27.9 C
Jakarta

Mandiri di Atas Kaki Sendiri

Menantikan Deklarasi Partai Gema Bangsa

Baca Juga:

Ada sebuah ironi yang sering kita telan mentah-mentah: kita hidup di atas tanah yang begitu subur, di mana tongkat kayu pun bisa jadi tanaman, namun kita masih sering merasa seperti “peminta-minta” di rumah sendiri. Kita menunggu pembagian bantuan sosial seolah itu adalah hadiah, padahal itu adalah hak yang dikembalikan. Kita menunggu instruksi asing tentang bagaimana mengelola energi kita, seolah kita tidak punya otak dan otot untuk mengelolanya sendiri.

Kemandirian bukan sekadar kata dalam teks proklamasi. Ia adalah kenyataan yang harus ada di saku dan di piring setiap rakyat.

Selama ini, kita terjebak dalam pola pikir bahwa “negara yang kuat” adalah negara dengan pusat kekuasaan yang mahakuasa, yang membagikan bantuan dari atas ke bawah. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang rapuh. Jika bantuan terlambat, kita goyah. Jika harga komoditas global jatuh, kita jatuh miskin. Kita menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki orang lain.

Partai Gema Bangsa ingin memutus rantai ketergantungan ini.

Bagi kami, kemandirian negara adalah hasil penjumlahan dari kemandirian unit-unit terkecilnya. Sebuah negara tidak akan pernah benar-benar merdeka jika desa-desanya masih bergantung pada pasokan pangan dari luar negeri. Sebuah negara tidak akan pernah berdaulat jika setiap kali ada krisis, rakyatnya hanya bisa menengadah tangan menunggu subsidi yang seringkali salah sasaran.

Kemandirian yang kami perjuangkan dimulai dari keberanian untuk berkata: “Kami bisa mengelola ini sendiri.” Ini berarti mendukung petani agar berdaulat atas benih dan pupuknya, bukan menjadi buruh di lahan sendiri. Ini berarti memastikan usaha kecil di lingkungan tetangga menjadi tuan rumah di pasar lokal, bukan sekadar penonton bagi merek-merek raksasa. Ini berarti membangun sistem energi mikro di komunitas-komunitas, sehingga kita tidak lagi disandera oleh ketergantungan energi fosil yang mahal dan merusak.

Berdiri di atas kaki sendiri adalah soal martabat.

Ketika sebuah keluarga mandiri, mereka tidak bisa dibeli dengan sembako saat pemilu. Ketika sebuah komunitas mandiri, mereka tidak bisa ditindas oleh kebijakan yang merugikan. Dan ketika jutaan komunitas di seluruh pelosok nusantara ini mandiri, maka Indonesia akan berdiri tegak tanpa perlu membungkuk-bungkuk pada kepentingan manapun.

Hari ini, kita memilih untuk berhenti menjadi penonton yang pasif. Kita memilih untuk menjadi pelaku yang berdaya. Karena kemerdekaan yang sejati tidak diberikan oleh pemerintah; ia direbut kembali melalui kemandirian kita, mulai dari rumah, dari tetangga, dan dari tanah yang kita pijak.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!