreksi pasar secara tidak teratur (disorderly correction).

Pemicu Krisis yang Kian Nyata

Ada setidaknya empat pemicu utama yang membuat risiko krisis global tidak lagi bersifat teoritis. Pertama, potensi pecahnya konflik besar di Timur Tengah yang berimplikasi langsung pada energi, logistik, dan stabilitas keuangan global. Kedua, tekanan serius pada sistem perbankan Amerika Serikat dan Eropa akibat suku bunga tinggi yang berkepanjangan, sebagaimana diperingatkan oleh Bank for International Settlements (BIS).

Ketiga, risiko gagal bayar negara-negara besar akibat beban utang yang terus meningkat. Data IMF menunjukkan bahwa rasio utang global terhadap PDB telah melampaui level sebelum krisis finansial 2008. Keempat, ancaman pecahnya gelembung utang global—baik utang negara, korporasi, maupun rumah tangga—yang selama ini ditopang oleh likuiditas murah dan kebijakan moneter longgar.

Kombinasi faktor-faktor tersebut menjelaskan mengapa pasar menjadi gelisah dan para elite global mulai menggeser narasi dari “pertumbuhan ekonomi” menuju “ketahanan ekonomi”.

Emas sebagai Mata Uang Kepercayaan

Dalam situasi ketidakpastian struktural, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai safe haven. Data World Gold Council menunjukkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral dunia berada pada level tertinggi dalam sejarah modern. Ini bukan perilaku spekulatif, melainkan strategi perlindungan nilai (store of value) ketika kepercayaan terhadap mata uang kertas melemah.

Lonjakan harga emas mencerminkan dua hal sekaligus: tekanan terhadap nilai uang fiat dan meningkatnya kebutuhan akan aset yang tidak bergantung pada stabilitas politik maupun kebijakan satu negara. Dengan kata lain, emas kembali diperlakukan bukan sekadar komoditas, melainkan mata uang kepercayaan global.

Dampak Global: Dari Resesi hingga Disrupsi Perdagangan

Jika krisis sistemik benar-benar terwujud, dampaknya akan luas. Perekonomian global berpotensi masuk ke fase resesi, bahkan depresi ringan, dengan konsekuensi berupa penurunan investasi, konsumsi, dan produksi. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah memperingatkan risiko meningkatnya pemutusan hubungan kerja massal di berbagai negara jika perlambatan ekonomi berlanjut.

Selain itu, perdagangan global akan semakin terganggu. Fragmentasi ekonomi, proteksionisme, dan gangguan rantai pasok akan menekan efisiensi dan memperlemah pertumbuhan jangka menengah.

Indonesia: Tidak Paling Parah, Tapi Tidak Kebal

Bagi Indonesia, krisis global membawa tantangan tersendiri. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah hampir tak terhindarkan di tengah volatilitas dolar AS. Kenaikan harga pangan dan energi berpotensi menekan daya beli masyarakat. Dalam situasi ini, APBN menjadi instrumen utama negara untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.

Namun, kelompok yang paling rentan justru adalah kelas menengah—mereka yang tidak sepenuhnya terlindungi oleh jaring pengaman sosial, tetapi juga tidak cukup kuat untuk menyerap guncangan ekonomi berkepanjangan.

Strategi Rasional di Tengah Ketidakpastian

Menghadapi kondisi ini, respons ekstrem perlu dihindari. Emas memang penting sebagai lindung nilai, tetapi menempatkan seluruh aset pada satu instrumen justru berisiko. Likuiditas tetap harus dijaga agar individu dan institusi memiliki ruang manuver.

Lebih jauh, investasi paling strategis di masa krisis bukan hanya pada aset finansial, melainkan pada kapasitas adaptif: kemampuan berpikir kritis, jejaring sosial dan profesional, serta relevansi kompetensi di tengah perubahan struktur ekonomi.

Penting diperhatikan, dalam krisis yang panjang, yang bertahan bukanlah mereka yang paling kaya, melainkan mereka yang paling adaptif. Kenaikan harga emas sejatinya sedang berbicara kepada kita semua. Pesannya bukan tentang kekayaan, melainkan tentang kewaspadaan. Dunia tidak sedang baik-baik saja, dan memahami sinyal ini lebih awal adalah langkah pertama untuk bertahan dengan rasional dan bermartabat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!