JAKARTA, MENARA62.COM – Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih belum sepenuhnya stabil membuat sebagian masyarakat masih diliputi kekhawatiran. Situasi tersebut dipicu oleh ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik dunia, serta kondisi ekonomi domestik yang masih berupaya memperkuat diri menghadapi gejolak ekonomi global. Meski demikian, sebagian masyarakat tetap menunjukkan optimisme.
Ketua Majelis Pemberdayaan Wakaf PP Muhammadiyah, Dr. Amirsyah Tambunan, mengatakan bahwa momentum Ramadhan menjelang Idul Fitri memiliki peran penting dalam memulihkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Hal ini terlihat dari keterkaitan erat antara aktivitas ekonomi—seperti pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan—dengan posisi sosial seseorang di tengah masyarakat.
“Momentum Ramadhan dan Idul Fitri biasanya membawa stabilitas dan optimisme baru bagi masyarakat. Aktivitas ekonomi meningkat dan interaksi sosial semakin kuat,” ujar Amirsyah saat dikonfirmasi media terkait persiapan mudik menjelang pekan terakhir Ramadhan, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, fenomena mudik tidak hanya berkaitan dengan perjalanan pulang kampung semata, tetapi juga mencerminkan kondisi taraf hidup, perilaku sosial, serta dinamika ekonomi masyarakat yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan rakyat.
Karena itu, Ramadhan dan Idul Fitri tidak sekadar menjadi siklus tahunan yang memunculkan fenomena sosial ekonomi, tetapi juga menghadirkan peristiwa unik dan masif melalui tradisi mudik. Tradisi pulang ke kampung halaman tersebut bukan hanya perjalanan emosional untuk bertemu keluarga, tetapi juga momentum penguatan spiritual.
Mudik menjadi sarana memperkuat nilai-nilai ibadah sosial, seperti berbagi, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan semangat keberagamaan. Spiritualitas tersebut berkaitan erat dengan sistem keyakinan, ritual, dan praktik keagamaan yang dijalankan masyarakat.
“Kembalinya seseorang ke kampung halaman juga memiliki makna simbolis, yakni menyadarkan manusia bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali ke ‘kampung akhirat’. Kesadaran ini mendorong manusia untuk memperkuat ketaatan dan penghayatan terhadap ajaran agama,” jelasnya.


