SUMATERA BARAT, MENARA62.COM
Memasuki fase transisi dari tanggapdarurat menuju pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menyelenggarakan Pelatihan Dukungan Psikososial bagi 600 guru dan siswa terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai bagian dari respons lanjutan Muhammadiyah untuk mendukung pemulihan sektor pendidikan dan kesehatan mental anak pascabencana.
Pelatihan ini diselenggarakan melalui kerja sama Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah (LRB) / MDMC dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (PKPLK Kemendikdasmen). Kegiatan ini didukung oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, serta melibatkan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah, yakni Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, dan Universitas Muhammadiyah Aceh (UMAHA) Bireuen, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), serta Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Koordinator Layanan Dukungan Psikososial Posko Nasional Muhammadiyah Respons Bencana Sumatera, Natta Hendriatti, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas murid dan guru dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana, khususnya akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Pada fase transisi menuju pemulihan, anak-anak dan pendidik membutuhkan ruang aman untuk memulihkan kondisi psikososial agar proses belajar dapat kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.
Pelatihan ini bertujuan membantu murid mengenali perasaan dan kecemasan yang muncul setelah bencana, membekali teknik dasar untuk meredakan stres, serta menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak untuk berbagi pengalaman pascabencana. Selain itu, peserta juga didorong untuk menyusun rencana pemulihan yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun hunian sementara.
Bagi para guru, pelatihan difokuskan pada peningkatan pemahaman mengenai dukungan psikososial dalam situasi darurat, penguatan keterampilan dalam mendeteksi gejala psikologis pada murid, serta kemampuan menyediakan ruang aman dan pendampingan yang efektif pada fase pemulihan. Guru juga dibekali untuk menyusun rencana aksi pemulihan guna mendukung keberlanjutan layanan pendidikan di sekolah terdampak.
Pelatihan dukungan psikososial ini dilaksanakan pada 5–16 Januari 2026 dengan menghadirkan narasumber dan fasilitator dari MDMC serta kalangan profesional, antara lain Budi Santoso, S.Psi., M.K.M., Zakarija Achmat, M.Si., Psikolog, Dr. Elisa Kurniadewi, Psikolog, serta Natta Hendriatti, S.Psi., M.Si. Kegiatan ini diikuti oleh 600 peserta yang terdiri dari 200 siswa dan 400 guru dari satuan pendidikan negeri maupun swasta di wilayah terdampak.
Melalui pelatihan ini, MDMC berharap murid memiliki kemampuan untuk mengelola kecemasan dan stres pascabencana serta menyusun rencana pemulihan pribadi yang mendukung kesejahteraan psikososial mereka. Sementara itu, bagi guru, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat peran pendidik sebagai pendamping pemulihan anak, sekaligus memastikan layanan pendidikan tetap berjalan secara aman, ramah anak, dan berkelanjutan pada masa transisi menuju pemulihan.(*)
