30 C
Jakarta

KHGT dan Esensi Puasa

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ceramah Tarawih di Masjid Balai Muhammadiyah, Surakarta, Selasa (24/2/2026), menghadirkan anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Surakarta, Suleman, S.Th.I. Dalam tausiyahnya, ia mengulas penentuan awal puasa menurut Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) serta menegaskan esensi puasa sebagai jalan pengampunan dosa.

Penjelasan Awal Puasa dan Kalender Hijriah

Pada pembukaan ceramah, Suleman menyapa jamaah dan menanyakan sudah berapa hari menjalankan puasa, enam atau tujuh hari. Ia menjelaskan bahwa dalam konsep Muhammadiyah, puasa telah berjalan tujuh hari berdasarkan KHGT.

Menurutnya, KHGT menggunakan standar astronomi global, yakni ketika matahari terbenam dan bulan berada di atas ufuk dengan elevasi minimal 5 derajat sebagai penentu awal bulan Hijriah secara internasional. Ia mencontohkan, jika hilal telah memenuhi kriteria di wilayah seperti Alaska atau Arab Saudi, maka seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah memasuki tanggal baru.

Sementara itu, pemerintah Indonesia menggunakan standar regional dengan elevasi 3 derajat dalam penentuan awal bulan. Perbedaan standar ini menyebabkan kemungkinan perbedaan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah.

Perbedaan Bukan Sumber Perselisihan

Suleman menegaskan, perbedaan penentuan awal puasa bukanlah persoalan besar selama umat konsisten dengan standar yang diyakini. Muhammadiyah menggunakan standar global 5 derajat, sedangkan pemerintah menerapkan standar regional 3 derajat dengan pendekatan rukyat yang lebih konservatif.

“Perbedaan ini memiliki dasar hukum dan astronomi yang sah. Tidak perlu dipersoalkan, yang penting kita konsisten dan saling menghormati,” ujarnya.

Gerhana Bulan dan Penanda Tanggal Hijriah

Dalam ceramahnya, ia juga menyinggung fenomena gerhana bulan yang diperkirakan terjadi pada 3 Maret. Gerhana bulan, jelasnya, terjadi saat purnama, yakni malam ke-14 atau ke-15 bulan Hijriah, yang menjadi salah satu penanda penting dalam sistem penanggalan.

Fenomena astronomi tersebut, kata dia, turut menjadi referensi dalam penyesuaian kalender Hijriah, sekaligus menunjukkan bahwa penentuan awal bulan memiliki landasan ilmiah yang kuat.

Esensi Puasa: Iman dan Pengampunan

Lebih jauh, Suleman menekankan bahwa inti puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membangun iman dan meraih pengampunan Allah Swt. Ia mengutip sabda Nabi bahwa puasa dijalankan atas dasar iman dan mengharap pahala.

Iman, menurutnya, adalah percaya sekaligus mempercayakan seluruh hidup kepada Allah, termasuk dalam menjalankan hukum-hukum-Nya. Dengan iman yang kuat, seseorang akan beribadah secara sungguh-sungguh dan penuh harap.

Ia mengibaratkan orang yang menyelesaikan puasa dengan benar seperti bayi yang baru lahir—bersih dan membawa kebahagiaan. “Puasa adalah proses penyucian diri agar kita kembali bersih dari dosa,” katanya.

Kedekatan Hati Lebih Penting

Suleman juga mengingatkan pentingnya usaha maksimal dalam berpuasa. Ia menyinggung fenomena sikap pasif terhadap ibadah, baik di masjid maupun di rumah.

Menurutnya, jarak fisik ke masjid bukanlah penghalang utama. Yang lebih menentukan adalah kedekatan hati dengan Allah. Ia mencontohkan orang-orang yang rela menempuh perjalanan jauh dan biaya besar demi beribadah di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau Masjidil Aqsa.

“Jika hati dekat dengan Allah, sejauh apa pun jarak akan ditempuh. Sebaliknya, jika hati jauh, masjid yang dekat pun terasa berat,” ujarnya.

Harapan Ramadan

Menutup ceramah, Suleman mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum meningkatkan ketakwaan dan meraih ampunan. Ia berharap puasa dijalankan dengan kesungguhan, keyakinan, serta usaha maksimal.

Ceramah Tarawih ini menjadi pengingat bahwa perbedaan penentuan awal puasa memiliki dasar sah dan tidak perlu memicu perdebatan. Yang terpenting adalah menjaga iman, memperkuat ketakwaan, dan mendekatkan hati kepada Allah Swt. selama bulan suci Ramadan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!