30 C
Jakarta

KKN UMS Edukasi Seks dan Bullying Siswa SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Fakultas Keguruan dan Imu Pengetahuan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan sosialisasi pendidikan seks dan pencegahan di SMA Muhammadiyah 5 Jaten Karanganyar pada Jumat (6/2). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Nur Iman ini menghadirkan pembicara utama, Dr. Handayani Tri Wardani, dari Puskesmas Jaten II.

Ketua KKN-Dik FKIP UMS, Ibrahim Braga, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari kebutuhan mendesak untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang cara menjaga tubuh dan batasan pergaulan serta cara menghadapi tindakan perundungan.

“Sosialisasi ini sangat penting karena membantu siswa memahami batasan diri dan saling menghargai,” terang Ibrahim, Jum’at (27/2).

Dalam kesempatan ini, mahasiswa KKN-Dik UMS mengandeng Puskesmas Jaten II. Menurut Ibrahim, kerja sama dengan pihak Puskesmas Jaten II dipilih karena pihak puskesmas lebih berkompeten dan memiliki pengalaman luas dalam memaparkan materi sesuai kebutuhan remaja saat ini.

Dr. Handayani Tri Wardani, selaku pembicara dalam sosialisasi ini, menekankan pentingnya meluruskan persepsi keliru mengenai pendidikan seks yang selama ini sering dianggap tabu oleh masyarakat.

Menurutnya, sikap tertutup justru berbahaya di tengah bebasnya akses internet saat ini karena mendorong remaja untuk mencari tahu sendiri melalui internet tanpa penyaringan yang benar.

“Zamannya sekarang adalah zaman bebas internet. Kalau anak-anak tidak paham dan hanya mengambil konten-konten yang menurut mereka itu menarik tanpa arahan, itu bisa berdampak buruk bagi mereka ke depannya. Inilah yang harus kita arahkan melalui pendidikan seks sejak dini agar mereka paham risikonya dan tahu rambu-rambunya,” tegas Handayani.

Handayani menjelaskan bahwa terdapat lima poin utama dalam pendidikan seks. Pertama, Body awareness, yaitu mengenali perubahan fisik dan fungsi diri sendiri. Kedua, Batasan tubuh yang tidak boleh dilanggar orang lain (personal boundaries).

Ketiga, Risiko perilaku bebas dengan memberikan gambaran dampak nyata dari pergaulan tanpa kontrol. Keempat, Keamanan digital, yaitu edukasi cara berinteraksi secara aman di dunia maya. Kelima, Membangun hubungan antar manusia yang sehat dan saling menghormati.

Handayani juga menyoroti pencegahan bullying atau perundungan. Ia menekankan pentingnya strategi nyata bagi siswa untuk menghadapi perundungan, mulai dari memahami profil pelaku, dampak dari perundungan, hingga langkah aksi yang harus diambil jika mereka menjadi korban atau saksi. Fokus utamanya adalah membangun budaya positif di sekolah agar perundungan tidak mendapatkan ruang untuk tumbuh.

“Sex education dan bullying seperti ini merupakan salah satu bentuk peran sekolah dalam mencegah perundungan,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, Dr. Handayani merekomendasikan agar pihak sekolah lebih rutin menjalin komunikasi dengan lembaga kesehatan seperti puskesmas untuk memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya metode evaluasi yang lebih ketat di masa mendatang.

“Harusnya ada mekanisme pre-test dan post-test untuk mengukur sejauh mana siswa benar-benar paham sebelum dan sesudah diberikan materi. Harapan kita tidak hanya mereka dengar lalu keluar tidak paham, tetapi mereka benar-benar mengerti, melaksanakan, dan tahu rambu-rambunya dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS berharap agar sosialisasi ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, namun bekal pengetahuan mengenai batasan tubuh dan strategi menghadapi perundungan ini dapat menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan positif. (*).

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!