Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*
NEW YORK, MENARA62.COM – Al-Quran adalah Kitab Perunjuk. Walaupun mengandung berbagai hal seperti ilmu pengetahun, hukum, ekonomi, sejarah, bahkan politik dan urusan pemerintahan, Al-Quran bukanlah buku sains, hukum, ekonomi, sejarah, dan lain-lain. Semua aspek/bidang yang menjadi cakupan Al-Quran bermuara ke satu tujuan: menjadi inspirasi petunjuk bagi kehidupan manusia (hudan linnaas).
Salah satu kandungan terbesar Al-Quran adalah sejarah (stories/histories). Dan cerita/sejarah yang ditampilkan dalam Al-Quran dengan panjang lebar dan berulang-ulang adalah kisah nabi Musa, dari masa kecilnya, kelahiran hingga dihanyutkan di sungai Nil, dibesarkan oleh Fir’aun, hingga diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah SWT.
Barangkali ada pertanyaan yang timbul di benak sebagian, kenapa kisah Musa menjadi cerita terpanjang dan berulang kali dalam Al-Quran? Kenapa bukan kisah Adam sebagai manusia pertama dan Bapak dari seluruh manusia? Atau Ibrahim yang dikenal sebagai Abul ambiya (ayah dari banyak nabi)?
Ada beberapa kemungkinan jawaban untuk itu, tiga di antaranya saya sampaikan berikut ini:
Pertama, karena terlepas dari segala isu politik yang ada, identikalitas (kemiripan) antara agama Islam dan Yahudi sangat dekat. Mereka (yang orthodox) masih percaya dengan Tuhan yang satu dan anti kesyirikan. Hal yang mengingatkan saya pernyataan seorang Rabbi Yahudi: “imam, I am allowed to enter and pray in your mosque, but prohibited even to enter into any church”. Ketika saya tanya “kenapa?” Jawabannya: “because your mosque is free from any idol”.
Selain itu, kedua agama ini memiliki hukum dan aturan agama yang tegas dan jelas. Islam menyebutnya Syari’ah. Sementara Yahudi menyebutnya Halacha. Salah satu yang populer adalah di Islam ada hukum halal (halal food misalnya) dan di Yahudi ada hukum kosher (kosher food misalnya).
Kedua, Kedua nabi dan rasul ini, Muhammad dan Musa (alaihimas salam), memiliki kesamaan-kesamaan yang dekat. Keduanya terlahir secara normal dari seorang ayah dan ibu. Keduanya juga memiliki cerita yang dramatis di masa kecilnya. Musa dihanyutkan oleh ibunya lalu dipungut dan dibesarkan oleh istana Fir’aun. Muhammad Ayahnya meninggal sebelum lahir dan ibunya meninggal ketika masih berumur enam tahun. Tapi yang terpenting keduanya adalah Rasul yang membawa Hukum Agama dan memiliki pengikut. Keduanya adalah nabi sekaligus pemimpin umat.
Ketiga, kenyataan bahwa dua umat ini memiliki interaksi yang dekat, baik secara positif dan negatif. Sayangnya memang secara umum hubungan antara kedua umat (Islam dan Yahudi) sangat negatif. Dari interaksi antara Rasulullah/umatnya dan Komunitas Yahudi di Madinah, hingga saat ini yang masih didominasi oleh berbagai konflik global.
Kisah Penyelamatan Bani Israil
Salah satu segmen cerita Nabi Musa dalam Al-Quran adalah kisah penyelamatan Bani Israeli dari perbudakan Fir’aun yang sangat lama. Sebagian catatan mengatakan mereka diperbudak lebih 3000 tahun oleh penguasa tyranny Mesir (Fir’aun), hingga Allah mengutus nabi Musa dan membawa mereka lari keluar dari tanah Mesir. Dalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama) orang Yahudi, kejadian ini lebih dikenal dengan penyebutan “Exodus” yang menjadi nama bab pertama Kitab Suci mereka. Exodus memiliki konotasi exit atau keluar. Maka exodus dipahami sebagai keluarnya Bani Israil dari tanah Mesir dan penjajahan Fir’aun.
Kisah ini disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran, di antaranya Surah kedua ayat 49-50 dan Surah ketujuh ayat 141. Al-Quran memakai kata “najja” dalam artian “menyelamatkan”, merujuk kepada terbebasnya Bani Israil dari penjajahan panjang Fir’aun. Kisah pembebasan itu digambarkan sebagai peristiwa yang menegangkan. Mereka diburu oleh Fir’aun dan pasukannya, hingga tersudutkan karena dihadapan mereka ada laut merah (al-bahr al-ahmar). Mereka seolah terperangkap tanpa jalan keluar.
Dalam situasi yang genting itu, umat Musa sedang diuji keimanannya. Banyak yang lemah dan meminta kepada Musa agar mereka kembali saja ke rumah-rumah mereka jika memang harus mati di tangan Fir’aun. Namun Musa tegar dengan keimananannya dan menjawab: “tidak sekali-kali (kembali ke rumah). Sesungguhnya Tuhanku bersamaku”. Di saat itulah Allah memerintahkan Musa memukul laut dengan tongkatnya (versi Perjanjian Lama: dengan telapak tangannya), tiba-tiba saja lautan itu terbelah dengan 12 jalur jalanan sesuai jumlah suku Bani Israil.
Jujur Dalam Beragama
Saya tidak bermaksud membicarakan peristiwa itu lagi. Selain karena Al-Quran sudah cukup rinci dalam penyampaian, juga telah banyak buku-buku sejarah yang mencatat. Justeru yang ingin saya sampaikan kali ini adalah pentingnya semua umat beragama untuk jujur dengan ajaran dan nilai yang diajarkan oleh agama masing-masing. Al-Quran menekankan bahwa dua karakter dasar Al-Quran “Sidqan wa ‘Adlan” (kejujuran dan keadilan) menjadi fondasi relijiositas seseorang. Beragama tanpa kejujuran adalah pengakuan hampa yang tidak bermakna.
Jika kita lebih mendalami makna dari penyelamatan Bani Israil dari Fir’aun maka esensi terutama yang kita dapatkan adalah “kemerdekaan” (freedom) dan “kemuliaan manusia” (human dignity) adalah hak asasi setiap orang. Penderitaan panjang Bani Israil di bawah kekuasaan Fir’aun adalah peristiwa kelam dalam sejarah kehidupan dan peradaban manusia. Dan karenanya Allah mengutus Musa untuk hadir untuk membawa jalan petunjuk dan keselamatan bagi umatnya (Bani Israil).
Maka di hari-hari di mana Umat Yahudi memperingati penyelamatan atau kebebasan (freedom) Bani Israil dari perbudakan Fir’ain dengan perayaan yang mereka sebut “Passover” (Paskah Yahudi) hendaknya juga mengingatkan mereka bahwa kemerdekaan dan kemuliaan manusia itu adalah hak dasar/asasi setiap orang. Karenanya, di saat mereka memperingati kemerdekaan Bani Israil dengan sukacita dan kegembiraan, hendaknya mereka sadar dan ingat jika kemerdekaan dan kemuliaan adalah semua orang, termasuk bangsa Palestina yang hingga kini masih menderita dengan penjajahan Zionis Israel.
Perayaan Passover (kemerdekaan) tanpa kesadaran universal itu terasa kurang bermakna, bahkan ada indikasi ketidak jujuran dalam beragama. Semoga sadar!
New York City, 4 April 2026
*Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation

